
"Baiklah kalau begitu Mama dan Papa yang akan jaga baby di rumah sakit. Kalian pulang dan istirahat lah..!!" Kata Mama Wita.
"Tapi Ma......." Indira merasa tidak enak dengan Mama Wita harus ikut bersusah payah menjaga putranya.
"It's oke sayang, kamu tidak usah banyak pikiran. Di bandingkan jaga Dallas, Mama lebih memilih jaga si Abang." Jawab Mama Wita.
"Papa juga, mikir Dallas buat rambut cepat beruban." Gerutu Papa Sutoyo. "Kita bulan madu Ma. Nanti tidurnya di penginapan sebelah rumah sakit." Goda Papa Sutoyo.
Mama Wita tersenyum geli tapi jelas Mama Wita memang wanitanya yang sangat bahagia saat ini.
Bang Dallas melihat kedua orang tuanya secara bergantian. Bisa-bisanya keduanya membahas tentang bulan madu sedangkan dirinya sendiri belum merasakannya.
...
Bang Dallas mengusap wajahnya melihat banyaknya kain milik Indira yang mulai mengering dan berbau kurang lazim. Karena dirinya sempat sakit maka 'pekerjaan khusus' ini harus tertunda. Pertama-tama ia membersihkan tembuni bayi yang sempat ia titipkan pada pihak rumah sakit.
Dirinya yang baru saja mandi bersih bersiap untuk segera menangani.
"Dallas.. Assalamu'alaikum.. berangkat yuukk..!!!" Teriak Bang Meka langsung saja masuk ke bagian belakang rumah Bang Dallas lewat area samping.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bang Dallas singkat karena sedang sibuk.
"Hhkkk.." Bang Meka mundur ketakutan melihat apa yang sedang di kerjakan littingnya. "Opo ikuuu?? Ya Allah."
Bang Aves yang ikut berjalan di belakangnya kemudian mengambil selang yang ada di samping Bang Dallas.
"Boleh ku bantu?" Tanya Bang Aves.
Bang Dallas sempat meliriknya namun Bang Dallas mengambil kembali selang tersebut. "Mandi dulu..!! Itu ada handuk di lemari dekat kamar mandi..!!" Bang Dallas pun mematikan selang airnya.
:
Keduanya pun sibuk mengurusi barang berharga milik sang putra. Tak ada yang tau isi hati kedua Danton karena tidak ada sepatah katapun dari keduanya tapi mata Bang Aves maupun Bang Dallas berkaca-kaca penuh haru.
Bang Dallas dengan telaten mencuci tembuni tersebut menggunakan asam, jeruk nipis dan garam hingga benar-benar bersih.
"Mek.. lu bantu gali lubang di sebelah kanan balkon teras ya..!!" Pinta Bang Dallas.
"Berapa centi?" Tanya Bang Meka kesal dengan panggilan untuk dirinya.
"Sepanjang lenganmu..!!" Jawab Bang Dallas.
"Oke.."
Bang Aves tak bisa berkata-kata melihat sahabatnya begitu cekatan mengurus ini dan itu.
Setelah membersihkan tembuni, Bang Dallas langsung lanjut mencuci.
:
"Kamu yang beri nama." Kata Bang Dallas kemudian meninggalkan Bang Aves. Namun beberapa saat melangkah, Bang Aves menarik tangan Bang Dallas.
"Jangan berdebat lagi. Carikan nama untuknya..!!"
"Aku ingin menyematkan namaku, tapi seluruh dunia tau batasan ku. Kau yang jangan berdebat lagi. Jangan jatuhkan harga diriku demi sebuah nama..!!" Jawab Bang Dallas. "Cepat.. aku tunggu..!!"
~
Bang Dallas menyerahkan kendhil yang sudah tertutup rapat, mereka menggunakan budaya yang selama ini mereka yakini. Bang Aves menerimanya lalu menguburkan tembuni bayi milik putranya.
Nyaris ia meneteskan air mata tapi Bang Dallas menyenggolnya dan Bang Aves menutupnya dengan tanah.
...
Indira sama sekali tidak keluar dari kamar. Bahkan untuk kopi dan menyuguhi tamunya, semua di lakukan Bang Dallas sendiri dan kedua sahabatnya bisa memaklumi keadaan ini.
"Anakmu bisa balik kapan?" Tanya Bang Meka mengarah pada Bang Dallas.
Nampaknya Bang Aves harus mulai terbiasanya dengan kata-kata itu. Sepahit apapun, ia harus sanggup menerimanya.
"Dua belas hari lagi. Dua mingguan lah." Jawab Bang Dallas.
"Syukur lah. Apa setelah itu kalian langsung menikah?" Pertanyaan Bang Meka tanpa sungkan tapi cukup membuat ketegangan dari pihak Bang Aves maupun Bang Dallas sendiri.
"Itu sudah jelas." Bang Dallas pun menegaskan semuanya.
"Naah.. kalau begini jelas sudah." Jawab Bang Meka.
"Kau kapan nikah?" Ledek kedua Danton bersamaan.
"Kalian nggak usah kepo. Aku sudah niat, tapi mungkin jodohku sempat di ab**si, jadi telat datang." Bang Meka menyambar pisang goreng di meja. "Ngomong-ngomong ibumu ikut disini terus Ves??"
Bang Aves menunduk, ia bingung menjawabnya. Bang Dallas pun menghisap rokoknya seolah tidak mendengar apapun. Ia tau setelah semua kejadian ini, tidak mungkin seorang pria akan diam saja dan tidak memutuskan sesuatu.
\=\=\=
Berat badan baby Rayzan Al-Fath sudah menunjukan peningkatan dan hari ini Abang Ray sudah di ijinkan pulang ke rumah.
Kepulangan baby Ray sekaligus akan menjadi acara syukuran kelahiran 'putra pertama' Letnan Andallas nanti malam.
Senyum bahagia terpancar dari wajah Bang Dallas. Ia menggendong baby Ray juga menyampirkan tas di bahunya. Tangannya pun juga masih sempat menggandeng tangan Indira.
"Akhirnya anakku pulang juga." Gumamnya di sela senyumnya.
Indira pun ikut tersenyum. Bagaimana hatinya tidak bahagia, selama bersama dengan Bang Dallas, tidak pernah sekalipun pria itu menyakiti hati dan fisiknya.
Papa dan Mama berpamitan kembali ke Jakarta karena selama dua Minggu ini para tetua meninggalkan pekerjaan nya.
"Hati-hati momong anak bini, jangan sembrono. Papa dan Mama tidak bisa kembali cepat karena sudah libur lama. Lain kali kami jenguk kalian lagi." Kata Papa Sutoyo.
"Iya Paaa.. Papa ini kenapa nggak percaya amat sama anak." Jawab Bang Dallas.
"Masalahnya kamu benar-benar tidak bisa di percaya, Dallas." Papa pun melenggang pergi setelah mencibir putranya.
-_-_-_-_-
Malam tiba, do'a bersama di rumah Bang Dallas juga terlihat sangat ramai. Rona bahagia terpancar dari wajah Letnan Andallas juga Indira.
Senyum Indira lenyap seketika saat melihat Bang Aves datang.
Bang Dallas mengusap puncak kepala Indira. "Jangan begitu, saya yang mengundangnya. Nggak apa-apa ya..!!"
Indira mengangguk meskipun sebenarnya ia tidak senang.
"Terima kasih banyak atas kehadiran rekan-rekan semua. Ayo silakan duduk..!!" Oceh Bang Meka bak tuan rumah yang sesungguhnya.
Bang Aves mendekat pada Bang Dallas, ia melirik si kecil baby Ray dalam gendongan ayahnya. Ada senyum bahagia bercampur haru.
POV Bang Aves on..
Inikah bayi kecil yang kutunggu hadirnya? Mungil, kecil tanpa dosa. Yaa.. aku lah yang berdosa sempat meragukan dirinya. Aku menuduhnya tanpa perasaan dan kini bayi kecil ini terlahir mengangkat bibir ku dan hidungku meskipun selebihnya milik Indira tapi entah kenapa sorot matanya sangat mirip dengan Dallas.
Kusentuh jemari kecil dalam gendongan ayahnya. Anteng, dan nyenyak dengan pipinya yang mulai mengembang karena mungkin ASI Indira sangat bagus.
Aku nyaris tidak bisa menahan laju tetes air mataku. Bagaimana tidak, aku tidak bisa sebebas ini memeluk putraku sendiri. Kusadari semua ini adalah karma nyata yang harus kuterima akibat kebodohan cara pikirku.
Pahit.. pahit.. dan teramat pahit ku telan. Kehilangan anak dan istri sungguh luar biasa sakitnya. Sesal tak berujung terus memukul jiwaku.
POV Bang Aves off..
Tanpa kata Bang Dallas menyerahkan baby Ray pada Bang Aves. Tak tau bagaimana perasaan Bang Aves saat ini. Ia menggendong bayinya benar-benar seijin sahabatnya.
Dengan sayang Bang Aves menggendongnya penuh hujan tangis. "Bisakah kusebut diriku Papa di hadapan mu? Maukah kamu memaafkan kesalahanku? Maaf.. aku salah. Aku membuatmu dan Mama menangis."
Indira beranjak meninggalkan Bang Aves dan Bang Dallas kemudian masuk ke dalam rumah tapi Bang Dallas meraih tangan Indira.
"Tahan ego mu dek."
"Apa hati Om tidak sakit? Mana ucap Om yang tidak akan mengijinkan dia untuk mengakui Ray??" Tanya Indira.
Bang Dallas memeluk Indira dan menenangkan wanita yang kini sudah mengisi seluruh isi hatinya.
"Saya marah, hati ini sakit sekali bahkan terkadang rasanya tidak sanggup. Tapi siapakah saya yang seenak jidat memutuskan semua perkara. Cukup kamu pahami saya, jangan menyenggol tentang harga diri laki-laki.. bisa di panggil ayah saja saya sudah bersyukur. Sebab sekeras apapun saya mengakui, darah tidak bisa di ganti. Saya tetap kalah." Jawab Bang Dallas.
.
.
.
.