
Setelah menembus kemacetan menuju Jakarta, mereka akhirnya tiba dirumah. Mobil Ardi dan Langit telah berpisah setelah istirahat untuk makan malam. Thalia masih tertidur saat mobil memasuki pelataran rumahnya.
"Thalia, bangun kita dah sampai!" Sean membangunkan Thalia dengan lembut.
Dengan malas Thalia membuka matanya, ia pun segera turun dari mobil setelah Ardi membukakan pintu untuknya.
"Sean, aku langsung pulang ya?! Thalia besok aku jemput jam 9!" kata Ardi berpamitan.
Thalia yang belum penuh kesadarannya hanya menganggukkan kepala dan berlalu meninggalkan Ardi tanpa berkata apa pun. Ardi tersenyum melihat Thalia menuruti kemauannya tanpa berdebat.
"Thanks udah anterin kita!" kata Sean pada Ardi.
Thalia langsung menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan air hangat. Perjalanan Jakarta Bogor dan pertemuannya dengan sosok dari dunia lain membuat Thalia lelah. Belum lagi rasa penasarannya pada Erick. Lelaki yang telah mencuri hatinya lewat rangkaian tulisan indah dalam novel.
Thalia menatap wajahnya dalam cermin. Wajah cantiknya tetap terjaga meski memasuki usia 35 tahun. Banyak yang tidak mengira jika Thalia telah menikah dan berumur lebih dari tiga puluh tahun.
Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai. Thalia menyentuh wajahnya, pertanyaan Erick mengusik pikiran Thalia.
Kenapa dia harus menanyakan umur? Baru aja kenalan dan langsung nanyain umur juga status, apa itu penting baginya?
Apa aku masih pantas untuk … ah, lupakan! Lebih baik aku sendiri, it's much better for me!
Thalia merebahkan tubuhnya, sekali lagi ia membuka pesan Erick. Hatinya bimbang,
Haruskah aku menjawabnya … kenapa rasanya menyakitkan?!
Ia memutuskan untuk tidur membiarkan dirinya kembali masuk ke alam mimpi. Suara aneh kembali memasuki alam bawah sadarnya. Mengusik ketenangan Thalia. Ia gelisah, berkali kali Thalia mengubah posisi tidurnya. Matanya terpejam tapi pikirannya tidak. Bayangan sosok Erick seolah terus berada di benaknya. Suara itu kembali terdengar.
Temukan, dekati dia …,
Kami harus bertemu, Thalia …,
Thalia kembali terbangun, kepalanya pusing melengkapi tubuh lelahnya yang belum mau beristirahat. Ia terganggu dengan suara aneh yang entah darimana asalnya.
Siapa sebenarnya yang selalu berbisik, mereka mau ketemu siapa?
Kenapa semuanya jadi aneh begini?
Ada apa denganku?
Thalia memijat kepalanya, jam baru saja menunjukkan pukul dua dini hari dan ia benar-benar lelah. Thalia berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk membalas pesan Erick.
Kenapa kamu nanyain itu? Apa itu penting buat kamu? Namaku Thalia, umurku 35 tahun dan statusku pernah menikah. Apa itu cukup buat kamu? Ini lucu, seperti orang yang lagi cari jodoh nyertain nama, umur, dan juga status.
Sekarang giliranmu, berapa umur kamu?
Thalia mengirim pesan itu, hal aneh terjadi kemudian. Thalia merasa begitu nyaman setelah mengirim pesan, rasa kantuk kembali menyerang dan membuatnya tertidur dengan pulas hingga keesokan harinya.
...*****...
"Thalia … kamu kesiangan lagi?!" teriak Sean saat memasuki kamarnya.
Thalia bergerak malas dari balik selimutnya. Ia menutupi kepalanya dengan selimut menghindari sinar matahari yang masuk dari balik jendela kamarnya.
"Thalia wake up! Kenapa harus aku yang selalu membangunkan kamu?! Harusnya kamu lho, come on wake up Thalia!" Sean memaksa Thalia bangun dengan menarik selimutnya.
"Sean, aku baru bisa tidur jam 2 please aku masih ngantuk. Biarin aku tidur!"
"No, lihat jam! Ini sudah jam 7 dan kamu harus ke rumah sakit kan?"
"Aku praktek jam 11 Sean." jawabnya malas
"Ardi jemput kamu jam 9 kamu lupa?" Sean mengingatkan Thalia.
"What, kapan dia bilang gitu?" Thalia seketika terbangun dan duduk di sebelah Sean.
"Semalam, kamu lupa? Dia mau jemput kamu. Cepetan mandi terus sarapan sebelum Ardi datang!" perintah Sean sambil berlalu meninggalkan Thalia.
Oh my God, Ardi? Dia … jemput aku? Waah, seriusan ini Vina mau jodohin aku sama dia? Kenapa feelingku bilang, ini akan jadi cerita panjang?!