Jodoh Warisan Leluhur

Jodoh Warisan Leluhur
Bab 47


Thalia menuju ke rumah sakit diantar Ardi. Ia terus mengunci mulutnya dan tidak mau bicara apa pun. Rasa kesal pada Ardi ditambah kenyataan Erick yang masih sangat muda membuatnya memilih untuk diam. Self healing.


"Kita makan siang dulu gimana?" Ardi menawarkan Thalia agar bisa lebih lama bersamanya.


"No, aku takut terlambat di sesi konseling berikutnya." jawab Thalia


"Jam berapa sesi kedua?"


"Jam satu." jawab Thalia singkat.


"Kita masih punya waktu buat makan siang sebentar." Ardi setengah memaksa Thalia membuat Thalia jengah.


"I said no, it meant no. I'm serious!" 


(Aku bilang tidak itu artinya tidak, aku serius!)


"Ok, fine!" Ardi menyerah pada pilihan Thalia.


Mereka tiba di rumah sakit, pak Rahmat yang melihat kedatangan Ardi langsung menyambutnya.


"Selamat siang pak Ardi … eh, dokter Thalia juga baru datang ya?!" Pak Rahmat membukakan pintu kaca untuk Ardi dan Thalia


"Siang pak Rahmat, makasih ya?!" sahut Ardi dengan senyumannya sementara Thalia hanya tersenyum membalas sapaan tanpa banyak berkata pada Pak Rahmat.


Kasak kusuk sedikit terdengar di telinga Thalia. Karyawan bagian pendaftaran dan resepsionis mulai berbisik membicarakan Ardi dan Thalia.


"Itu dokter baru pindahan dari luar kan?" tanya salah satu pegawai pada yang lain.


"Iya, kamu tahu nggak pak Ardi itu calon investor rumah sakit ini dan dengar-dengar nih katanya mereka mau dijodohkan Bu direktur biar rumah sakit kita dapat bantuan dari pak Ardi!" jawab yang lainnya


"Ssstt … jangan keras-keras, mau gajimu dipotong ghibahin calon investor?!" yang lain menimpali.


"Eh, tapi cocok ya mereka cantik sama ganteng. Sama-sama level atas lagi, andai aku juga bisa dapet pacar kayak pak Ardi." 


"Ngehalu disiang bolong aja kamu, kerja! Mana ada CEO ganteng lewat trus langsung jatuh cinta kalo nggak dalam sinetron ikan terbang!"


"Eeh, ada tu di novel yang dibaca ma Winda ada! Kali aja beneran di dunia nyata ada!" 


Mereka tertawa kecil dan meneruskan pekerjaan masing-masing. Thalia yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya.


Andai kalian tahu aku juga merasa hidup dalam dunia novel. Judulnya Dokter Cantik Kesayangan Sang Presdir … iiiish, kenapa aku ikutan jadi ngehalu?!


Winda baru saja keluar dari ruangan Thalia ketika mereka datang.


"Win, mau kemana? Sesi selanjutnya belum datang ya?!" tanya Thalia


"Eh, dokter sudah datang! Kirain masih nanti?!" Winda yang terkejut melihat Thalia dan Ardi datang bersamaan.


"Ehm, dokter sama Pak Ardi mau lanjut konseling kan? Saya tinggal dulu mau ambil file yang jam satu dok?" pamit Winda


"Oke, ingatkan saya kalau sudah waktunya ya!" pinta Thalia


Winda berlalu meninggalkan mereka berdua. Ardi mengikuti Thalia dan duduk tepat di kursi pasien.


"Eh, kamu ngapain disini nggak kerja lagi?" tanya Thalia.


"Jam konseling belum selesai kan?" 


"Konseling selanjutnya jam satu kan, it mean masih ada waktu satu jam buat ngobrol sama kamu." sahut Ardi


Thalia hanya bisa menatap Ardi dengan pasrah. Berdebat dengannya membuat Thalia semakin pusing. 


"Baiklah terserah kamu aja, jangan salahkan saya kalo kamu bosan."


"Belum kita coba kan?" Ardi benar-benar gigih berjuang mencari perhatian Thalia.


Thalia mengindahkan pertanyaan Ardi. Ia kembali membuka ponselnya. Pikirannya hanya tertuju pada Erick. Hatinya menolak untuk melanjutkan perkenalannya dengan Erick. Namun, fisik jasmaninya berkata lain. Tangan dan pikirannya seolah bergerak sendiri untuk menghubungi Erick lagi.


Hai, have lunch …, Thalia mengirim pesan


Belum …, balas Erick


Makanlah nanti kamu sakit …, Thalia kembali membalas.


Iya, nanti …, balas Erick lagi.


Senyum Thalia kembali mengembang. Tubuhnya seolah terus menginginkan untuk selalu berhubungan dengan Erick. Setiap balasan dari Erick menjadi obat dari rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Nyeri itu menjadi ringan saat membaca pesan darinya.


Ardi memperhatikan Thalia, ia merasa cemburu. Ia pun berusaha menarik perhatian Thalia dengan mengambil ponselnya.


"Saya disini, kenapa kamu asik sama ponsel kamu?!"


"Eh, bukan salah saya dong! Kamu kan udah aku suruh pulang, kenapa masih disini? Balikin punyaku, aku harus balas pesan!" 


"Pesan? Dari siapa?" Ardi sengaja membuat Thalia marah, ia membuka pesan Erick yang memang masih dalam kondisi terbuka di layar.


"Erick? Siapa dia?" tanya Ardi


"Teman." 


"No, more than friends right?" 


( Tidak, ini lebih dari teman betul?)


"I love him!" Jawab Thalia tanpa berpikir panjang membuat Ardi terkejut.


"Kalian sudah kenal lama?!"


"Belum, baru sekitar two weeks maybe?" Jawab Thalia santai.


(Dua Minggu mungkin?)


"What, two weeks and you said you love him! Kamu gila Thalia?!" Seru Ardi


( Apa, dua Minggu dan kamu bilang kamu mencintainya!)


"Sama seperti kamu kan, akui saja aku tahu kamu mulai jatuh cinta ke aku, ya kan?!" Thalia menatap Ardi tajam.


"Yes you right … aku mulai mencintai, tepatnya menyukai kamu. So beri aku kesempatan untuk bisa disisimu, boleh?!"


( Ya, kamu benar)


Well, dua orang gila menjadi satu … apa jadinya kalo sudah begini!