Maafkan Aku Alya

Maafkan Aku Alya
bab 9


Saat istirahat sekolah Alya dan Raisa berada di kantin sedang memesan bakso. Raisa yang tadi pagi melihat Alya berangkat dengan Sean menjadi khawatir dengan Alya karena Raisa tahu seperti apa Sean di luaran sana karena Kakak Raisa adalah teman satu geng motor dengan Sean jadi bisa di pastikan kalau Kakaknya Raisa tahu semuanya tentang Sean.


Rasa penasaran itu membuat Raisa harus memastikan sendiri ada hubungan apa antara Alya dan Sean.


"Al boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa sa, katakanlah."


"Ada hubungan apa kamu dan kak Sean kalau aku boleh tahu?"


"Kami tak ada hubungan apa-apa sa, kami hanya berteman saja. "


"Tapi sepertinya kak Sean ada rasa deh sama kamu."


"Aku g tahu sa, dan g ingin tahu."


"Al aku harap kamu bisa jaga jarak dengan kak Sean, bukannya apa-apa Al aku hanya takut kamu di permainkan saja. Secara kak Sean adalah seorang playboy yang gemar gonta-ganti pasangan. Aku g mau kamu kenapa-kenapa, sebagai seorang sahabat aku ingin yang terbaik untuk mu. Aku bicara seperti ini karena kak Indra teman satu geng dengan kak Sean."


"Kamu tenang saja ya sa, aku akan berusaha untuk menghindari kak Sean. Makasih untuk nasehatnya kamu teman terbaik ku."


"Sama-sama Al, you as best friend forever."


Alya tersenyum mendengar ucapan Raisa. Mereka berdua menikmati bakso yang baru datang di antarkan oleh pelayan kantin.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sean sudah berada di depan sekolah menunggu Alya keluar. Sean sengaja menunggu Alya karena tadi sudah memberitahu Alya bahwa siang ini Sean ingin mengajaknya ke suatu tempat. Awalnya Alya menolaknya namun Sean mengancam akan bilang kepada ibu Alya jika mereka berpacaran, Sean tahu jika Alya tak di berikan izin oleh kedua orang tuanya untuk berpacaran sebab itu Sean menjadikan kelemahan Alya sebagai ancaman.


Sean sengaja tak mengikuti jam kuliah terakhir karena ingin pergi bersama Alya.


tak butuh waktu lama akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Alya berjalan menuju ke arah Sean berada lalu naik ke atas motor sport Sean setelah mengunakan helm yang di sodorkan oleh Sean.


Mereka pergi ke suatu tempat dimana tempat itu cukup indah, Sean mengajak Alya pergi ke pantai. turun dari motor lalu mengajak Alya berjalan-jalan di sekitar pantai tersebut


"Al kenapa sih sepertinya kamu menghindari aku, apa aku ada salah sama kamu?"


"G deh kak, aku biasa saja. Mungkin hanya perasaan kakak saja kali."


"Masak si, tapi aku ngerasa kamu g seperti dulu pas pertama kali kenal Al. Sekarang kamu beda, aku tahu mungkin kita kenal baru beberapa Minggu ini tapi jujur jika kamu cuek dan menghindar itu membuat aku resah rasanya. Al jika ada sesuatu yang membuat kamu tak nyaman dengan diriku tolong kasih tahu aku."


"hemm."


Mereka berdua memutuskan duduk di pinggir pantai melihat hamparan air yang terlihat biru dan indah.


"Al jika ada seorang pemuda suka sama kamu apa kamu mau berpacaran dengannya?"


"Ya kan bisa diam-diam Al, cukup kalian berdua yang tahu."


"Entahlah kak, aku tak ingin memikirkan hal itu. Bagiku sekarang adalah hanya sekolah dengan benar dan bisa berprestasi."


"Kalau begitu tolong jangan menjauhi aku atau pun menghindari ku, bersikaplah seperti pertama kali saling mengenal. Oke."


"Maaf kak aku g bisa janji kan itu."


"Kenapa?"


"Bukankah kakak memiliki kekasih? Jadi sebaiknya kakak bersamanya bukan malah terus-terusan bersama dengan ku, aku g mau jadi pihak ke 3 di antara hubungan orang lain."


"Hahaha kamu lucu sekali Al, siapa yang punya pacar. Aku masih singel dan aku selalu ingin bersamamu karena aku suka sama kamu."


"Jangan berbohong kak."


"Buat apa aku berbohong Al, beneran aku suka sama kamu. Kamu perlu bukti seperti apa biar kamu percaya kalau aku suka dan cinta sama kamu?"


"Entahlah, aku tak ada niatan berpikir ke arah sana."


"Tapi setidaknya kau bisa mencobanya Al."


"Kedua orang tua ku tak mengizinkan nya Kak, jadi ku rasa itu tak mungkin."


"Tapi kan kamu bisa mencobanya."


"Kak aku ingin pulang takut ibu ku mencari ku." ucap Alya berdiri dari duduknya di pinggir pantai sambil membersihkan bokongnya dari pasir. Sean juga ikut berdiri.


"Baiklah, ayo kita pulang."


Mereka berjalan beriringan menuju motornya.


"Al besok aku jemput ya? Kita berangkat bersama."


"Tapi Kak.."


"G ada tapi-tapian Al, pokoknya harus mau."


"Terserah deh, nolak juga percuma."


"Hahahaha kamu beneran lucu, imut pas lagi kesal begitu."


Mereka berjalan beriringan menuju parkiran motor.