Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 22


"Ayah! Bubun! Kenapa pintanya dikunci? Azka mau masuk," jerit bocah umur tiga tahun itu.


Anak laki-laki itu terus menggedor pintu kamar orang tuanya karena tidak kunjung dibuka dan tidak juga ada sahutan. Seingatnya tadi sang ibu sambung pamit hendak mandi, tetapi sampai dia menghabiskan beberapa potong cake sang ibu belum juga keluar dari kamar. Kini, kamar orang tuanya malah terkunci.


Sementara itu, Arshaka langsung bangun melepaskan kungkungannya pada sang istri. Laki-laki itu langsung mengambil baju dan memakainya, lalu memakai celana. Shaila sendiri mengambil dan memakai bathrobe-nya, lalu berlari ke kamar mandi.


Azka terus menggedor pintu tidak peduli dengan Mbak Rina yang melarangnya. Bocah kecil itu malah menjerit kesal.


"Pokoknya Azka gak mau berhenti sebelum ayah dan bubun keluar kamar!" Tangan kecil itu sampai memerah karena memukuli pintu.


Shaka menyimpan bajunya yang berserakan di lantai terlebih dahulu sebelum membuka pintu. Laki-laki itu membuka pintu dengan wajah dibuat selesu mungkin agar terlihat lelah dan beristirahat.


"Kamu ini kenapa? Ayah mau tidur, capek banget!" kata Shaka sambil bersandar di gawang pintu, pura-pura menguap.


"Ihh, ayah ini! Mau Maghrib mana boleh tidur, bubunnya mana?"


"Ayah cuma mau baring bentar doang, yaelahh! Bubun di kamar mandi, mau apa cariin bubun?"


Azka langsung menyerobot masuk ke kamar orang tuanya begitu saja. Dia menelisik seluruh ruangan itu seakan tak percaya dengan sang ayah. Pandangan mata bocah itu tertuju pada pintu kamar mandi.


Shaila keluar dari kamar mandi setelah mandi wajib kilat. Rambutnya yang basah diusap menggunakan handuk kecil. Gadis itu masih menggunakan bathrobe saat keluar dari kamar mandi.


"Bubun mandi apa tidur sih? Lama banget!" celetuk Azka begitu melihat sang ibu sambung keluar dari kamar mandi.


"Maaf, Sayang. Tadi Bubun sakit perut, jadi lama di kamar mandi. Nungguin ya?" jawab Shaila sambil duduk dengan bertumpu lutut, untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan sang anak.


"Iya. Tapi Bubun lama, jadi cake coklatnya tinggal dikit," ucap bocah kecil itu, kemudian menutup matanya.


"Jangan banyak makan kue manis! Nanti sakit lagi. Boleh makan tapi dikit saja, lambung kamu tidak bisa menerima makanan yang menggunakan pemanis," nasehat Shaila penuh kesabaran.


"Sekarang Azka keluar dulu sama Mbak Rina, Bubun mau ganti baju. Ayah juga mau mandi, sebentar lagi Maghrib."


Bocah umur tiga tahun itu menurut, langsung keluar dari kamar orang tuanya mencari sang pengasuh. Anak yang belum tahu apa-apa itu dengan patuh menuruti semua perintah ibu sambungnya. Baginya Shaila adalah seorang ibu yang dia impikan selama ini.


Shaka ingin kembali meminta haknya pada sang istri, tetapi urung begitu mendengar suara mengaji dari mesjid kompleks. Dia harus menidurkan sendiri tongkat saktinya. Untuk itu dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat usai mandi wajib, agar pikirannya bisa rileks.


Dua minggu berlalu, Shaka belum juga berhasil membelah duren. Shaila yang sedang menghadapi ujian akhir semester memilih tidur di kamar terpisah, agar lebih konsentrasi belajar. Sementara itu, dirinya juga sibuk mempersiapkan wisuda magisternya minggu depan.


"Eh, kalian tadi bisa gak sih kerjain soalnya? Gila susah banget tuh soal!" tanya Rosa pada kedua temannya, Shaila dan Adiba.


"Bisa, tapi jawaban gue hanya mengarang indah. Semoga aja bisa lulus mata kuliah ini," sahut Adiba.


Sedangkan Shaila tampak tenang menikmati gado-gadonya, tidak terpengaruh oleh gerutuan mereka.


"Anjeer lo Shai! Ditanya nggak dijawab, malah pasang tampang masa bodo kek gak kenal aja!" umpat Rosa kesal karena temannya yang satu itu memang ajaib.


Bagaimana tidak ajaib? Di saat dia digosipkan memiliki scandal dengan sang dosen, dia tidak peduli sama sekali. Sekarang, saat teman-temannya mengadu soal ujian sangat susah, dia hanya diam tetap tenang.


Kedua sahabatnya itu kompak memutar bola mata. Benar-benar teman yang tidak peka si Shaila ini. Pembawaan yang selalu tenang dan cuek membuatnya tidak memiliki teman selain Adiba dan Rosa.


"Hai, Shai. Apa kabar?" Tiba-tiba datang seorang mahasiswa laki-laki mendekati Shaila dan teman-temannya.


"Hai, Kak Rangga!" Rosa yang menaruh hati pada kakak tingkatnya itu menyapa sang idola.


"Tumben Kak Rangga gabung sama kita-kita?" tanya Adiba tidak mau kalah, ikut tebar pesona.


Shaila yang disapa hanya tetap diam tenang melanjutkan makan sampai gado-gado dalam piring kandas tak bersisa. Gadis itu lalu menyesap jus jeruknya hingga tertinggal separuh gelas. Berbeda dengan Rangga yang serasa kebakaran jenggot mendapat sapaan dari para fansnya yang ada di kantin itu.


"Lo belum jadi traktir gue makan malam lho. Ini sudah hampir tiga bulan, tapi lo nggak ada itikad baik sama sekali," tegur Rangga mengingatkan hutang Shaila padanya.


"Sorry, kalau malam gue nggak bisa keluar. Anak gue gak mau ditinggal," jawab Shaila dengan tenangnya.


"Apa? Lo sudah punya anak?" tanya mereka serempak tanpa dikomando.


"Ck, kalian berdua itu pikun atau pura-pura lupa?"


Rosa dan Adiba membeliakkan matanya mendengar jawaban dari sahabat mereka.


"Diih! Seingat gue lo nggak pernah sebut anak asuh lo dengan sebutan anak gue. Kenapa sekarang lo bilang begitu?" tanya Rosa penasaran.


"Ingat Shaila, hutang itu harus segera dibayar atau lo mau membayarnya di akhirat nanti." Rangga memberikan peringatan pada Shaila.


"Sekarang aja atau nanti setelah ujian yang kedua, gue traktir di mana lo mau," jawab Shaila dengan santainya, tak tampak takut sama sekali.


Setelah dibicarakan, keduanya sepakat makan siang di kafe dekat kampus setelah ujian kedua selesai. Rangga minta mereka makan di kafe langganan mereka di kafe 'Bamboo'. Shaila pun menyanggupinya karena malas ribut.


Sekarang di sinilah mereka, di kafe lesehan di mana para pengunjungnya kebanyakan anak muda yang sedang kencan dengan pasangan. Shaila belum pernah masuk ke kafe itu, jadi dia pikir kafe itu seperti kafe milik sepupunya. Ternyata beda jauh konsep kafenya.


Shaila yang masih kenyang hanya memesan pisang keju dan es cappucino. Rangga hanya melihat gadis itu dengan dahi berkerut, lalu menyunggingkan senyum tipis.


"Kenapa nggak pesan makan? Takut gak bisa bayar, ya? Santai aja, gue juga bawa duit kok," tanya Rangga mengejek.


Tanpa banyak kata, Shaila mengeluarkan dompetnya lalu meletakkan di meja.


"Segini cukup gak buat bayar? Gue beneran takut gak bisa bayar nih," ucap Shaila pura-pura takut.


Tak lama kemudian dia mengutak-atik gawainya, lalu menunjukkan layar gawai tersebut pada Rangga.


"Kalau segini kira-kira bisa bayar kafe ini, gak?"