H-22 : ASSASSIN

H-22 : ASSASSIN
H22A - 23


Di luar masih hujan.


 


 


Drystan sangat marah mendengar cerita Erfrain, namun di sisi lain dia juga merasa sedih. "Sejak kecil Xylona tidak pernah memiliki teman, karena dia dibully teman-temannya. Saat masuk SMA, dia punya banyak teman. Tapi, sayang sekali aku harus pindah ke tempat ini dan Xylona juga pindah SMA. Dia mendapatkan perlakuan buruk juga di sini. Selain itu, jika aku tidak kesini, mungkin aku tidak akan menyaksikan teman-temanku mati."


 


 


Erfrain tidak menanggapi. Dia melihat penyesalan yang begitu besar di mata Drystan.


 


 


"Aku harus membawa Xylona ke rumah sakit, dia membutuhkan penanganan secepatnya." Drystan bangkit dari tempat duduknya.


 


 


"Tidak perlu membawanya ke rumah sakit. Xylona akan segera sadar. Jika kau pergi keluar, kau akan berada dalam bahaya," ucap Erfrain.


 


 


Bagi Drystan ucapan Erfrain terdengar seperti sebuah ancaman. Namun, dia berpikir kalau Erfrain mengkhawatirkannya, karena sekarang adalah tanggal 22 di mana pembunuhnya masih berkeliaran. Tapi, dia merasa ada yang aneh pada Erfrain. Laki-laki di depannya tidak seperti Erfrain. Dia malah terlihat seperti pria yang seumuran dengannya. Apalagi cara berbicaranya juga berbeda dengan Erfrain yang dia kenal.


 


 


Drystan menatap laki-laki di depannya dengan serius. "Apa aku tidak salah lihat? Bagaimana bisa kau mengalahkan serigala-serigala itu?"


 


 


Erfrain dengan konyol menjawab, "Mungkin aku hanya sedikit beruntung."


 


 


"Keberuntungan macam apa? Kau membunuh 8 ekor serigala hanya dengan pisau. Dan... bagaimana bisa mereka menghilang setelah mati?" Drystan menatap Erfrain menandakan dia sangat membutuhkan jawaban.


 


 


Belum mendapatkan jawaban, Drystan kembali memberikan pertanyaan, "Jika kau bisa membunuh hewan buas dengan mudah, seharusnya kau juga bisa melawan orang-orang yang sudah membullymu selama ini. Kenapa kau membiarkan mereka melakukan itu padamu? Kau pasti punya alasan."


 


 


Erfrain masih diam tidak memberikan jawaban.


 


 


"Apa kau yang membunuh para pembully itu selama ini?" Drystan langsung ke pertanyaan inti.


 


 


Erfrain menatap Drystan dengan serius. "Kenapa kau berpikir begitu?"


 


 


"Semua korban dari SMA AMRITA adalah orang-orang yang suka membully, memperkosa, korupsi, dan lainnya. Aku pikir, kau yang membunuh mereka karena alasan itu," jelas Drystan.


 


 


Erfrain tersenyum tipis. "Benar."


 


 


Sungguh pengakuan Erfrain membuat Drystan merinding. "Kau... kalau begitu, kau terinspirasi pada seseorang yang membunuh di masa lalu dengan cara yang sama?"


 


 


Erfrain menggeleng. "Itu juga aku."


 


 


Deg!


 


 


Drystan membeku.


 


 


"Aku yang membunuh mereka semua dari awal desa ini dibangun. Bahkan jauh sebelum itu, aku juga sudah membunuh."


 


 


Drystan menutup mulutnya. "Ba-Bagaimana bisa? Aku tidak percaya. Coba kau sebutkan tanggal-tanggal pembunuhannya."


 


 


"Setiap tanggal 22 di setiap bulan, aku tidak ingat dengan bulan dan tahunnya, karena aku tidak pernah menghitungnya, bukankah kau juga sudah tahu tentang itu," jawab Drystan tanpa beban.


 


 


Drystan mengambil catatan dan mulai menulis. "Aku tidak percaya kau mengatakannya dengan sesantai ini. Selain itu, aku lebih tua darimu, panggil aku Kakak."


 


 


Erfrain menggeleng. "Aku tidak mau, bagiku kau adalah seorang bayi."


 


 


Drystan merasa kesal, tapi dia segera memberikan pertanyaan lain tanpa merasa takut sedikitpun kalau dirinya akan menjadi korban selanjutnya. "Apa kau seorang time traveler?"


 


 


Erfrain balik bertanya, "Apa kau tidak takut jika nantinya kau menjadi korban selanjutnya? Hari ini sudah memasuki tanggal 22 sejak 3 jam yang lalu."


 


 


Drystan menoleh pada Xylona kemudian kembali menatap Erfrain. "Aku akan menangkapmu dan memasukkanmu ke penjara. Kau tidak akan bisa membunuhku."


 


 


 


 


"Teman-temanku mati di depanku, aku tidak akan menyianyiakan pengorbanan mereka. Selain itu, ini adalah tugasku sebagai seorang polisi." Pandangan Drystan tertuju pada 3 kantong mayat di ruangan itu.


 


 


Erfrain menghela napas panjang. "Baiklah, setelah kau menginterogasiku, kita bertarung di sini untuk menentukan siapa yang mati. Aku tidak mau menyerahkan diri padamu, tapi terlanjur ketahuan, lebih baik aku menceritakan semuanya."


 


 


Drystan menyanggupi itu. "Kau bilang, kau adalah orang yang sama yang membunuh para korban sejak desa ini dibangun. Jadi, apa kau seorang time traveler, atau bagaimana?"


 


 


"Aku bukan penjelajah waktu."


 


 


Drystan mengajukan pertanyaan lain, "Kau berusia berapa tahun?"


 


 


"Usiaku sama dengan umur cincin yang kau temukan disetiap jari korban."


 


 


Kedua mata Drystan membulat. Keringat dingin mengalir dari dahinya. "Apa kau manusia?"


 


 


Tiba-tiba seluruh kaca di rumah itu pecah tanpa sebab, termasuk cermin raksasa di ruang keluarga. Drystan menutupi telinganya yang tiba-tiba mendengar suara berdengung. Sekelebat bayangan masuk lewat jendela dengan sebuah pedang di tangannya.


 


 


Erfrain melihat pria berjubah hitam itu berteleportasi ke arah Xylona yang terbaring di ranjang. Melihat Xylona dalam bahaya, Erfrain melindungi Xylona dengan membungkuk menghalangi Xylona dari pria itu.


 


 


Krassshhh!


 


 


Pedang pria itu melukai punggung Erfrain hingga darahnya terciprat ke wajah Xylona.


 


 


Dengan cepat juga dia berteleportasi ke arah Drystan. Erfrain melompat dan melemparkan pisaunya, namun kali ini dia terlambat. Dalam sekali tebasan, tubuh Drystan terbelah menjadi dua.


 


 


Seketika darah membanjiri ruangan itu.  Pisau yang tadi dilemparkan Erfrain berubah menjadi pedang dan menancap di dada pria itu. Darah berwarna hitam mengalir dari dadanya.


 


 


Erfrain menatap nanar pada jasad Drystan yang mengenaskan.


 


 


Pria berjubah hitam itu menarik pedang Erfrain dari dadanya. Dalam beberapa detik, lukanya perlahan menghilang. Dia melihat luka di punggung Erfrain yang masih mengeluarkan darah.


 


 


"Apa kau benar-benar manusia sekarang? Menyedihkan sekali, lukamu tidak segera sembuh menandakan instingmu sebagai manusia sedang bereaksi," ucap pria itu.


 


 


Erfrain menatap tajam pada pria itu. "Apa kau gila? Kau membunuh manusia tidak bersalah. Kau akan dihukum untuk itu, Edgar."


 


 


"Aku tidak peduli, kau yang mulai duluan. Bagaimana bisa kau memiliki perasaan terhadap manusia?" Tanya pria bernama Edgar itu.


 


 


"Kembalilah ke Athanasia dan penuhi hukumanmu!" Perintah Erfrain.


 


 


"Aku tidak akan kembali, kecuali kau ikut bersamaku!" Kata Edgar penuh penekanan.


 


 


Erfrain tidak memberikan jawaban. Dia mendengar suara Xylona yang meringis. Dia menoleh pada Xylona yang perlahan membuka matanya. Erfrain memberikan insyarat agar Edgar segera pergi.


 


 


Pria itu mendengus kesal kemudian menghilang.


 


 


👓👓👓


 


 


11.57 | 22 Januari 2020


By Ucu Irna Marhamah