Hingga Langit Ke Tujuh

Hingga Langit Ke Tujuh
13. Mulai ada pendekatan.


Bang Dallas masuk ke dalam rumah dinasnya. Dalam jangka waktu beberapa jam saja rumahnya sudah terlihat sangat cantik meskipun ia tau barang yang di gunakan Indira bukanlah barang yang mahal.


Baru saja kakinya melangkah masuk, Indira terhuyung beberapa langkah ke belakang. Untung saja Bang Dallas masih sigap menahannya.


Beberapa anggota yang ada disana sampai panik melihat ibu Danton nyaris pingsan. Wajahnya juga sangat pucat.


"Eehh.. kamu kenapa dek???" Tanya Bang Dallas tiba-tiba ikut panik. "Waahh.. kecapekan kamu nih."


Tanpa banyak bicara Bang Dallas membawa Indira masuk ke dalam kamar. Bang Dallas tak peduli lagi dengan apa yang akan di pikirkan anggotanya. Ia hanya memikirkan kesehatan Indira dan calon bayinya.


:


"Masih pusing??? Apa kamu ikut menghias rumah??" Tegur Bang Dallas sambil memijati kaki Indira.


Indira mengangguk. "Kalau Indira nggak tangani sendiri nanti nggak cocok Om."


"Tapi jaga kesehatanmu juga. Badanmu masih adaptasi, si kecil baru saja tumbuh di perutmu. Seharusnya kamu paham, saya meminta banyak orang untuk membantu kamu biar kamu nggak kecepekan. Sekarang kalau lemas begini, nggak selesai juga kerjaannya." Gerutu Bang Dallas. "Jadinya bagaimana nih?? Ruang tamunya kurang bagaimana?"


Sebenarnya suara Bang Dallas sudah selembut mungkin tapi tetap saja suara itu begitu menyakitkan hati Indira dan bagi Indira ucap Bang Dallas masih terdengar sangat kasar. Akhirnya Indira pun menangis.


"Kenapa nangis?? Apa ada anggota yang kurang ajar?? Sini.. biar saya tempeleng orangnya..!!!" Kata Bang Dallas sama sekali tidak peka dengan keadaan.


"Om yang bikin nangis. Seharusnya Om yang di tempeleng." Jawab Indira kesal.


"Lho.. ko' saya???" Bang Dallas pun bingung karena tidak paham di mana letak kesalahannya.


\=\=\=


Beberapa waktu berlalu. Segala hal di antara Bang Dallas dan Indira berjalan datar saja pasalnya dirinya pun menjaga suasana hati Indira agar tidak terlalu sering menangis. Hal-hal kecil di buatnya juga agar Indira tidak merasa kesepian di rumah.


Selama bersama dengannya, Bang Dallas membebaskan Indira melakukan hal apapun yang di sukai bumilnya. Baginya kebahagiaan Indira adalah hal yang paling utama.


tok.. tok.. tok..


Indira membuka pintu rumahnya. Terlihat sebuah boneka monyet yang sangat besar memakai baju tentara berdiri tepat di hadapannya.


"Ijin ibu, ini ada kiriman dari Danton."


Seorang lagi membawa bucket bunga untuk Indira.


"Selamat ulang tahun Ibu Indi Andallas, semoga ibu panjang umur, sehat selalu serta di berikan kelancaran dalam menjalani kehamilan sampai waktu persalinan." Ucap kedua orang anggota di hadapannya. Entah berapa lama mereka menghapal kata-kata tersebut.


"Terima kasih banyak Om." Indira menerima bucket dan boneka tersebut. Ia tak bisa menyembunyikan rasa haru hingga tangisnya tumpah.


"Aduuhh.. ibu, tolong jangan nangis. Kami bisa di hajar Danton." Kata salah seorang di antaranya.


"Dimana Danton?" Tanya Indira.


"Danton sedang.............."


//


"Aaargh.. aseem..!! Ojo curang to." Protes Bang Meka saat melawan Bang Dallas adu panco.


"Siapa yang curang, kamu saja yang lemah." Jawab Bang Dallas kemudian mendapat panggilan telepon dari salah seorang anggota.


"Ono opo? Sudah di terima hadiahnya?" Tanya Bang Dallas sambil meladeni Bang Meka adu panco.


"Ijin Danton. Ibu.. minta Danton segera pulang." Jawab anggota nya.


"Memangnya ada apa? Bilang satu jam lagi saya pulang. Sebentar lagi apel sore."


"Masalahnya........"


:


Bang Dallas berjalan cepat mendekati Indira. Ia memastikan apakah da luka lecet di sekitar tubuh Indira.


"Tadi jatuh? Ada yang sakit?" Tanya Bang Dallas.


Indira menggeleng tapi wajahnya terlihat begitu sedih.


"Kamu kenapa?? Jangan buat saya takut....!!!!! Sudah kita ke dokternya saja." Ajak Bang Dallas.


"Uangnya di lem. Nggak bisa di bongkar." Kata Dira sampai sesenggukan.


"Allahu Akbar..!!!!" Bang Dallas menepuk dahinya. Ia menarik nafas dalam-dalam, di aturnya jalan nafasnya. Sungguh Bang Dallas sempat kaget karena takut terjadi sesuatu pada calon bayinya yang masih berusia lima bulan. "Itu uangnya bisa di lepas pelan-pelan." Kata Bang Dallas.


Sudah satu bulan ini Indira baru bisa membuka hati padanya. Sudah mau memakai uang pemberian Bang Dallas.


Flashback Bang Dallas on..


"Kenapa tidak ada pengeluaran sedikit pun? Kamu tidak belanja? Pakaian mu sudah mulai sempit khan dek??" Tanya Bang Dallas menegur Indira karena memang di aplikasi Bank nya tidak ada pengeluaran apapun.


Indira menunduk, agaknya calon istrinya itu masih takut menggunakan uangnya.


"Sebenarnya kamu ini kenapa?"


"Dira tidak berhak Om. Dira juga bukan siapa-siapanya Om Dallas." Jawab Indira,


"Andai saja belum ada dedek di perutmu pasti kamu sudah sah menjadi istri saya." Kata Bang Dallas. "Kenapa kamu menghindari saya?? Apa di hatimu masih ada Aves??" Mata Bang Dallas berkaca-kaca tapi ia mengalihkan pandangannya.


Indira menangis tak sanggup menjawabnya.


"Kalau kamu memang sangat mencintainya, saya akan menikahimu kemudian mengembalikanmu padanya, tapi sebelum itu.. ijinkan saya memberi hadiah untukmu dan si kecil, tolong kamu jangan menolaknya." Pinta Bang Dallas. "Bisakah untuk beberapa saat saja kamu menjadi istri saya? Setelah itu, saya janji tidak akan meminta apapun lagi dari mu." kemudian Bang Dallas melangkah meninggalkan Indira.


Indira menunduk dan tangisnya semakin kencang. Bang Dallas sempat meliriknya tapi ia tidak bisa menerka apa yang di rasakan Indira saat itu.


Flashback Bang Dallas off..


"Nggak bisa Om. Dira sudah coba." Kata Indira sampai sesenggukan.


Bang Dallas sudah bersiap melepasnya tapi Indira menarik tangannya.


"Jangan Om..!!" Cegah Indira.


"Terus bagaimana?? Kalau mau di ambil uangnya ya harus di lepas..!!"


"Sayang.. Nanti rusak." Jawab Indira.


Bang Dallas menghela nafas, ternyata pokok persoalannya bukan pada uangnya tapi semua karena Indira sayang sayang jika bucket bunganya sampai rusak.


"Sudah.. jangan nangis lagi, ini saya gantiin deh." Bang Dallas mengambil seadanya uang dari dompetnya. "Nih buat jajan..!! Saya bayar full."


Indira menghitung jumlah yang di berikan Bang Dallas padanya. "Kurang dua ribu Om. Katanya di bayar full." Protes Indira.


"Huusshhh.." Bang Dallas merasa tidak enak sendiri dengan dua orang anggotanya. Secepatnya Bang Dallas merogoh semua sakunya dan menemukan uang sepuluh ribu rupiah.


"Ini kelebihan Om, Dira nggak punya kembalian." Selama hamil tiba-tiba saja Indira sering berkelakuan aneh.


"Bawa dah. Bonus..!!" Jawab Bang Dallas tak ingin cari ribut.


.


.


.


.