
The Truth
“What? Jadi kamu diculik sama mafia yang sudah menghancurkan pesta pernikahanmu?”
Jessica menceletuk kaget seketika mendengar cerita Meryn tentang di mana keberadaannya setelah hilang dari pesta pernikahannya hari itu.
Mereka sedang ada di dalam sebuah bilik spa. Sedang menerima pijatan punggung di atas meja masing-masing. Surah payah Meryn masuk ke dalam tempat spa itu karena dua pengawal Orlando memaksakan diri untuk ikut masuk ke kamar spa. Untung saja pihak pengelola tidak mengizinkan ada pengawal masuk karena bisa mengganggu pelanggan yang lain. Dan akhirnya Meryn bisa masuk dengan tenang dengan dua pengawalnya yang hanya bisa menunggu di luar pintu masuk.
“Aku merasa hidupku sudah dikutuk. Apa sebenarnya dosa yang sudah aku lakukan? Pernikahanku hancur. Keluargaku dibunuh, suamiku juga dibunuh. Dan aku menjadi tawanan mafia sampai saat ini. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di hidupku, Jess. Aku juga nggak bisa lepas darinya dengan mudah.” Meryn bercerita seperti mengeluh.
Setelah sekian lama stres dan nyaris frustasi, badan Meryn sedikit lebih rileks karena mendapat pijatan spa yang tidak ia dapat ketika ada di kastel. Ia merasa jauh lebih baik sekarang, dibanding beberapa waktu yang lalu, ketika mau tidur pun tidak jenak gara-gara mafia brengsek itu.
“Apa yang terjadi di keluarga besarku, Jess? Kenapa mereka tidak mencariku?” tanya Meryn setelah ingat sesuatu.
“Itu yang ingin aku bilang ke kamu, Meryn.” Jessica, sahabat Meryn sejak SMP hendak bercerita tentang situasi selepas pernikahan Meryn hancur dan ia dibawa kabur oleh sekelompok mafia.
“Apa yang terjadi?”
“Begitu ayah dan ibumu meninggal, timbul konflik besar di keluargamu. Aku tidak tahu bagaimana detailnya. Tapi dari yang aku amati, kedua pamanmu saling berebut ladang anggur milik keluargamu. Bahkan pabrik wine milik ayahmu sekarang dikuasai oleh keluarga Henry.” Jessica bercerita.
“What?!” Meryn yang kaget seketika memekik. “Mereka tidak ada yang mencariku dan malah sibuk rebutan warisan? Dan me ... mertuaku, mereka malah menguasai pabrik wine milik ayah? Apa mereka sudah gila?”
“Ayah dan ibu mertuamu punya perjanjian dengan ayahmu, Meryn.” Jessica lanjut bercerita. “Setelah kamu hilang di pernikahanmu, aku sangat khawatir. Jadi aku mencarimu ke seluruh tempat. Tapi, nggak sengaja aku dengar ayah dan ibu mertuamu sedang berdebat soal pabril wine milik ayahmu. Mereka bilang, kalau mereka telah membuat perjanjian tertulis dengan ayahmu. Bahwa setelah kalian menikah, pabrik wine ayahmu akan menjadi milikmu dengan Henry, dan sebagai gantinya, ayahmu akan memiliki saham empat puluh persen di bisnis restoran keluarga Henry. Aku juga kaget ketika mendengar ternyata Henry dan keluarganya sudah mengincar pabrik wine milik keluargamu.”
Tak bisa berkata-kata, Meryn hanya menghela napas. Rupanya benar apa yang dikatakan Orlando, bahwa Henry menikahinya karena memiliki niatan lain. Henry dan keluarganya menginginkan pabrik wine milik ayahnya. Sedangkan ayahnya menginginkan bisnis restoran keluarga Henry. kalau semua itu kebenarannya, berarti pernikahan Meryn dengan Henry memang telah direncanakan sebagai pernikahan bisnis.
“Mereka benar-benar orang licik,” gumam Meryn penuh amarah.
“Ayah ibumu sudah meninggal, Henry sudah meninggal, dan kamu dianggap sudah meninggal, Meryn. Makanya keluarga Henry bisa menguasai pabrik wine milik keluargamu. Dan para pamanmu sedang memperebutkan aset ayahmu yang masih ada: perkebunan anggur, rumah, saham, obligasi, dan bahkan tabungan di bank.”
“Aku belum meninggal. Berarti aku yang berhak menguasai pabrik wine milik ayahku. Dan aku yang berhak menerima semua aset serta warisan yang ditinggalkan ayah dan ibu.” Meryn menceletuk penuh tekad.
“Masalahnya....”
Ucapan Jassica yang ragu-ragu itu membuat Meryn langsung menoleh. Ia melirik ke arah Jessica yang tampak ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.
“Apa?”
Jessica terbangun dari tempat tidur spa. Ia menghadap tubuh Meryn dan menatapnya penuh iba.
Kening Meryn mengernyit. Ia pun seketika bangun dari tidurnya.
“Apa maksudmu? Kenapa aku bukan termasuk ahli waris? Aku anak tunggal di keluarga Patrizia.”
Sewaktu mengucapkan itu, Meryn teringat akan kata-kata Orlando sebelumnya. Tentang seorang penghianat yang menculik anak gadis milik teman baiknya. Dan kemudian menjadikan anak gadis itu sebagai tawanan untuk kepentingan bisnis.
Tubuh Meryn seketika mendingin. Jantungnya berdetak was was. Mulut dan tenggorokan Meryn menjadi kering membayangkan skenario paling masuk akal untuk semua kejadian yang ia hadapi. Dan tentang ucapan Orlando malam itu.
Saat Meryn masih diam membeku memikirkan skenario paling masuk akal, Jessica bergumam pelan.
“Kamu ... bukan anak kandung ayahmu, Meryn. Itu yang aku dengar dari pengacara keluargamu.”
Terjawab sudah semua tanda tanya dan keraguan yang bergumul di benak Meryn. Dugaannya benar. Akhirnya semua teka teki rumit itu terpecahkan oleh informasi yang ia dapat dari sahabat dekatnya. Benar kata Orlando. Ayah ibunya memang pantas dibunuh!
Kemarahan merambat pasti ke seluruh tubuh Meryn. Sekarang sudah tejawab bahwa John Patrizia bukanlah ayah kandungnya. Lantas selanjutnya yang harus ia cari tahu adalah siapa ayah kandungnya dan dari mana sebenarnya ia berasal.
Jessica turun dari tempat tidur spa. Ia mendatangi Meryn di tempat tidur spanya. Lalu memeluk sahabat yang sudah seperti saudaranya itu.
“Aku berharap kamu hati-hati sama pamanmu, Meryn. Mereka semua sudah menganggapmu mati. Kalau kamu muncul tiba-tiba di rumah ayahmu, mereka akan berusaha menyingkirkanmu. Aku khawatir, Meryn.” Jessica berkata penuh simpati.
“Tidak ada alasan mereka membunuhku, Jess. Aku bukan ahli waris ayah. Mereka tahu aku tidak akan bisa menang. Mereka tidak akan mengotori tangan mereka dengan membunuhku, karena aku sudah pasti kalah.” Meryn berkata dengan rasional.
Tak lama kemudian seluruh ruangan di tempat spa itu mati lampu. Dua pegawai spa yang belum selesai memijat Meyrn dan Jessica lantas keluar untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.
“Kenapa tiba-tiba mati lampu?” desus Meryn pelan.
Tak lama kemudian terdengar pengumuman dari speaker ruangan.
‘Mohon perhatian untuk para pelanggan. Kami informasikan bahwa saat ini ada korsleting listrik di pusat bangunan dan sedang ditangani oleh tim teknisi kami. Mohon menunggu sejenak dan kami sampaikan maaf yang sebesar-besarnya. Kami juga menghimbau untuk para pelanggan supaya tidak meninggalkan tempat masing-masing karena permasalahan ini sedang kami tangani dengan baik. Sekali lagi kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan saya sampaikan terima kasih.’
“Kenapa ini? Dulu nggak pernah ada kejadian kayak gini.” Di sisi lain, Jessica yang telah kembali ke tempat tidur spanya menggumam pelan.
Sedangkan Meryn yang kembali dipusingkan oleh semua fakta yang baru saja dikonfirmasi oleh sahabatnya, kembali menidurkan tubuhnya di atas meja spa. Ia tidur tengkurap untuk bersiap kembali dipijat saat masalah teknis sudah ditangani dan dia pegawai yang memijatnya kembali.
Mata Meryn mulai terpejam karena ia mulai ngantuk. Dan tiba-tiba ia merasakan sebuah jarum suntik menusuk lehernya. Ruangan begitu gelap sehingga ia tidak bisa melihat apa-apa. Setelahnya, ia tak sadarkan diri. Di dalam ruangan itu hanya ada ia dan Jessica. Lalu masuk empat orang lelaki berbadan kekar yang datang untuk membawa tubuh Meryn.
*