
Thalia sudah bersiap dan menikmati sarapannya. Meski ia lebih tua hanya beberapa menit dari Sean, Thalia bertingkah layaknya adik bagi Sean. Semua kebutuhan Thalia selalu Sean yang menyiapkan membuat Thalia sangat ketergantungan dengannya.
Sean sangat menyayangi Thalia bahkan mantan kekasihnya Natasya merasa cemburu dengan Thalia. Itu sebabnya mereka berpisah.
"Sean, apa menurut kamu aku masih pantas punya pacar?"
Sean tersedak mendengar pertanyaan Thalia, "Whaaat?!" (apaaa?!)
"Apa aku salah? Kenapa kau tersedak begitu?" Thalia menepuk punggung Sean sedikit keras membuat Sean kesakitan.
"Ok, enough jangan tepuk lagi I'm fine!" pinta Sean. (ok, cukup .... aku baik-baik saja)
Thalia duduk di sebelah Sean, ia menatap manik mata Sean yang tidak terlalu hitam sama seperti miliknya.
"Tell me Sean, haruskah aku memiliki kekasih or get married again?" Thalia sepertinya serius dengan pertanyaannya.
(beritahu aku Sean .... atau menikah lagi?)
"Kenapa kamu nanya gitu, udah ada calon? Si Ardi?"
"No, I'm just asking. Semalam …" Thalia tiba-tiba ragu ingin mengatakan yang sebenarnya pada Sean, ia takut Sean marah padanya.
( nggak, aku cuma bertanya)
"What? Semalam?" Sean tidak sabar menunggu Thalia menjawab pertanyaannya.
"Penulis itu, dia … menanyakan umur juga statusku. Don't you think he's weird?"
(apa menurutmu dia aneh?)
"Weird? Of course not. Dia nanya itu untuk memastikan saja dia berhadapan dengan siapa."
(aneh? tentu saja tidak)
"Iya tapi untuk apa? Itu menyinggung perasaanku."
Sean tertawa melihat ekspresi Thalia, wanita kembarannya ini seperti layaknya anak kecil yang sedang merajuk.
"Tersinggung? Thalia in cyberspace jangan pakai hatimu. Kebanyakan yang ada disana hanya kebohongan. Trust me 90% lies and the remaining 10% is true."
(Thalia dalam dunia maya .... )
(Percaya padaku 90% kebohongan dan sisanya 10% kebenaran.)
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Terserah kamu mau bilang apa ke dia. Tapi aku yakin dia melakukan itu hanya untuk berjaga-jaga. I think he has good manners. Untuk menjaga sikap, so kamu jangan mikir yang aneh-aneh!"
(aku pikir dia memiliki kelakuan yang baik)
"I'm not! Cuma itu mengangguk aja. Umur itu sensitif buat aku." Thalia menyandarkan kepalanya di bahu Sean. ( aku tidak )
"Kenapa, apa kamu berpikir kamu terlalu tua untuk menjalin hubungan? Than look at me, aku malah belum pernah menikah!"
"Kamu laki-laki Sean mau menikah umur berapa aja bisa. Me?"
"Kalo gitu cepet cari pacar and get married! Biar aku juga bisa legaan dikit, nggak ngurusin kamu yang manja begini!" Gerutu Sean.
"Iiish … jahat! Sean …," Thalia kembali ragu untuk melanjutkan perkataannya pada Sean.
"Apa?!"
"Aku rasa, aku mencintainya." jawab Thalia dengan lirih. Matanya menerawang jauh ke atas membayangkan sosok Erick.
"Who, Ardi?"
"No, that author." jawab Thalia dengan mantap, ia menatap Sean dengan mata berbinar-binar.
(bukan, penulis itu)
Sean terperangah dengan ucapan Thalia, ia spontan menyentuh kening Thalia bergantian dengannya.
"Kamu demam sepertinya." Sean berujar dengan berlalu meninggalkan Thalia.
"Sean, aku belum selesai bicara!" seru Thalia kesal.
"Case closed, cepat ganti baju Ardi datang sebentar lagi!"
Thalia kesal tapi ia tetap menuruti Sean dan segera bersiap menunggu Ardi datang. Ia mematut dirinya di depan cermin, lalu menghela nafas.
"Masih pantaskah? Harus ya aku cari pengganti Rendy? Tapi …" ia kembali berpikir dan rasa takut itu kembali datang padanya.
"Thalia, Ardi datang!" Suara Sean terdengar dari luar kamarnya.
"Hhmm, baiklah aku harus berhadapan dengannya. Mungkin … mulai membuka hati?" Thalia bergumam di depan cermin sambil mematut dirinya.
"Thalia!" Suara Sean terdengar sekali lagi.
"Ya, aku dah selesai!" jawab Thalia dengan malas.
Thalia keluar kamar dan mendapati Ardi tengah duduk diruang tengah bersama Sean. Thalia memperhatikan kedekatan mereka, ia mengagumi cara Ardi mendekati Sean. Hanya butuh waktu dua hari bagi Ardi untuk mendekati bodyguard pribadi Thalia.
Thalia tahu persis bagaimana sifat Sean, tidak mudah untuk mendapatkan hati Sean. Satu satunya yang pernah bisa mencuri hati Sean adalah Rendy.
"Hei, Beib udah siap?!" sapa Rendy dengan santainya membuat Thalia terkejut.
" Beib? Berapa kali aku bilang sama kamu jangan panggil aku gitu orang bisa salah paham!"
"Kenapa, apa ada yang marah? Kata Sean kamu masih sendiri kan?"
"Sean?" Thalia meminta pertanggungjawaban pada Sean atas kelakuan Ardi.
Sean berdiri mendekati Thalia dan berbisik padanya sambil mengerlingkan mata pada nya, "Well, tidak ada salahnya mencoba kan?"
What the hell …,