Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 64


Bila Shania dan Keenan sedang diuji cintanya dengan kehadiran orang ketiga, maka Arshaka sedang diuji kesabarannya dengan tingkah istri kecilnya. Di usia kandungan yang menginjak tujuh bulan, Shaila semakin rewel. Bukan minta dicarikan makanan tetapi dia tidak mau ditinggal barang sejenak pun oleh sang suami.


Arshaka yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai abdi negara (ASN), harus menekan emosinya ketika sang istri selalu menangis jika ditinggal bekerja. Demi meluangkan waktu untuk sang istri yang sedang berbadan tiga, dia mengundurkan diri menjadi dosen.


Shaila sering menangis karena takut suami gagaknya itu berpaling darinya. Berat badan istri Shaka itu naik dua kali lipat dari sebelum hamil, sehingga dia merasa insecure dan imbasnya pada sang suami. Bungsu dari Nathan dan Dewi itu selalu merasa cemburu jika sang suami terlihat akrab dengan lawan jenis.


"Pokoknya Shaila ikut ke kantor. Titik!"


Arshaka tercengang, tiba-tiba sang istri merajuk ingin ikut ke kantor. Hari ini ada rapat di kantor bupati. Tidak mungkin dia rapat bersama para pejabat daerah membawa istri, bisa-bisa namanya akan buruk di mata para eselon satu dan dua, sehingga penilaian kinerja tahunannya turun drastis.


"Sayang, Mas ini mau rapat di kantor bupati loh. Bukan mau mengajar atau keluyuran nggak jelas. Masak kamu tega, nanti suami kamu ini di-bully karena kerja bawa istri," ucap Arshaka memberi pengertian pada sang istri.


"Di sana ada ceweknya, tidak?"


"Di mana? Di kantor ada, di kantor bupati juga ada. Kenapa memang?"


Wajah cantik Shaila semakin cemberut mendengar sang suami selalu dikelilingi oleh para wanita, tidak di kantor tidak di kampus, selalu saja ada wanita. Istri Arshaka itu menatap tubuhnya yang seperti gajah bengkak. Dia takut suaminya akan berpaling karena kondisi tubuhnya yang melar.


Perempuan manapun akan menjadi sensitif jika berhubungan dengan berat badan. Apalagi berat badan Shaila yang dari empat puluh delapan kilo menjadi delapan puluh kilo, sehingga semakin membuatnya tidak percaya diri dan selalu takut ditinggalkan sang suami.


"Mas, pasti kesel banget sama aku. Sudah jelek, gendut, manja lagi. Ke mana saja selalu nempel, pasti Mas risih, 'kan? Mas pasti malu memiliki istri aku. " Shaila berprasangka sendiri lalu menumpahkan air matanya.


Melihat sang istri yang menangis karena memikirkan prasangkanya sendiri, Arshaka berjalan mendekati sang istri. Hari ini mungkin kembali terlambat karena harus menenangkan sang istri yang kembali tantrum bak anak kecil.


"Sayang, prasangka kamu itu tidak benar. Percayalah, bagaimanapun keadaan kamu, aku akan selalu di sisimu. Aku cinta kamu bukan karena melihat fisik tetapi karena kepribadian kamu. Sampai mata ini menutup, aku akan tetap mencintai kamu," ujar Arshaka sambil membelai lembut surai hitam sang istri.


Shaila langsung menyurukkan kepalanya ke dalam pelukan sang suami dan disambut dengan ciuman di puncak kepalanya oleh Shaka. Air matanya mengalir semakin deras, mendengar pernyataan dari sng suami.


"Mas berangkat sekarang, ya? Tidak enak kalau terlambat datang. Nanti dikira menyepelekan atasan," pamit arshaka setelah sang istri terlihat sudah tenang.


Arshaka pun meninggalkan rumah dengan perasaan tenang. Kini, dia sudah terbiasa dengan drama pagi hari karena sang istri tidak mau ditinggal kerja sejak dua bulan terakhir. Ya, sejak usia kehamilan Shaila memasuki bulan kelima, nabsu makannya naik drastis sehingga berat badan pun ikut naik.


Walaupun memiliki bobot tubuh yang besar, Shaila masih bisa bergerak dengan lincah mengurus rumah. Arshaka mengurus cuti kuliah sang istri begitu sang istri sering opname selama trimester pertama kehamilannya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istri juga anak yang masih dalam kandungan.


Shaila menurut saja saat sang suami memintanya untuk mengambil cuti sampai sang anak bisa ditinggal kuliah. Semua dilakukan demi cintanya pada keluarga, tidak hanya karena sang suami, tetapi demi anak-anak juga.


***


Senin pagi, Keenan sudah kembali dari Bandung. Pertemuan yang hanya seminggu sekali membuat pemilik rumah sakit itu tidak semangat bekerja, ditambah lagi adik sang sahabat yang selalu saja mencari perhatian. JIka saja tidak ada sahamnya di rumah sakit itu, mungkin sudah Keenan pecat dia.


Tanggung jawab yang dipikul seorang Keenan Elard Guinandra sangatlah berat. Sang sahabat menitipkan adiknya pada dia untuk belajar. Jadi, berat rasanya memutuskan untuk memecat Laras.


"Bos, hari ini ada kunjungan ke rumah sakit rekanan untuk studi klinis tentang pengadaan peralatan medis yang belum kita miliki," ucap Rony memberitahu jadwal Keenan hari ini.


"Siapa saja yang ikut?"


"Ada beberapa dokter senior juga junior, salah satunya dokter Laras, Bos," jawab Rony seraya mengabsen nama-nama para dokter yang ikut


dalam kunjungan kali ini.


"Kamu gantikan aku! Capek banget habis perjalanan jauh. Kamu tahu sendiri, 'kan?"


"Duuhh, yang habis recharge baterai kecapekan nih? Berapa ronde tadi malam, sampai lemes begitu?" ledek Rony pada sahabat sekaligus atasannya.


"Nggak usah iri kalau belum punya pasangan!"