MAFIA'S BRIDE (Pengantin Mafia)

MAFIA'S BRIDE (Pengantin Mafia)
Bab 20: Kelemahan Mafia


Kelemahan Mafia


“Sedang apa kalian?”


Suara Orlando terdengar di antara percakapan Meryn dengan Paulo. Kedua manusia itu spontan menoleh ke arah kedatangan Orlando yang menatap mereka penuh curiga.


Secara otomatis Meryn melangkah menjauhi Paulo, mendekat ke arah kedatangan Orlando. Wanita itu memicingkan kedua matanya menatap lelaki itu.


“Tidak seharusnya kau ada di sini dengan darah yang masih bercucuran seperti itu,” tukas Orlando sambil melirik ke arah punggung tangan Meryn yang rupanya masih mencucurkan darah. Bekas masuknya selang infus itu membuat Meryn tampak menyedihkan.


“Harusnya aku memang tidak ada di pulau ini,” sahut Meryn.


“Harusnya kau memang ada di sini, di pulau yang dibangun San Dominic, sebagai pengantinku.” Orlando menegaskan. Lelaki itu melepaskan jaket tebalnya yang terbuat dari bulu domba. Lantas memakaikan jaket hangat itu ke tubuh Meryn yang masih tampak lemah.


Di sisi lain Meryn hanya bergeming mendapati perlakuan Orlando yang hangat ini. Lebih dari lima belas menit ia berdiri di atap bersama Paulo dan lelaki itu sama sekali tak peka melihat tubuh Meryn menggigil. Sementara Orlando melihat Meryn tidak lebih dari semenit dan langsung memberikan jaket hangatnya. Meryn tahu bahwa Orlando memang lelaki yang gentle, dan baginya itu berbahaya. Sebab, sikap gentle seorang lelaki bisa membuat hati Meryn luluh, seperti bagaimana Henry meluluhkannya setahun yang lalu.


“Kembalilah ke kamar. Perawat akan memasang kembali infus untukmu,” ucap Orlando memerintah.


“Aku tidak butuh infus.”


“Jangan mengelak. Kau butuh infus.” Orlando menegaskan cara bicaranya. Ia menatap lekat ke arah mata Meryn, menunjukkan dominasinya.


Tangan Orlando terangkat ke wajah Meryn. Ia membelai pipi wanita itu dengan lembut. “Wajahmu sangat dingin,” desusnya pelan. Dengan lembut Orlando merapikan helaian rambut Meryn yang tertiup angin dingin dari arah laut. “Masuklah dulu, nanti aku menyusul.”


Tanpa disadari wajah Meryn bersemu merah. Untuk apa Orlando nanti mau menyusulnya ke kamar? Jangan-jangan ...?


Sebelum imajinasi Meryn semakin liar, wanita itu langsung memalingkan wajahnya. Ia pergi meninggalkan kedua lelaki itu di atap bangunan yang dingin.


Sekepergian Meryn, Orlando berjalan mendekati Paulo yang masih asik menikmati rokok malamnya sambil memandangi lautan yang gelap dan hampa.


“Apa yang Meryn tanyakan padamu?” tanya Orlando tanpa mengalihkan pandang dari lautan bebas yang membentang luas di hadapannya.


“Soal kematian Luca.”


“Terus? Kamu jawab apa?” Orlando menyahut.


“Saya jawab yang sejujurnya. Bahwa Luca dibunuh oleh John Patrizia.”


“Terus?”


“Dia tidak bertanya lagi.” Paulo menjawab pasti.


Kepala Orlando mengangguk-angguk.


“Dia tipikal wanita yang pantang menyerah dan keras kepala. Aku sangat yakin dia akan terus menggali dan mencari tahu soal kematian ayah kandungnya. Sampai dia tahu kebenaran soal kematian Luca, Meryn sudah harus menikah denganku.” Orlando berbicara, seperti sebuah peringatan.


“Anda yakin mau menikah dengan dia, Bos?” tanya Paulo meyakinkan.


Orlando menoleh. Ia menatap Paulo serius.


“Aku sudah sejauh ini untuk mendapatkannya. Aku juga sudah kehilangan banyak hal untuk mendapatkannya. Aku harus mendapatkan Meryn apa pun yang terjadi,” ucap tegas Orlando.


“Kalau pun Anda berhasil menikah dengan Nyonya Meryn, tapi dia tidak mencintai Anda, apa Anda yakin akan bahagia? Anda tahu, segala sesuatu yang dilandasi keterpaksaan tidak akan membuahkan hasil yang baik,” kata Paulo.


“Bahagia atau tidak, aku hanya ingin menjadikan Meryn milikku seutuhnya. Apa pun risikonya.”


Orlando terdiam. Matanya tampak bergetar sesaat sebelum mengalihkan pandangan dari Paulo.


Keadaan menjadi hening setelahnya. Orlando diam tanpa kata terngiang-ngiang peringatan Paulo. Melihat Meryn yang bahkan malam ini masih ingin kabur dari kastel, tidak mungkin wanita itu akan bahagia jika menikah dengan Orlando. Tidak mungkin.


Paulo menjatuhkan rokoknya yang tinggal seinci. Lalu menginjak rokok itu untuk memadamkan apinya. Lantas ia mematikan musik klasik yang sejak tadi mengalun dari gawai.


“Obsesi seringkali membuat seseorang terjerumus. Saya hanya tidak ingin Bos Besar memiliki nasip seperti Bos Tua, dan juga De Luca. Mereka berdua meninggal karena obsesinya pada seorang wanita. Saya tidak ingin hal serupa terjadi pada Anda, Bos.” Paulo berkata, lalu ia pamit pergi meninggalkan Orlando seorang diri di atap.


Berada sendirian di atap kastel itu membuat Orlando banyak merenung. Cinta adalah kelemahan terbesar seorang bos mafia. San Dominic, maupun De Luca, kedua-duanya sama-sama hancur karena obsesinya pada seorang wanita. Dan obsesi itu kini menurun pada Orlando. Orlando mencintai Meryn, terobsesi kepadanya.


Melibatkan wanita dalam urusan seorang mafia adalah masalah besar. Orlando tengah terlibat dalam permasalahan itu. Belum lagi, hatinya yang kejam sebagai seorang mafia itu menjadi begitu lunak di hadapan seorang wanita yang ia cintai. Itu adalah kelemahan terbesarnya selama ini. Kelemahan yang barangkali ia warisi dari ayahnya, San Dominic, yang juga terobsesi pada seorang wanita.


Sepuluh menit kemudian Orlando memutuskan untuk meninggalkan atap setelah beberapa saat merenung. Sebetulnya itu adalah hal yang percuma. Sebab tidak peduli seberapa lama ia merenung, ia tetap tak bisa menghilangkan obsesinya pada Meryn. Ia tak akan bisa melepaskan wanita yang sejak dulu telah mengisi banyak kekosongan dalam jiwanya. Gadis kecil yang selalu muncul dalam mimpinya itu kini telah dewasa, dan ada tepat di depan matanya. Bagaimana mungkin Orlando bisa melepaskan Meryn hanya karena rasa takutnya akan kehancuran?


Di depan matanya, Meryn sedang terbaring di atas kasur. Pembuluh darah Meryn kembali dialiri oleh cairan infus yang baru saja dipasang oleh seorang perawat. Saat Orlando datang, perawat itu baru saja menyuntikkan beberapa obat kepada Meryn lewat selang infusnya.


Melihat kedatangan Orlando, perawat itu segera menyelesaikan pekerjaannya dan berjalan keluar meninggalkan kamar tidur Meryn. Orlando pun mengunci pintu kamar Meryn dari dalam. Menatap ke arah Meryn yang memandangi kedatangannya tanpa kata.


“Kenapa kau masuk ke sini?” tanya Meryn setelah Orlando semakin dekat ke arah ranjangnya.


“Tadi aku sudah bilang, aku akan temani kamu malam ini.” Orlando melepaskan aksesoris yang melekat di tubuhnya. Melepas jam tangan, gawai, dan earphone. Meletakkan aksesoris itu ke atas meja nakas Meryn. Lantas ikut naik ke atas ranjang Meryn, yang seketika membuat Meryn menggugup. Meryn spontan menaikkan selimutnya sampai ke leher.


“Kenapa kau malu-malu begitu? Tidak ingat tadi siang kita ngapain?” tanya Orlando sambil terkekeh kecil melihat Meryn yang wajahnya tersipu. Wanita itu sangat aneh, batin Orlando. Padahal siang tadi mereka sudah melakukan sesuatu yang membuat Meryn mendesah tanpa henti. Kenapa sekarang dia bersikap seolah-oleh belum disentuh oleh Orlando? Tanpa disadari, sikapnya itu membuat Orlando makin bergairah.


“I-itu kan ta-tadi!” celetuk Meryn tergagap-gagap. Ia menyembunyikan dagunya di balik selimut saat Orlando merangkak naik mendekati tubuhnya. Spontan, wajah Meryn yang bersemu itu melengos. “Tadi kesadaranku belum sepenuhnya kembali. Otakku belum benar-benar waras,” imbuhnya gugup.


Orlando tersenyum gemas melihat wajah Meryn yang memerah. Apalagi gelagatnya yang sok-sokan gugup.


“Apa setelah org*sme kesadaranmu sudah kembali utuh?” tanya Orlando jahil. Ia telah terbaring sejajar dengan tubuh Meryn. Tubuhnya berada tepat di atas tubuh Meryn, melihat wajah Meryn yang semakin gugup.


“Or-orga*sme? Kapan? Aku?” cetus Meryn.


“Ya. Tadi kamu ... kan?” desak Orlando.


“Bagaimana seorang lelaki bisa tau wanita mencapai ******* atau tidak?!”


Orlando terkekeh-kekeh. Meryn yang tersipu itu membuat sisi buasnya hampir lepas.


“Aku melihatmu ... squirt,” bisik Orlando. Lalu ia menurunkan wajahnya ke telinga Meryn dan lanjut berbisik. “Di dalam mulutku.”


Bayangkan betapa malunya Meryn saat ini! Bagaimana bisa lelaki itu begitu jujur di depan Meryn? Kalau pun Meryn benar merasakan 'itu', kenapa juga dia harus sejujur itu? Dasar tidak peka!


Geram, Meryn mengeluarkan kepalannya dari balik selimut dan langsung meninju perut Orlando. Orlando seketika jatuh terguling di sebelahnya.


“Aku kira kau seorang gentleman! Ternyata kau suka mempermalukan seorang wanita,” rutuk Meryn.


Orlando mengernyit sambil kembali mendekati tubuh Meryn. Ia melihat wajah Meryn yang kini cemberut.


“Kenapa kamu menganggap itu memalukan? Aku bahkan bisa dengan bangga mengatakan kamu membuatku merasakan ******* yang dahsyat! Kenapa kamu tidak mau mengakui kalau tadi aku juga sudah membuatku merasakan hal yang sama?” protes Orlando melihat sikap Meryn yang membingungkan seperti ini.


Meryn terdiam. Wanita itu tampak berpikir panjang. Lalu ia menatap wajah Orlando yang berada tepat di depan wajahnya.


“I want you to kiss my lips,” ucap Meryn, memerintah.