
Consigliere
Malam itu Meryn bangun dari ranjang tidurnya. Ia melepas selang infus dalam sekali tarikan yang menyebabkan darahnya mencucur keluar lewat lubang bekas suntikan. Tapi tak mengapa. Ia langsung membungkus tangannya dengan beberapa helai tisu untuk menghentikan perdarahannya.
Ada begitu banyak teka-teki yang membuat tidurnya tak pernah bisa nyenyak lagi. Belum lagi dirinya yang didesak untuk segera menikah dengan Orlando. Memang seharusnya Meryn menikah dengan Orlando setelah janji yang ia buat hari itu. Tapi ia rasa waktu ini tidak tepat. Begitu banyak tanda tanya di kepala Meryn yang harus ia pecahkan sebelum ia menikah dengan mafia itu.
Kastel Dominic begitu gelap malam ini. Ia tak yakin sekarang pukul berapa, tapi kesunyiannya cukup memperlihatkan sepertinya sedang dini hari. Sekitar pukul dua malam. Meryn berjalan keluar meninggalkan kamar tidurnya, menuju atap bangunan untuk mencari helikopter.
Alih-alih melihat helikopter di atap gedung, Meryn justru melihat Paulo yang sedang asik merokok ditemani alunan musik klasik dari gawainya. Lelaki itu tak terkejut melihat kedatangan Meryn, seperti sudah menduga malam ini Meryn akan berusaha kabur.
“Setelah landasan udara di sana dibuka, Bos Besar udah nggak pakai helikopter lagi.” Lelaki itu berkata seolah tahu pertanyaan yang ada di kepala Meryn.
Meryn mengernyitkan kening. “Landasan udara? Di pulau ini juga ada landasan udara?” tanyanya bingung sembari berjalan mendekat ke arah Paulo. Ia mencium aroma asap tembakau yang merembes dari bibir Paulo.
“Ada, tapi ditutup sejak Bos Tua meninggal. Sejak saat itu Bos Besar tidak mau lagi menggunakan pesawat karena pesawat lebih mudah dibajak,” jelas Paulo sambil menatap lurus hamparan laut yang sedang memperlihatkan kegilaan arusnya. Angin laur berembus begitu kencang. Cukup dingin untuk Meryn yang hanya menggunakan piama tipis malam ini.
Paulo menengok ke arah Meryn. Ia menambahkan. “Bos Tua, hm, maksud saya, Tuan San Dominic, meninggal dalam kecelakaan pesawat seketika lepas landas dari Milan. Makanya Bos Besar hanya mau menggunakan helikopter buat pergi ke mana-mana. Karena keamanan helikopter jauh lebih ketat dibanding pesawat yang rawan bajak. Tapi ....”
“Dia mulai menggunakan pesawat terbang lagi?” Meryn menyahut.
“Karena Anda.”
“Aku tidak pernah minta dia membawaku ke sini lagi.” Meryn menimpali.
“Percaya atau tidak percaya, pulai ini adalah tempat yang sangat aman untuk Anda, Nyonya. Javer kali ini tidak akan membiarkan Anda hidup lagi,” ucap Paulo.
Meryn bertambah bingung. “Bukannya urusan Orlando dengan Javer sudah selesai hari itu? Dia sudah menyerahkan kasinonya, bukan?” desaknya.
“Ya. Bos Besar sudah menyerahkan kasinonya di atas kertas. Tapi hari itu juga, sewaktu wanita itu tiba-tiba muncul dan menembak Anda, Bos Besar sangat marah. Bom yang kami pasang di bangunan itu rencananya hanya untuk menakut-nakuti Javer supaya tidak macam-macam dengan Anda, tapi setelah penembakan terjadi, Bos Besar sangat murka. Hari itu juga bangunan atas gedung prostitusi milik Javer meledak. Satu minggu kemudian Bos Besar kembali melakukan negoisasi dengan Javer dan akhirnya Kasino itu kembali ke keluarga Dominic.”
Mendengar cerita panjang Paulo tentang rentetan peristiwa yang tidak Meryn ketahui hari itu, Meryn menghela napas panjang-panjang. Ia amat tercengang. Gara-gara dirinya, sebuah bangunan meledak. Dalam hati Meryn bertanya-tanya apakah dirinya sedang mendapat kutukan karena terus terlibat dengan mafia kejam seperti mereka; tanpa mengabaikan fakta bahwa dirinya sendiri juga anak seorang mafia kejam.
“Begitu ya cara kerja mafia seperti kalian,” gumam Meryn keheranan.
“Bos Besar sudah berhasil mendapatkan kasinonya kembali. Tapi di sisi lain konflik antara kelompok Dominic dan Javer menjadi semakin intens. Anda tidak akan aman lagi kalau kembali ke Milan. Anda harus tetap di sini, paling tidak setelah konflik antara dua keluarga mafia itu mulai mereda.” Paulo mengimbuhkan.
“Maksudmu, aku harus tetap terkurung di tempat ini?”
“Bos Besar hanya ingin yang terbaik untuk Anda, demi keselamatan Anda, Nyonya.”
“Demi keegoisannya.” Meryn mengoreksi kata-kata Paulo.
Kalau lelaki kepercayaan mafia sudah berkata demikian, berarti memang Meryn tidak akan bisa kabur dari tempat ini. Ia tidak akan bisa kabur dari pernikahannya dengan Orlando.
“Paulo,” panggil Meryn.
“Ya, Nyonya?”
“Seberapa besar aku bisa percaya padamu?” tanya Meryn. Sambil menahan embusan angin laut yang dingin, wanita itu berjalan mendekat ke arah Paulo. Melihatnya tajam-tajam.
“Sebesar jabatan saya sebagai consigliere. Anda tau, kan? Seperti apa posisi sebagai consigliere?”
Dalam dunia permafiaan, posisi sebagai consigliere amat diagungkan. Consigliere adalah tangan kanan seorang bos mafia, yang menjadi garda terdepan urusan bisnis mafia maupun konflik. Tidak mudah menjadi consigliere. Apalagi jika dipekerjakan turun temurun dari generasi sebelumnya.
Lelaki itu tahu dengan pasti bagaimana Orlando jatuh dalam perangkap demi perangkap yang Meryn buat sampai akhirnya situasi tidak terhindarkan ini terjadi. Sejak penyerangan di pernikahan itu, Paulo sudah melihat obsesi yang begitu besar dalam diri Orlando terhadap Meryn. Obsesi merupakan hal yang paling buas, yang berpotensi menjadi bumerang untuk diri sendiri. Dan Paulo merasa tugasnya kini semakin berat semenjak kedatangan Meryn. Karena Meryn selalu membuat Orlando kehilangan kontrol.
Meryn tersenyum sinis. Ia menatap lelaki empat puluh tahun itu dengan seringainya. Langkahnya berangsur semakin dekat. Tangan kiri Meryn menarik dasi yang menggantung di leher Paulo.
“Kau tidak pernah punya wanita ya?” tanya Meryn penuh goda.
“Hidup saya telah saya dedikasikan untuk melayani keluarga mafia. Itulah bagaimana saya bertahan hidup.” Paulo menjawab tajam.
Sorot mata Meryn jatuh tepat di tempat persembunyiannya ‘senjata’ buas yang dimiliki setiap lelaki. Meryn melirik ke arah ************ kaki Paulo.
“Jadi ‘itu’ mu belum pernah dipuaskan?” lanjut Meryn.
“Anda sudah lancang, Nyonya.”
Meryn menarik dasi Paulo dan seketika membuat lelaki itu menjulurkan tubuhnya ke arah Meryn. Dalam posisi itu Meryn membisikkan sesuatu di telinga Paulo.
“Mulailah berkencan, Tuan Consigliere. Jangan biarkan usiamu terbuang sia-sia cuman buat melayani keluarga mafia. Kau juga harus tau bagaimana cara menikmati hidup.”
Setelah membisikkan kalimat itu Meryn melepaskan dasi Paulo. Spontan tubuh Paulo memundur. Ia menatap Meryn sambil mengernyitkan kening, bingung apa yang sebenarnya Meryn pikirkan dengan mengatakan semua kalimat yang terdengar ambigu.
“Aku punya pertanyaan terakhir untukmu,” ucap Meryn.
Setelah mengatur napas Paulo kembali menghisap rokoknya. Ia menoleh ke arah laut untuk menghindari tatapan Meryn.
“Tanyakan saja pada Bos Besar, jangan kepada saya.”
“Siapa yang membunuh ayahku?” Meryn mendesak. Pertanyaannya spontan membuat Paulo kembali menoleh.
“Bos Besar ... di altar pernikahan Anda.”
Jantung Meryn nyaris saja copot mendengar bahwa Orlando yang membunuh ayahnya. Tapi mendengar lanjutan jawaban Paulo membuat Meryn menghembuskan napas panjang. Semacam rasa lega.
“Bukan John Patrizia yang aku maksud,” tukas Meryn.
“Siapa ayah Anda kalau bukan John ...?” Sesaat kemudian Paulo baru mengerti. Kepalanya mengangguk-angguk. “Ah, maksudnya, Luca?”
“Ya. Siapa yang membunuh ayahku?” Meryn tanya mengulangi.
“Ayahmu.” Paulo menjawab pasti.
Kening Meryn mengernyit. Apa maksudnya yang membunuh ayahnya adalah ayahnya sendiri? Meryn tidak mengerti. Sampai beberapa waktu kemudian ia baru memahami jawaban singkat Paulo.
“Jadi, ayah angkatku, John Patrizia yang membunuh ayah kandungku? Lalu dia membawaku dan mengangkatku sebagai anak untuk kepentingannya?” Meryn membuat kesimpulan.
Paulo mengangguk.
“Seperti itulah yang terjadi.”
*