Hingga Langit Ke Tujuh

Hingga Langit Ke Tujuh
10. 'Istri' Letnan Andallas.


Mama Wita membelai rambut Indira. Belaian lembut seorang ibu yang sama sekali tidak pernah di rasakan Indira sebelumnya.


"Sepertinya Dallas sudah membuat keputusan. Mama tidak akan bicara banyak. Sekarang sini peluk Mama..!!" Mama merentangkan tangannya agar Indira bisa memeluknya.


Mama Wita paham Indira mungkin sangat trauma dengan hadirnya orang baru maka Mama Wita yang mengalah untuk langsung memeluk Indira.


"Jaga cucu Mama ya sayang. Nanti Papa bawakan vitamin untuk bekalmu disana."


"Saya tidak pantas ibu. Jangan terlalu baik Bu." Kata Indira.


"Apa saya tidak boleh menjadi Mama mu?" Tanya Mama Wita.


"Mamaaa.." Indira begitu terharu bisa memeluk seorang ibu sebaik sosok ibu Wita.


"Terima kasih Mama.. Mama mau menerima ku yang tidak sempurna ini. Tapi Mama tidak harus melakukannya. Status Dira tidak jelas." Kata Indira merasa sangat rendah diri.


"Kenapa tidak? Apapun yang di sukai anak Mama Dallas, Mama pasti akan menyukainya. Bahagianya Dallas adalah bahagianya Mama juga. Kau tau.. rasa seorang ibu terkadang memusingkan. Ia akan melakukan apapun demi kebahagiaan putranya meskipun itu salah. Mama harap kamu bisa mencari kebahagiaan mu. Jalani segalanya dengan ikhlas, menurut saja dengan garis Allah. Mudah-mudahan kamu selalu bahagia sayang." Do'a Mama Wita untuk Indira kemudian mengusap perutnya.


//


"Kamu tau aturannya Dallas, ada jeda selama masa peralihan ini. Kejadian ini juga bukan hal remeh. Apa kamu mau tinggal satu atap bersama Indira???" Tanya Papa Sutoyo.


"Aku paham Pa. Menilik dari sudut hukum dan kepercayaan semua salah. Aku sudah melangkah sampai sejauh ini dan aku akan bertanggung jawab. Biar Indira ikut bersamaku. Meninggalkan Indira disini juga bukan ide yang baik. Aves atau ibunya bisa kapan saja membuat keributan. Papa masih belum pensiun, masih sering kemana-mana begitu juga Mama dan team. Lebih baik aku membawa Indira. Asal melihat Indira di sampingku.. aku sudah lega Pa." Jawab Bang Dallas.


"Baiklah kalau itu memang keputusanmu. Sebagai orang tua, Papa hanya bisa berdo'a dan mendukung putranya. Papa tidak menyalahkan keputusan mu tapi Papa juga tidak membenarkan. Semoga kalian bahagia..!!"


"Terima kasih banyak Pa." Bang Dallas memeluk Papa Sutoyo, Papa yang selalu mendukungnya dalam keadaan apapun.


-_-_-_-_-_-


Bang Dallas mengajak Indira naik pesawat menuju tempat dimana dirinya berdinas. Indira yang berada di sampingnya terlihat begitu tegang. Bang Dallas tau hal ini adalah pengalaman pertama Indira.


"Takut?" Tanya Bang Dallas.


"Nggak." Jawab Indira setengah kesal, pria di sampingnya itu sudah tau tapi entah kenapa masih mempertanyakan hal yang sama sekali tidak penting.


Pesawat berada di ketinggian tertentu hingga terasa menabrak sesuatu. Indira yang baru merasakan pengalaman demikian langsung duduk terpaku.


"Om.. kita nabrak apa?" Bisik Indira.


Tau Indira sedang ketakutan, Bang Dallas langsung duduk bersandar. Wajahnya menunjukan ketakutan yang teramat sangat dan itu mempengaruhi Indira.


"Apa kita mau jatuh??" Tanya Indira tapi Bang Dallas masih tetap dalam ekspresi nya.


"Oom.. Om Dallas.. turun aja yuk..!!" Ajak Indira.


"Amazing, baru kali ini saya dengar ada penumpang pesawat minta turun di udara." Gumam Bang Dallas.


"Bagaimana kalau pesawat ini injak paku?" Ucap Indira semakin panik, air matanya sudah berlelehan.


"Apa kamu mau menyapu jalur langit??" Tanya Bang Dallas.


Tak lama seorang pramugari datang dan menyapa Indira.


"Ada yang bisa saya bantu Bu, apa ibu merasa tidak nyaman?"


Bang Dallas tersenyum kecil seolah mengatakan segalanya dalam keadaan baik-baik saja.


"Istri saya sedang hamil, perasaannya sensitif sekali mbak." Kata Bang Dallas.


Pramugari tersebut paham kemudian segera meninggalkan Indira dan Bang Dallas.


:


Indira mabuk parah karena terlalu tegang. Apapun itu selama masih berada di dalam penerbangan seluruhnya masih membuatnya takut.


"Sampai di sana kamu harus makan lagi dek. Perutmu kosong." Kata Bang Dallas sambil memijat tengkuk Indira.


"Kapan sampainya Om??"


Bang Dallas melihat jam tangannya. "Nggak lama, tiga jam lagi."


"Lama sekali Oom."


Senyum usil Bang Dallas tersungging menghias wajahnya.


:


Indira melirik Bang Dallas karena hanya dalam waktu setengah jam saja mereka sudah tiba di tempat tujuan.


Suasana sore daerah tersebut cukup membuat Indira tercengang. Pepohonan mengering seakan tidak ada tanaman yang hidup dengan sempurna.


Indira sempat melirik Bang Dallas yang kemudian sedikit menjauh darinya karena akan menyulut rokok.


"Duduk dulu dek, mudi nya masih jalan menuju lobby." Sengaja Bang Dallas mengajak Indira duduk di sekitar taman agar bumil bisa melihat melihat pemandangan hijau terawat sebab kondisi alam daerah Karang Tengah sedang kering kerontang.


Baru duduk beberapa saat, terlihat seorang pria mendekati Bang Dallas.


"Ijin Danton, ini jus mangga nya."


"Oke.. terima kasih ya..!!" Bang Dallas segera menyerahkan jus tersebut pada Indira. "Di minum. Si dedek sudah haus tuh."


Indira mengambilnya kemudian meneguknya. Ternyata benar, jus mangga juga bisa melegakan tenggorokan nya.


Mudi Bang Dallas sempat terbelalak tapi tidak berani bertanya apapun pada Danton.


"Kenalkan..!! ini istri saya.. Indira." Kata Bang Dallas.


"Oohh siap Danton. Ijin ibu, selamat sore." Sapa mudi tersebut.


"Selamat sore Om." Jawab Indira mengikuti saja segala apapun yang di lakukan Bang Dallas.


"Rumdis sudah siap?" Tanya Bang Dallas.


"Siap.. sudah Danton. Semua juga sudah menyesuaikan dengan arahan Danki." Jawab mudi.


"Semalam di kerjakan sampai jam berapa?"


"Ijin.. sampai jam dua pagi Danton..!!"


"Kasihan, maaf ya..!! Sebenarnya saya bisa saja masuk ke mess, tapi kasihan bumil nggak leluasa gerak." Kata Bang Dallas.


"Siap Danton, semua sudah beres."


"Ya sudah, ayo jalan sekarang. Bumil saya sudah capek sekali." Ajak Bang Dallas.


...


Sepanjang jalan Indira tidak melepas pandangan nya. Hamparan kering agaknya membuat 'istri' Letnan Andallas cukup sedih.


"Nanti tanamannya tumbuh lagi."


Indira sesenggukan hanya karena melihat tanaman kering di sepanjang jalan.


"Kasihan."


"Terus mau bagaimana? Apa mau kamu siram sepanjang jalan?? Mereka masih hidup, hanya kering saja..!!" Kata Bang Dallas.


Perjalanan masih panjang. Bang Dallas melirik Indira yang sejak tadi melihat banyaknya pedagang kaki lima di sepanjang jalan.


"Ton, berhenti dulu. Saya mau beli cucur. Tolong belikan ya..!!" Pinta Bang Dallas kemudian menarik dompet dari saku celananya. "Nggak pakai lama Ton, si baby sudah ngiler." Perintahnya sambil memberikan uang untuk mudinya.


"Siap Danton."


Indira menoleh menatap wajah Bang Dallas yang sedang memantau ponselnya. "Terima kasih ya Om. Tapi bagaimana Om bisa tau?"


"Masa ayahnya nggak tau. Aneh kamu ini." Jawab Bang Dallas santai tapi ternyata tidak dengan Indira.


Indira menunduk dengan wajah sedihnya. "Kenapa harus pria lain yang harus melakukannya? Sedangkan......"


Seketika Bang Dallas meletakan ponselnya. "Lainnya itu bagaimana? Apa hidungnya miring? Rambutnya botak?" Tegur Bang Dallas. "Saya tidak pernah memintamu menghapus seluruh memori dalam hidupmu, terutama tentang kehadiran Aves yang mengisi seluruh hatimu. Saya memaklumi karena baru dua hari kita bersama, apapun tentang dia mungkin sulit kamu lupakan tapi saya harap kamu tidak menyimpan duri yang akan membuatmu sakit sendiri." Tegur Bang Dallas.


"Kenapa Om harus seberjuang ini. Dira tidak pantas mendapatkan semua ini."


"Ya karena.. karena.......... Aahh.. itu cucur nya sudah datang." Bang Dallas kembali sibuk dengan ponselnya.


Pintu mobil terbuka. Mudi pun masuk ke dalam mobil. Terlihat Indira mengusap air matanya sedangkan Danton melihat layar ponselnya yang terbalik dengan wajah memerah.


"Ijin ibu. Ini kue cucur nya."


"Terima kasih Om." Jawab Indira kemudian menerimanya.


"Jalan Ton, jangan lihat ke belakang terus..!! Perut saya mules." Perintah Bang Dallas.


.


.


.


.