
Thalia dan Ardi berpisah di parkiran mobil. Thalia menolak tawaran Ardi untuk mampir ke restoran terdekat. Ia hanya ingin beristirahat. Tubuhnya lelah seharian berada diluar rumah apalagi harus menghadapi lusinan pertanyaan dari pihak kepolisian tadi cukup membuat harinya buruk.
Kemacetan mulai terjadi di depan Thalia, rasa rindu pada Erick kembali memanggil Thalia. Ia mengirimkan pesan singkat sambil menunggu kemacetan terurai.
"Miss u."
"Me too, lagi ngapain?"
"Lagi di jalan, mau pulang."
"Ya dah nti lagi aja kalo dah di rumah."
"Oke."
Thalia meletakkan ponselnya kembali, untungnya kemacetan itu tidak berlangsung lama Thalia bisa segera melanjutkan perjalanan dan tiba dirumah sebelum adzan Maghrib berkumandang.
...----------------...
Malamnya Thalia teringat akan novel perdananya. Ia membuka aplikasi dan melihat bab pertama nya yang telah lolos review dan siap terbit besok pagi.
Wah sampai lupa kalo sekarang punya tanggung jawab baru buat nulis. Gimana ya responnya jangan-jangan nggak ada yang baca lagi?!
Tiba-tiba saja ia memikirkan Erick dan pada saat yang bersamaan, dijam yang sama mereka mengirimkan pesan.
"I Miss you."
"I Miss you."
Pesan terkirim tepat di jam 19.20
Keduanya sama-sama terkejut. Thalia kembali merasakan sesuatu yang aneh menyerangnya.
"Wow … amazing!"
"In same time?!"
( Diwaktu yang sama?!)
"Yes, tadi mungkin ketemuan di jalan dulu jadi samaan." jawab Erick dengan emoticon lucu.
Thalia tertawa membacanya, ia merasakan ikatan itu semakin kuat terasa.
"Maybe … udah makan?"
"Sore udah, malam belum."
"Jangan lupa makan, nanti kurus lho." Thalia mengingatkan Erick.
"Nggak ngaruh mau makan banyak apa nggak tetap saja badan saya segini."
"Kok sama aja, saya juga gitu. Cuma sekarang lagi turun aja."
"Kenapa?"
"You asking why? Karena kamulah!" jawab Thalia.
(Kamu nanya kenapa?)
"???"
"Kenalan sama kamu tuh bikin nyiksa, saya sama sekali nggak bisa nelan makanan sedikitpun padahal lapar. Saya cuma bisa minum aja sama ngemil dikit." Thalia kemudian menjelaskan yang ia alami sejak membaca novel karya Erick.
Sesuatu membuat Thalia benar-benar kehilangan nafsu makannya. Dan itu terjadi sekitar seminggu di awal mengenal Erick. Berat badannya yang semula berada di angka 55 kilogram turun drastis menjadi 52 kilogram. Erick pun terkejut.
"Eh kok bisa gitu, saya kan nggak ngapa-ngapain kamu lho?!" tanyanya
"Kamu memang nggak ngapa-ngapain saya tapi sesuatu yang ada di badan kita berdua yang bikin saya begini." jawab Thalia.
Erick terdiam dan Thalia menunggu Erick membalas, " Makan dulu, ntar kamu sakit."
"Nanti deh. Erick, kita harus bicara."
"Sepertinya begitu." jawabnya
"Apa kamu tahu apa yang mengikat kita berdua?" tanya Thalia
"Saya juga bingung. Kalau itu mantra, saya sudah uraikan semuanya termasuk kamu. Saya juga sudah berusaha nggak memikirkan kamu, tapi aneh. Pikiran tentang kamu itu datang dengan sendirinya meski saya nggak bermaksud memikirkan." Erick mencoba menjelaskan pada Thalia.
"You know what I mean?" tanya Erick
"Iya, saya juga ngerasain yang sama. Semakin saya berusaha melupakan kamu semakin kuat rasa itu kembali datang. Bahkan berkali lipat lebih menyakitkan. Seolah saya dilarang melupakan kamu." jawab Thalia.
"See, something is happening Thalia! Dan ini diluar kendali kita berdua." sahut Erick.
(Sesuatu terjadi Thalia!)
"Jadi, ini semua diluar mantra itu?" Thalia mencoba memastikan lagi.
"Yup, ini diluar mantra itu."
"Terus apa dong, kenapa kita bisa terikat begini? Kamu yang paham dan mengerti tentang ini, tolong cari tahu?!" pinta Thalia.
"Ya saya juga bingung mau nanya kemana? Eh, kamu kan punya om yang juga kasih kamu mantra itu kan? Tanya aja ke dia kali aja bisa bantu?" saran Erick pada Thalia.
"Om Ade? Nah dia aja dah meninggal lama … masa iya saya nanya ke kuburannya, ngaco deh?" sahut Thalia kesal.
"Eh, udah meninggal? Ya nggak apa kamu Dateng aja nanya, permisi om saya mau minta tolong nih … gitu?!" balas Erick dengan emoticon lucu
"Iissh ngawur deh kamu, terus tau-tau nongol gitu ya dari dalam kuburannya. Ngeri amat kayak uji nyali aja deh!"
Thalia dan Erick sama-sama tertawa. Mereka berdua dibuat bingung dengan ikatan yang semakin lama semakin menjerat hati mereka. Sesuatu yang menjadi misteri bagi keduanya, dan hanya bisa menduga-duga.
"Badan saya kok nggak enak nih, kamu juga?" tanya Thalia.
"Iya, sama." jawab Erick
"Apa ini ada hubungannya sama leluhur kita Erick, khodam penjaga?!" tanya Thalia penasaran.
"Tunggu sebentar."
Erick tidak membalas Thalia selama beberapa menit. Ia menghilang, tapi Thalia tahu Erick sedang berusaha berkomunikasi dengan sesuatu yang mengikat mereka. Thalia hanya bisa menunggu dan menunggu.
Thalia mencoba mengalihkan dengan membaca bab terbaru dalam novel Erick. Rasa itu kembali hadir membuatnya tidak nyaman. Rasa marah, cemburu dan ingin memiliki Erick pada saat yang bersamaan membuat nafasnya memburu. Thalia menyerah. Ia berhenti membaca.
Ya ampun ini beneran lho, rasanya kayak lagi orang pacaran sih … lucu banget, apa iya saya gila!
"Tidur?" Pesan dari Erick kembali masuk.
"Belum, gimana, have you found something about us?" tanya Thalia
(apa kamu sudah menemukan sesuatu tentang kita berdua?)
"Udah, sesuatu memang mengikat kita berdua dan saya juga belum bisa ngelepasnya." jawab Erick
"Eh terus gimana ini? Sampai kapan kita terikat begini? Kenapa itu mengikat kita berdua?" Thalia mulai panik dengan jawaban Erick.
"Di dalam tubuh saya juga kamu ada tanaman yang sekarang saling terikat." jawab Erick lagi
"Tanaman? Apa maksudnya, saya nggak paham tolong jelasin?!" pinta Thalia.
"Saya masih ragu, apa itu ilmu, khodam, atau pusaka." jawab Erick
Thalia terkejut bukan kepalang. Bagaimana bisa ada hal seperti itu didunia ini? Apakah ini hanya ilusi ataukah nyata?
"Kita harus gimana sekarang? Serius kamu nggak bisa lepasin ini?"
"Maaf, aku sendiri baru nemuin hal seperti ini. Ini benar-benar baru buat saya."
"Ya Allah, terus?"
"Ya nggak pake terus, kita jalani dulu nanti kan nemu jalannya gimana?" jawab Erick yang kembali membuat Thalia kesal.
Apa? Kenapa dia bisa sesantai ini ngadepin hal aneh kayak gini? Ya Tuhan rasanya pengen aku terbang ke tempatnya sekarang juga buat selesaikan masalah ini segera …, batin Thalia
"Tidur, dah malam." Erick kembali mengirim pesan
Haaaish … orang satu ini bisa-bisanya nyuruh saya tidur dalam kondisi penasaran begini. Saya bisa mati penasaran kalo begini caranya!
Thalia menggerutu dalam hati nya, ia pun membalas "Iya nanti."
"Tidur dulu ya, night … sleep tight, and don't mind me." Erick kembali menyematkan emoticon lucu.
"Night too." balas Thalia.
Mereka menutup obrolan panjang malam itu dengan hati yang sama-sama gundah. Keduanya bingung dengan apa yang mereka alami. Sebuah mantra telah membangkitkan sesuatu yang bersemayam di tubuh mereka masing-masing. Para penjaga itu saling jatuh hati dan menginginkan satu sama lain.
Thalia dan Erick terikat oleh perjanjian leluhur mereka sendiri. Mereka terikat oleh rasa yang tabu. Cinta yang tumbuh tidak semestinya antara dua generasi yang berbeda.