H-22 : ASSASSIN

H-22 : ASSASSIN
H22A - 29


7 TAHUN KEMUDIAN...


 


 


Seorang gadis cantik berjas hitam tengah mengotak-atik komputernya. Seseorang mengetuk bilik pembatas. Gadis itu menoleh.


 


 


"Xylona, ada seseorang yang ingin menemuimu."


 


 


Xylona tampak bingung. Dia menunjuk dirinya sendiri seolah bertanya, 'Aku?'


 


 


Perempuan itu mengangguk. "Dia ada di ruangan Bos."


 


 


Xylona semakin kaget. Gadis itu pergi ke ruangan Bos. Gadis itu mengetuk pintu.


 


 


"Masuk!"


 


 


Xylona pun masuk. Dia melihat ada dua orang pria di ruangan itu. Yang satu adalah Bosnya dan yang satunya orang asing yang belum pernah dia temui.


 


 


"Xylona, kemarilah."


 


 


"Iya, Bos?"


 


 


"Apa kau mengenalnya?"


 


 


Xylona menatap pria yang menjadi tamu Bosnya. Kedua mata pria itu juga tengah menatapnya. Xylona kembali menoleh pada Bosnya.


 


 


"Dia teman lamaku sewaktu kuliah. Katanya dia temanmu sewaktu SMA di Desa Amrita."


 


 


Deg!


 


 


Xylona terkejut saat nama Desa Amrita disebut. Tempat itu adalah tempat yang sangat mengerikan baginya. Tempat yang memberikan banyak kenangan buruk.


 


 


"Erfrain, katakan sesuatu," kata Bos.


 


 


"Xylo," sapa Erfrain.


 


 


"Rain."


 


 


Setelah menjelaskan banyak hal, keduanya pergi ke cafe terdekat untuk berbincang. Namun, nyatanya mereka berdua hanya diam. Situasi dikuasai oleh kesunyian.


 


 


Erfrain pun memilih bicara duluan, "Ternyata kau berbohong. Kau bilang, kau akan sering datang ke Desa Amrita untuk menemuiku. Selama 4 tahun ini kau tidak datang, kenapa?"


 


 


Xylona menunduk. "Maaf...."


 


 


Erfrain mengernyit. "Aku ingin mendengar alasanmu, bukan permintaan maafmu."


 


 


Xylona menatap wajah Erfrain dengan mata bergetar. "Alasanku? Alasanku... aku tidak tahu siapa kau."


 


 


Erfrain mendengarkan.


 


 


"Aku tidak tahu, kenapa aku harus kembali ke desa itu untuk menemuimu, sementara aku tidak mengenalmu."


 


 


Alasan Xylona tidak terdengar masuk akal. Erfrain kembali bertanya, "Maksudmu?"


 


 


"Kau pembunuhnya. Kau yang membunuh mereka semua," kata Xylona.


 


 


Erfrain masih diam dan menatap gadis di depannya.


 


 


"Soal CCTV itu... sebenarnya aku melihat semuanya. Kakakku memasang CCTV di setiap penjuru rumah. Aku melihat seseorang yang mirip denganku diperkosa oleh Enzo dan Kris. Ganti hari... aku melihatmu berdiri di depan rumahku bersama seseorang yang tidak aku kenali. Lalu... hampir setiap hari kau datang dan berdiri di depan rumahku setelah kematian kakakku. Selain itu, kau menunjukkan jati dirimu yang asli setelah kau melepaskan kacamatamu. Setiap tanggal 23, kau akan terlihat aneh, bahkan tidak masuk sekolah. Apa kau masih mau menyangkal?" Jelas Xylona diakhiri dengan pertanyaan.


 


 


Erfrain tidak bisa menjawab.


 


 


"Aku tidak tahu kau ini apa dan siapa, aku benar-benar bingung memikirkan ini. Setiap bersamamu, kejadian aneh yang tidak masuk akal selalu terjadi. Seharusnya dari awal aku tidak bertemu denganmu atau berteman denganmu. Aku kecewa setelah mengetahui ini... dan... kau juga yang membunuh kakakku, kan?"


 


 


Erfrain menggeleng. "Aku tidak membunuhnya."


 


 


"Mungkin menurutmu membunuh mereka yang melakukan kesalahan adalah bentuk dari sebuah hukuman agar tidak ada lagi yang berbuat seperti itu, tapi... itu bukan sebuah pilihan. Kau tidak bisa merenggut nyawa mereka seenaknya. Itu tugas Tuhan. Selain itu, kau juga tidak bisa membunuh orang-orang yang tidak bersalah seperti kakakku dan rekan-rekannya." Xylona beranjak dari tempat duduknya kemudian berlalu.


 


 


 


 


Gadis itu pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Erfrain yang terdiam. Pria itu merogoh sesuatu dari kantongnya, ternyata sebuah kotak merah beludru. Dia membukanya. Isinya adalah sebuah cincin yang sangat cantik.


 


 


Erfrain menyewa kamar hotel. Dia merenungkan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Ada rasa senang saat Xylona mengatakan kalau gadis itu pernah mencintainya, tapi mungkin sekarang tidak lagi, karena Xylona sudah mengetahuinya.


 


 


Sementara itu, Xylona juga sedang melamun di apartemennya. Dia sangat merindukan Erfrain, tetapi dia juga takut. Setelah memikirkan bahwa Erfrain adalah si pembunuh berantai di Desa Amrita, gadis itu ketakutan. Dia takut menjadi korban berikutnya. Namun di sisi lain, Xylona juga merasa senang, karena dia dan Erfrain bertemu setelah sekian lamanya. Erfrain terlihat baik-baik saja.


 


 


Keesokan harinya, Xylona pergi ke kantor seperti biasa. Dia melihat beberapa karyawan berkerumun membicarakan sesuatu. Karena penasaran, Xylona pun bergabung.


 


 


"Ada apa, ya?" Tanya Xylona.


 


 


"Apa kau tahu? Pembunuh berantai di Desa Amrita sudah tertangkap!"


 


 


Xylona terkejut. Dia mulai panik dan memikirkan hal terburuk yang bisa saja terjadi pada Erfrain karena kemarin dia melukai perasaan pria itu.


 


 


"Siapa pembunuhnya?" Tanya Xylona.


 


 


"Seorang laki-laki yang masih muda. Dia membunuh orang-orang yang jahat dan laki-laki itu menganggapnya sebagai hukuman yang pantas didapatkan oleh mereka. Lebih lengkapnya bisa kau cari di Youtube atau Google."


 


 


"Bagaimana bisa dia tertangkap?" Tanya yang lain.


 


 


"Dia mengaku bahwa dirinya ingin berhenti membunuh demi gadis yang dia cintai."


 


 


Xylona semakin panik. Apakah Erfrain orangnya? Apa benar-benar dia?


 


 


"Percuma saja dia menyerahkan diri demi gadis itu. Pada akhirnya dia akan dihukum mati, kan?"


 


 


Hukum mati? Xylona mengambil ponselnya dan mulai melihat Youtube.


 


 


"Hus! Tidak penting alasannya apa. Yang penting pembunuhan tanggal 22 itu berakhir dengan tertangkapnya si pembunuh."


 


 


"Aku permisi dulu." Xylona bergeras pergi.


 


 


Bosnya memanggil. "Xylona?! Kau mau kemana?!"


 


 


"Bos, saya izin cuti!" Xylona segera berlari dan memasuki mobilnya. Gadis itu mencari berita tentang si pembunuh lewat Youtube. Sambil menyetir, dia mendengarkan beritanya.


 


 


"... kantor polisi setempat melarang media meliput si pembunuh, tapi kita diberikan rekaman audio dari si pembunuh...."


 


 


Xylona memperbesar volumenya.


 


 


Terdengar suara yang disamarkan mulai berbicara, "Iya, aku yang membunuh mereka semua. Terlalu banyak yang harus aku sebutkan. Aku tidak ingat semuanya. Mereka memang pantas mendapatkannya. Mereka berbuat jahat pada orang lain dan aku hanya membalas apa yang sudah mereka lakukan. Aku hanya membunuh orang yang bersalah. Aku juga ingin mengatakan sesuatu pada seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Aku mencintaimu, gadisku. Aku sangat mencintaimu. Aku rela menyerahkan diriku pada polisi, karena aku tahu kau membenciku setelah tahu bahwa aku seorang pembunuh berantai. Terima kasih telah bersamaku selama ini, menjadi temanku, dan selalu melindungiku tanpa kau sadari, aku adalah seorang pembunuh. Maaf mengecewakanmu. Ini adalah hari terakhirku melihat dunia. Sampai jumpa."


 


 


Xylona menangis.


 


 


Pembawa berita mengambil alih, "Itu adalah kata-kata terakhir yang direkam oleh pihak kepolisian. Besok dini hari, tersangka akan ditembak mati sebagai hukuman atas apa yang telah dia lakukan selama ini."


 


 


Xylona menginjak gas. Dia tiba di kantor polisi dan menyerobot masuk.


 


 


"Nona, anda tidak bisa masuk sembarangan."


 


 


"Mana tersangka pembunuh berantai yang baru kalian tangkap? Aku harus melihatnya!" Xylona tidak bisa mengendalikan diri.


 


 


"Aku disini. Ada apa mencariku?"


 


 


Xylona menoleh ke sumber suara. Kedua matanya terbelalak lebar.


 


 


👓👓👓


 


 


23.08 | 23 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah