
Acara sudah usai, Indira sudah tidur. Tinggal lah Bang Dallas terjaga bersama baby Ray.
"Kenapa hari-hari berjalan lambat sekali ya Bang? Ayah bingung sendiri setiap Mama mondar mandir di depan mata Ayah. Hmm.. ngomong-ngomong kamu pengen punya adek cepat atau nanti saja Bang?" Gumam Bang Dallas. "Haah.. cepat Bang?? Waah.. kasihan Mama donk Bang." Oceh Bang Dallas ribut sendiri dengan baby kecilnya.
Bang Dallas menguap, matanya sudah mulai mengantuk. Lama kelamaan Bang Dallas tertidur sembari memeluk baby Ray dan menyembunyikan baby kecil di dalam kaosnya.
***
Pagi hari Bang Dallas berjemur bersama baby Ray sedangkan Indira sibuk memasak di dapur. Saat itu Bang Dallas mendengar perdebatan antara Ibu Kemala dan Bang Aves.
Ibu Kemala meminta sejumlah uang tapi Bang Aves tidak mengijinkan nya. Bang Dallas juga mendengar bahwa rumah atas nama indira sudah berubah menjadi nama Rayzan Al-Fath.
"Sampai kapan kamu memikirkan orang lain?? Ibumu ini belum kamu beri apa-apa." Protes ibu Kemala.
"Ibu lupa atau pura-pura lupa?? Aku sudah membelikan ibu rumah tapi ibu menjualnya untuk berjudi." Jawab Bang Aves mengingatkan kembali kesalahan ibunya.
"Oohh gitu?? Kamu mulai perhitungan ya sama Ibu??? Ingat Aves.. ibu melahirkan kamu, menyekolahkan kamu dan menunggu mu sampai jadi tentara agar kamu bisa membalas segala kebaikan ibu. Tapi Sekaran apa kenyataannya??? Kamu malah memikirkan orang lain. Kamu memikirkan bayi yang tiba-tiba membuatmu jadi gila dan tidak memikirkan ibu. Bisa atau tidak kamu membuang mereka dari hidupmu???" Bentak ibu Kemala karena Bang Aves terus mengungkit masa lalunya.
Bang Aves tidak ingin berdebat dengan ibunya, ia pun menyambar kunci motor dan secepatnya pergi meninggalkan rumah.
"Aveeeesss.. dengar ibu..!!!!!!! Jangan gila kamu..!!!!" Teriak ibunya.
Bang Aves sempat melirik Bang Dallas yang sedang menjemur bayinya tapi kemudian ia segera berlalu.
Bang Dallas segera mengambil ponsel dari saku celana pendek nya.
"Mek.. awasi Aves..!!".
...
"Kalau kamu begini terus, kamu bisa ikut gila Ves..!!" Tegur Bang Meka.
Bang Aves menoleh mendengar kata-kata sahabatnya tapi ia tidak bisa memungkiri kenyataan yang ada bahwa keterangan dokter pun sudah menjelaskan bahwa ibunya mengalami gangguan kejiwaan.
"Kau mau marah??? Aku tidak ingin ikut campur tapi kau pikir sendiri lah, Indira tidak nyaman ada ibumu, Dallas juga sudah berusaha keras untuk menjaga emosinya. Aku tau kau ingin berbakti, tapi tidak dengan cara seperti ini Ves. Kau tau.. darah Dallas itu dingin, kalau dia sudah bertaring.. kau pun akan habis di tangan si sumbu pendek." Kata Bang Meka tidak ada yang di tutupi lagi. Baginya percuma saja menjelaskan secara sopan santun, tapi kenyataannya segala sopan santun nya tidak mengubah kenyataan apapun.
"Posisiku serba salah Meka......"
"Memangnya aku tidak tau. Tapi kupastikan.. sepuluh kali kau ganti istri keadaannya pun akan tetap sama. Semua keputusan ada di tanganmu..!!"
-_-_-_-_-
Hari mulai malam saat Bang Aves tiba di rumah, ia harus kembali lagi bertemu dengan ibunya.
Emosinya kembali meledak melihat ibunya sibuk dengan judi online nya.
Tak mau banyak bicara, Bang Aves merampas ponsel tersebut lalu membanting ponselnya hingga pecah berantakan.
Ibunya berteriak histeris tau hobbynya di hentikan paksa oleh putranya sendiri.
"Apa sih maumu Aves??? Kamu mau buat ibu stress???" Pekik ibu Kemala.
"Tanpa ibu judi pun ibu sudah stress. Sekarang kemasi barang ibu dan pulang ke Jakarta..!!!!" Perintah Bang Aves.
"Itu urusan ibu, rumah ini adalah hak Indira dan anak ku. Ibu tidak ada hak sama sekali." Jawab Bang Aves tidak mau tau. Ia pergi ke kamar ibunya dan mengemasi seluruh pakaian ibu Kemala.
Ibu Kemala sudah berusaha keras untuk mencegahnya tapi kenyataannya ia tidak bisa menghentikan putranya yang sedang marah.
"Ibu mau menurut atau ku penjarakan..!!" Ancam Bang Aves.
//
"Omm.. Dira nggak berani pegang adek." Kata Indira ketakutan sendiri. Apalagi baby Ray semakin rewel saja.
Bang Dallas yang sedang sibuk bicara dengan rekannya segera mendatangi Dira di kamar lalu dengan tangannya yang cekatan segera mengganti popok bayi kecilnya.
Sebenarnya Dira sudah paham tapi tidak berani menyentuh bayinya karena terlalu kecil.
Setelah beberapa saat, Bang Dallas menutup panggilan telepon nya lalu kembali fokus pada bayinya.
"ASI nya masih macet?" Tanya Bang Dallas.
Tak tau sejak kapan ASI Indira menjadi macet dan baby Ray hanya minum susu formula khusus saja.
"Nggak tau Om." Jawab Indira juga penuh sesal.
Bang Dallas mengangkat bayinya lalu meminta Indira untuk menggendongnya. "Coba buka..!! Latih si adek minum ASI..!!"
Indira merasa malu karena Bang Dallas menunggu nya disana.
"Cepat buka, ini kalau saya yang buka bisa lain ceritanya..!!" Ancam Bang Dallas.
Mau tidak mau Indira membukanya dan Bang Dallas membantu baby Ray untuk mencari sumber kehidupan nya tapi setelah mencobanya beberapa kali, baby Ray malah muntah dan tidak mau mencari ASI.
Bang Dallas merasa kasihan melihat bayi kecilnya tapi juga sekaligus tidak tega melihat Indira merasa kesakitan.
"Mau bagaimana lagi, si Abang nggak mau. Ini juga pelajaran untukmu dek. Bondingmu sangat kurang. Ini anakmu dek.. saya tau perasaanmu, tapi Ray tidak salah. Apa dia pernah minta ada di perutmu?" Tegur Bang Dallas tapi Bang Dallas pun juga tidak bisa menekan Indira untuk bisa secara langsung menerima baby Rayzan. Baby blues yang di alami Indira bukan perkara sepele.
"Kenapa Ray bukan anak Om saja?" Tanya Indira terdengar masih penuh penyesalan.
"Kata siapa bukan anak saya? Kamu nggak lihat dia anteng sama saya?"
"Tapi Om........."
"Saya tau, tapi kamu juga tau khan kalau Aves hanya titip berkah saja.. selebihnya kamu bersama sama. Apa saya salah?" Bang Dallas terpaksa mematikan ucapan Indira dengan cara seperti itu, setidaknya hingga Indira mengerti sebab menangani sindrom baby blues bukanlah hal yang mudah.
.
.
.
.