
Kedua gadis itu terbeliak kaget mendengar sang dosen galak mengucapkan terima kasih. Sungguh sesuatu yang sangat langka. Baru kali ini mereka mendengar ucapan terima kasih keluar dari bibir sang dosen galak.
Arshaka langsung berjalan mendahului kedua mahasiswanya menuju mobil setelah sebelumnya mengunci ruangan. Begitu sampai di dekat mobil, dia menyuruh salah satu dari mereka untuk duduk di depan.
"Saya bukan sopir kalian. Cepat maju salah satu!"
Adiba mendorong Shaila sehingga mau tidak mau gadis cantik tapi bar-bar itu duduk di samping dosen galak tetapi ganteng itu. Selama dalam perjalanan yang ada hanya keheningan karena tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Mungkin mereka tidak suka berisik atau memang malas untuk berbicara.
"Kita mampir ke supermarket dulu, di rumah saya kehabisan bahan makanan," ucap Arshaka memberitahu kenapa dia berhenti di depan sebuah supermarket.
Arshaka keluar dari mobil langsung berjalan begitu pintu mobil terkunci. Di belakangnya Shaila dan Adiba mengikuti ke mana gerak langkah kaki sang dosen melangkah. Mereka bertiga menuju bagian sayur dan ikan.
Setelah selesai memilih sayur dan ikan yang diinginkan, Shaila mendorong trolly menuju kasir. Arshaka sendiri ikut mengantri di samping mahasiswanya. Telah sampai pada giliran mereka, dosen muda itu mengeluarkan kartu pembayaran.
Saat ini mereka telah sampai di rumah minimalis sang duda muda. Rumah dua lantai yang tidak begitu kecil ataupun terlalu luas. Rumah berukuran tidak begitu besar itu terdiri dari tiga kamar tidur di lantai dua dan dua kamar tidur di bawah.
Di belakang rumah terdapat taman kecil dan kolam renang yang tidak begitu luas, tiga kali tujuh meter saja. Hampir semua yang ada di rumah dosen galak itu berukuran minimalis tetapi tetap cantik dipandang. Pintu dapur sebagai satu-satunya penghubung halaman belakang dengan rumah.
Arshaka menyuruh kedua mahasiswanya membawa belanjaan ke dapur. Setelah itu dia memerintahkan mereka untuk menyimpan belanjaan ke kulkas sebagian, sebagian lagi dimasak untuk makan mereka malam ini.
Papa muda itu tak lupa menunjukkan letak kamar mandi serta letak perkakas dapur yang akan digunakan untuk memasak. Bumbu dapur yang dimiliki pun dikeluarkan semua oleh Shaka. Sebenarnya laki-laki itu andai memasak, hanya saja dia ingin mengetes kedua mahasiswa itu, bisa membedakan bumbu dapur atau tidak.
Tak menunggu lama, Shaila langsung mengeksekusi bahan yang tadi mereka beli. Sementara itu, Shaka memilih mencari keberadaan sang anak yang tadi dia tinggalkan besama pengasuhnya.
"Hai, Jagoan! Ternyata mandi, kirain ayah tadi ke mana kok rumah sepi," sapa Arshaka begitu masuk ke kamar sang anak.
"Azka harus sudah wangi saat ayah pulang...."
"Good Boy! Sekarang giliran ayah yang mandi, kamu turun dulu sama nanny ya," potong Shaka cepat seraya mengusir sang anak, lalu dia juga ikut keluar dari kamar itu. Masuk ke kamarnya sendiri.
Ayah dari Azka Putra Mandala itu bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama untuk tampil mempesona. Arshaka bergabung bersama anaknya yang sudah duduk manis menghadap meja makan.
***
Shaila sibuk memasukkan sayuran segar ke dalam panci yang berisi air mendidih. Dalam panci itu juga terdapat iga sapi dan daging yang sudah dicampur bumbu. Hanya tinggal memasukkan sayuran maka sop iga sapi sudah lengkap dan menunggu matang.
Sementara itu Adiba sejak tadi hanya menjadi penonton karena dia tidak pernah masak. Walaupun begitu dia masih bisa masak mie instan dan merebus air. Gadis itu tampak sedang menerima telepon dari ibunya.
"Iya, Mom. Diba langsung meluncur ke tempat Mommy sekarang!" jawab Adiba setelah sang penelepon selesai berbicara.
Adiba segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Dia pamit pada sahabatnya jika tidak bisa menemani Shaila masak. Namun begitu, gadis itu berjanji akan menemani sang sahabat nanti malam.
Sepeninggal Adiba, ada bocah tiga tahun tiba-tiba duduk begitu saja di kursi yang tidak jauh dari dapur. Bocah itu mencomot bakwan yang ada di meja, lalu memakannya.
"Enyak! Azka suka ini," ucap Azka dengan mulut penuh.
"Makannya dikit-dikit aja, Den. Masih banyak itu di meja," ujar sang nanny penuh perhatian.
Tak lama kemudian, sop iga pun matang. Shaila memindahkan sayur sop itu ke wadah sayur. Setelah itu barulah dia menghidangkan semua masakannya di atas meja.
Arshaka celingukan mencari salah satu mahasiswanya yang tidak kelihatan. Rasa penasaran membuat laki-laki itu akhirnya bertanya pada Shaila karena mereka sudah terbiasa bersama.
"Di mana Adiba?"
"Sudah pulang, Pak. Nyokapnya telepon tadi, keknya penting banget. Dia tadi buru-buru gitu," jelas Shaila dengan tangan menyendokkan nasi ke piring Azka. Sejak tadi bocah kecil itu sibuk minta makan.
Shaila berjalan menuju kitchen set setelah mengisi piring anak sang dosen. Gadis itu mengambil tas dan hoodie-nya yang tadi dia letakkan di atas kitchen set dekat kompor.
"Pak, saya pamit pulang. Sudah hampir Maghrib," pamit Shaila sambil menyampirkan tasnya di pundak.
"Makan dulu! Kamu sudah capek masak sebanyak ini, siapa yang mau makan kalau bukan kamu?" titah Arshaka tak terbantahkan.
Dengan berat hati, anak pasangan Nathan Kusuma Wijaya dengan Dewi Pusparini itu akhirnya duduk di sebelah Azka. Sengaja ingin menjauh dari segateng (dosen galak tetapi ganteng? Gadis itu tampak cemberut sepanjang makan.
Azka yang selesai lebih dulu, memilih meninggalkan ruangan itu. Bocah laki-laki itu menuju kamarnya diikuti oleh sang nanny untuk mengambil mainan.
Shaila membereskan meja makan dengan mengangkat semua makanan ke dapur.
"Masukkan lemari yang atas itu saja! Kamu sampai? Kalau tidak biar aku saja." Arshaka berdiri tepat di belakang punggung Shaila.
Laki-laki itu sebenarnya ingin menunjukkan tempat menyimpan makanan. Namun, dikarenakan tubuh Shaila yang tidak begitu tinggi terlihat kesusahan. Dari belakang keduanya tampak saling berpelukan dan mesra.
Terdengar suara deru mesin mobil berhenti di halaman depan rumah. Mama Nenti tiba-tiba melakukan sidak di rumah anaknya. Dia langsung berjalan menuju dapur karena merasa haus.
Betapa terkejutnya beliau, saat melihat anaknya memeluk seorang wanita di dapur. Mama Nenti langsung berteriak hingga suaranya terdengar dari luar rumah itu. Kebetulan juga Pak RT yang hendak pergi ke masjid mendengar teriakan ibu Arshaka.
"Shakaaa!"
Pak RT bergegas masuk karena pintu rumah itu terbuka sedikit. Dia masuk begitu saja dan tidak mendapati apa-apa, kecuali sang ibu yang sedang memukul anaknya.
"Ada apa ini?"