Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 6


"Gegayaan pakai syarat segala, apa syaratnya? Cepetan keburu masuk kelas!"


"Temenin gue ketemuan sama Rangga," jawab Shaila dengan tenang.


"Hah, lo mau ngedate sama Rangga tapi malah ngajakin gue. Yang bener aja lo! Tega bener lo jadiin gue penonton!" protes Adiba kesal.


Ssttttt!


Adiba langsung membekap mulutnya sendiri saat mendapat teguran dari penghuni perpustakaan. Mereka berdua kini menjadi bahan tontonan karena suara gadis itu yang sangat mengganggu ketenangan.


"Bagaimana, deal?"


"Cerita dulu, Shai!"


"Bukan gue juga yang rugi, tugas gue sudah kelar dari tadi," balas Shaila dengan santainya.


Akhirnya, Adiba mengaku kalah dan mengiyakan syarat dari sahabat terbaiknya itu. Lebih baik mengiyakan dari pada hukuman dari dosen killer semakin bertambah. Ingatkan dia nanti untuk menagih cerita Shaila tentang hubungannya dengan Rangga, sang kapten tim basket di kampus mereka.


Tak butuh waktu untuk Shaila mengerjakan makalah Adiba. Waktu setengah jam cukup untuk mengerjakan tugas yang hanya tinggal sedikit lagi itu sampai cetak. Mereka bergegas meninggalkan perpustakaan setelah membayar ongkos cetak dan kertas.


Waktu yang mepet membuat dua gadis itu berlari kecil menuju kelas. Mereka takut terlambat dan tugas pun bertambah, sungguh itu sesuatu yang mereka hindari.


Saat mereka masuk kelas sangat sepi tidak seperti biasanya yang ramai, bahkan kadang hampir semua bangku terisi penuh. Namun, kali ini kelas itu sangat sepi atau mereka salah memasuki kelas. Akhirnya, Adiba menghubungi ketua kelasnya untuk bertanya.


"Pertemuan mata kuliah pak dosen galak diundur setengah jam. Ruangan tetap di kelas ini. Kita ke kantin atau tunggu di sini saja?" Adiba menyampaikan informasi yang didapat dari ketua kelas pada Shaila.


"Tunggu sini aja, males bolak-balik dalam waktu setengah jam," jawab Shaila sembari melihat ke gawainya.


Adiba pun mengangguk dan merasa inilah kesempatannya untuk bertanya tentang Rangga. Dia pun mendesak sang sahabat untuk bercerita sambil menunggu teman-teman dan dosen datang. Shaila pun terpaksa menceritakannya.


Semua bermula ketika Shaila yang berjalan di dekat lapangan basket hendak menuju perpustakaan. Tiba-tiba saja ada bola basket nyasar mengenai kepalanya sehingga membuat langkahnya terhuyung dan kepala sakit. Dengan perasaan yang begitu kesal, reflek tangannya mengambil bola itu dan melemparkannya ke pagar kawat berduri yang berjarak sepuluh langkah dengan kekuatan penuh.


Entah kekuatan dari mana, bola itu memantul ke lantai dan berakhir sangkut di pagar kawat itu. Bola basket itu lama-lama kempes karena kawat yang menancap. Hal itu membuat kapten basket meradang dan minta ganti rugi.


Sebenarnya Shaila sudah mengganti dengan bola baru yang sama persis dengan bola yang bocor itu. Namun, Rangga sang kapten tidak terima. Laki-laki yang merupakan kating tingkat akhir itu malah minta ditraktir makan malam.


Shaila yang tahu maksud Rangga pun tidak kehilangan akal agar rencana makan malam berdua alias nge-date itu batal. Dia mengajak Adiba agar tidak berdua-duaan dengan sang kating.


"Oh, begitu ceritanya! Bar-bar juga lo ternyata, nggak nyangka gue. Hihii!"


Ternyata saat Shaila asik bercerita tadi, dosen galak itu sudah duduk tak jauh dari mereka. Walaupun kelas masih sepi karena kelas dimulai lima belas menit lagi, pak dosen itu sudah duduk manis di dalam kelas.


Ghemm ....


Dosen muda ganteng tapi galak itu mengeluarkan suara untuk menarik perhatian dua mahasiswa cantik yang sejak tadi asik cerita sendiri tidak menghiraukan keadaan sekitar.


"Berisik!" ucap Arshaka singkat jelas dan padat, sehingga membuat dua gadis itu bungkam seketika dan beralih pada gawai masing-masing.


Shaila dan Adiba ngobrol melalui gawai, mengghibah sang dosen yang galaknya kelewatan itu. Mereka berdua cekikikan dengan pandangan mata fokus ke ponsel di tangan.Keduanya belum merasa puas membicarakan kegalakan sang dosen.


Jam sudah menunjukkan bahwa lima menit lagi kelas akan dimulai. Sebagian besar mahasiswa sudah datang dan menempati kursi. Tinggal beberapa kursi yang masih kosong, tanda belum semuanya mahasiswa datang.


Dosen galak itu berdiri lalu mendekat pada Shaila dan Adiba. Dengan gerakan cepat, ponsel Shaila dan Adiba sudah berpindah ke tangannya. Kedua gadis itu hendak protes tetapi tidak berani, terlebih lagi kedua gawai mereka kini sudah berada di saku celana dosen itu.


Sembilan puluh menit berlalu, pertemuan kuliah yang diawali dengan mengumpulkan tugas itu diakhiri juga dengan tugas. Bedanya, tugas kali dikerjakan berkelompok. Satu kelompok terdiri empat orang karena mereka harus berdiskusi untuk mengerjakan tugas itu.


"Shaila Ghaliba! Tolong bantu saya membawa makalah ini ke ruangan," pinta Arshaka begitu kelas berakhir.


Dengan patuh, Shaila melakukan perintah dari sang dosen. Tak lupa dia mengajak Adiba untuk membantu membawakan makalah-makalah tersebut. Tentu saja ajakan itu diiyakan oleh gadis itu, mengingat gawainya yang ditahan pak dosen.


Shaila dan Adiba berjalan berdampingan seraya bercerita dengan tangan penuh makalah. Sementara itu, sang dosen berjalan di belakang mereka sembari membaca chat mereka di ponsel yang membicarakan dosen galak tentang kejadian tadi siang.


Wajah dosen itu tidak menunjukkan ekspresi apapun datar dan dingin seperti biasanya. Arshaka menyimpan ponsel itu kembali ke dalam sakunya sebelum kedua mahasiswi itu tahu apa yang tadi dia lakukan. Sang dosen pun membuka pintu ruangannya begitu mereka sampai.


Shaila dan Adiba masuk lalu meletakkan makalah-makalah itu di atas meja. Setelah itu kedua gadis itu tetap berdiri di depan meja saling sikut, karena tidak ada yang berani berbicara. Hal itu dilihat oleh Arshaka, sehingga laki-laki itu sudut bibirnya tertarik tipis.


"Mau sampai kapan kalian seperti anak TK? Kalian sudah mahasiswa loh, masak tidak ada bedanya dengan anak kecil," tegur pak dosen tiba-tiba sehingga membuat dua mahasiswa itu tergeragap, malu.


Akhirnya Shaila memberanikan diri untuk meminta ponselnya juga ponsel Adiba. Kalau menunggu sahabatnya itu, sampai lebaran monyet pun tidak akan berani. Shaila tahu betul bagaimana sang sahabat sejak SMA.


"Maaf, Pak. Ponsel kami bisa dikembalikan sekarang?"


Arshaka tampak mengetuk dagunya tanpa menjawab atau berusaha mengembalikan ponsel yang masih tersimpan dala saku celananya. Dia sengaja mengulur waktu sampai puas memandangi wajah ayu mahasiswa sang pujaan hati.


"Pak! Bapak nggak bud3g, 'kan?"


Arshaka langsung melebarkan kedua matanya. Baru kali ini ada anak didiknya yang berani mengatai dirinya bud3g. Juga baru kali ini, ada mahasiswa yang berani melawan padanya.


"Saya dengar! Jangan takut! Ponsel kalian aman sama saya," jawab Shaka santai setelah bisa menguasai diri.


"Kalian berdua malam ini harus masak untuk saya dan Azka!"


Mata kedua gadis itu langsung terbeliak. Kaget.


"Itu sebagai hukuman kalian karena telah berani membicarakan saya! Oh ya, terima kasih karena tadi telah menjaga anak saya selama saya mengajar."