
πππ
γ
γ
_Donβt trust what you see before you know what happen in your life._
γ
γ
πππ
γ
γ
γ
γ
Perlahan kedua mata Xylona terbuka. Dia melihat seorang pria duduk di bangku di samping ranjang tempat dia berbaring. Pandangan mereka bertemu. Xylona memerlukan waktu untuk mengenali pria itu.
γ
γ
"Rain?" Akhirnya dia mengenalinya.
γ
γ
"Kau haus?" Erfrain memberikan segelas air pada Xylona.
γ
γ
Gadis itu meneguknya sampai habis. "Bagaimana bisa kau menemukanku? Aku pikir, aku sudah mati."
γ
γ
"Aku merasa cemas saat kau tak kunjung kembali, jadi kupikir aku harus menyusulmu ke sekolah. Aku menemukanmu di kolam renang," kata Erfrain.
γ
γ
Xylona memegang kepalanya. "Lolita memukul kepalaku kencang sekali."
γ
γ
Erfrain mengusap kepala Xylona dengan lembut. "Mereka tidak akan membuat masalah lagi."
γ
γ
Mendengar itu, Xylona tampak bingung. "Kenapa?"
γ
γ
"Mereka dinyatakan tewas."
γ
γ
Deg!
γ
γ
Xylona memang membenci mereka, tapi bukan ini yang dia harapkan. "Apa pembunuh itu... mereka menghabisi 5 orang sekaligus?"
γ
γ
Erfrain menggeleng. "Lebih banyak lagi."
γ
γ
Perasaan Xylona mulai tidak enak. Erfrain pun terpaksa memberitahu Xylona mengenai apa yang terjadi pada kakaknya. "Kak Drystan... dia...."
γ
γ
Kedua mata Xylona membulat. "Kakakku... apa yang terjadi padanya?"
γ
γ
"Dia gugur bersama rekannya saat berpatroli."
γ
γ
Tangisan Xylona pecah. Gadis itu benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya. Erfrain memeluk Xylona.
γ
γ
"Kakaaak," tangis Xylona.
γ
γ
Erfrain terpaksa harus mengganti jenazah para polisi agar terlihat meninggal dengan wajar karena pisau dan meletakkan jenazah mereka di tengah hutan. Jika tidak, warga akan syok melihat jasad aslinya. Dia juga tidak ingin Xylona melihat keadaan jenazah kakaknya yang mengenaskan.
γ
γ
SMA AMRITA semakin heboh dengan kabar kematian 5 orang siswanya sekaligus. Apalagi kali ini hanya kepalanya saja yang ditemukan.
γ
γ
SMA AMRITA tidak bisa menutupi kasus ini, karena sebagian besar pihak kepolisian juga banyak yang meninggal, sehingga pihak sekolah kesulitan menangani ini. Jadi, korbannya lebih banyak dari dugaan Erfrain.
γ
γ
Sehingga SMA AMRITA ditutup untuk sementara.
γ
γ
Setelah kembali ke kota untuk memakamkan Drystan, Xylona kembali ke rumahnya di Desa Amrita. Dia menjadi semakin tertutup. Gadis itu menghabiskan waktunya dengan melamun di teras rumahnya.
γ
γ
"Bagaimana bisa aku kehilangan orang-orang yang berharga di hidupku." Lagi-lagi gadis itu menangis.
γ
γ
Sesekali Erfrain datang ke rumah Xylona. Dia ingin melihat keadaan gadis itu. Kepergian satu-satunya orang yang paling berharga adalah guncangan yang berat bagi gadis seusia Xylona. Namun, Erfrain tidak benar-benar menemuinya. Dia hanya datang dan melihat Xylona tanpa sepengetahuan gadis itu.
γ
γ
Hari ini, Erfrain sedang di rumahnya. Dia sedang tidak mood. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Erfrain mengejutkan keningnya.
γ
γ
"Untuk pertama kalinya ada seseorang yang datang mengetuk pintu rumahku." Erfrain keluar dan melihat siapa yang datang, ternyata Xylona.
γ
γ
Gadis itu menunduk. "Aku... aku hanya ingin bertemu denganmu."
γ
γ
Erfrain tersenyum. "Masuklah."
γ
γ
γ
γ
Erfrain kembali dengan minuman dan cemilan. Dia meletakkannya ke meja. Xylona mendongkak menatap laki-laki itu. Melihat Erfrain sedikit berbeda, Xylona menjadi canggung. Dia tidak tahu harus bicara apa. Padahal awalnya dia berniat untuk mencurahkan isi hatinya pada Erfrain, karena dia merasa kesepian setelah kakaknya meninggal.
γ
γ
Dari tadi Erfrain juga diam saja. Dia menunggu Xylona bicara duluan. Pada akhirnya keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
γ
γ
Aku menyesal datang kemari, rasanya aku sedang berhadapan dengan orang asing, batin Xylona.
γ
γ
Kenapa dia diam saja? Apa aku terlihat menakutkan? Pikir Erfrain. Laki-laki itu menoleh ke cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya. Dia terlihat baik-baik saja dan yang pasti dia tampan.
γ
γ
"Xylona? Apa kau mau menanyakan sesuatu?" Tanya Erfrain.
γ
γ
Gadis itu tersenyum kaku kemudian menggeleng. "Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja."
γ
γ
Jawaban absurd Xylona membuat Erfrain berpikir beberapa saat. "Emm... ya... seharusnya aku yang datang melihat keadaanmu."
γ
γ
Xylona tersenyum. "Bukankah selama ini kau memang datang ke rumahku? Tapi, kau hanya berdiri di depan pintu."
γ
γ
Erfrain terkejut. Bagaimana bisa dia tahu? Apa dia jadi punya kekuatan setelah kepalanya dipukul dan tenggelam di kolam?
γ
γ
"Kau... kau tahu dari mana?"
γ
γ
"Kakakku memasang CCTV di depan rumah."
γ
γ
Erfrain menelan saliva. Semoga Xylona tidak melihat semua yang pernah dia lakukan ketika mengawasinya.
γ
γ
"Sayang sekali kakakku tidak memasang CCTV di dalam rumah."
γ
γ
Erfrain tersenyum kaku. "Kak Drystan pasti sangat waspada dan begitu memperhatikanmu."
γ
γ
Xylona mengangguk.
γ
γ
Canggung.
γ
γ
"Kalau begitu, aku pulang dulu." Xylona pamit pada Erfrain. Laki-laki itu mengantar sampai pintu depan.
γ
γ
Saat berbalik, dia terkejut dengan keberadaan Edgar. Pria itu menggeleng pelan sambil menghela napas panjang.
γ
γ
"Darah campuran sepertimu memang tidak bisa mengendalikan perasaan apabila melihat manusia cantik," sindir Edgar.
γ
γ
"Karenamu gadis itu menjadi hidup sebatang kara. Apa kau tidak merasa bersalah?" Erfrain berlalu melewati Edgar.
γ
γ
"Eh? Sejak kapan kau memikirkan keluarga korbanmu?" Protes Edgar.
γ
γ
"Drystan tidak bersalah, dia bukan polisi yang korup," sanggah Erfrain sambil membuka pintu kulkas. Dia mengambil jus jeruk.
γ
γ
"Kau hampir membocorkan jati dirimu pada manusia itu. Seharusnya kau berterimakasih padaku, karena sampai mati dia tidak akan tahu siapa kau," bantah Edgar.
γ
γ
Erfrain meminum jus jeruk tersebut membuat Edgar terkejut dan segera mengingatkan Erfrain, "Apa yang kau minum? Itu minuman manusia, apa kau bisa merasakan rasanya?"
γ
γ
"Darah sempurna sepertimu tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Itulah sebabnya kau sering mendapatkan hukuman di dunia kita," kata Erfrain sambil menikmati jusnya.
γ
γ
"Kau bisa merasakan minuman itu?" Tanya Edgar tak percaya.
γ
γ
Erfrain mengangguk. "Ya, rasanya seperti blezis di dunia drucless."
γ
γ
πππ
γ
γ
17.22 | 22 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah
γ
γ
γ
γ