
"nama kamu siapa sayang, Arkha belum mengenalkan kamu sama mami" tanya nya dengan lembut.
"nama saya Irnia putri mami," ucapku malu malu.
"ish gemesin banget kamu sayang, ya udah yuk masuk ke dalam kita ngobrol ngobrol" Arkha mengekor mengikuti ke 4 perempuan itu lalu duduk di ruang keluarga.
"Arkha kamu punya istri sudah lebih 3 tahun lamanya tapi belum juga ada kabar gembira buat mami, kamu kapan akan berikan mami cucu"
"sabarlah mi, mungkin belum waktunya" aku menatap mami Alea lalu menatap sekilas ke arah mas Arkha belum waktunya katanya? berarti mami Alea belum mengetahui apa yang kak Rania tadi pagi cerita kan gimana kami bisa hamil sementara di sentuh saja tidak jangan kan di sentuh di ajak ngobrol pun enggak.
"Arkha mami ini sudah tua, mami ingin gendong cucu " ucapnya memelas membuat ku tak tega.
"mami minta lah sama Erkhan dia sudah dewasa dan sudah bisa menikah" ucap mas Arkha terlihat wajah nya sedikit kesal.
"ada apa nama ku di sebut sebut?" seorang laki laki dengan perawakan tinggi juga tak kalah tampan dari mas Arkha datang dengan menenteng beberapa paper bag di tangan nya.
"mami minta cucu sama kakak mu tapi jawaban nya selalu sama, menyuruh mami untuk selalu bersabar, mami ini kurang sabar apalagi sih selama ini" aku baru tau ternyata dia adalah Erkhan orang yang mas Arkha sebutkan barusan.
"kasih lah kak, kakak punya 3 istri masa satupun gak ada yang bisa kasih keturunan" Kulihat Erkhan meletakkan paper bag itu di atas meja kemudian dia duduk di samping mami Alea.
"hai kakak ipar baru, namaku Erkhan adik nya si beruang kutub" Erkhan mengulurkan tangan nya aku pun tersenyum mendengar guyonan nya.
"Irnia" dengan senang hati aku menyambut uluran tangan nya.
"kak istrimu yang ketiga cantik buat aku aja yah kan kakak sudah punya dua" ku lihat mas Arkha melotot ke arah adiknya.
" wah wah sepertinya ada cemburu nih" aku tersipu malu mendengarkan candaan Erkhan, sementara kulihat kak Marisa menatap tak suka ke arah ku, berbeda dengan kak Rania yang terus saja memeberikan senyuman manis nya.
"Marisa, apa kamu belum ada tanda tanda hamil sayang?" tanya mami Alea sambil menatap kakak maduku itu, membuat kak Marisa menjadi salah tingkah.
"be-belum mam, mungkin bentar kata mas Arkha belum waktunya kita punya anak"
"kamu Rania?"
"Rania juga belum isi mam," kulihat wajah mami Alea yang murung terlihat jelas kekecewaan di wajah yang tak lagi muda itu.
"pokonya mami gak mau tau, satu bulan lagi kamu harus bisa berikan mami cucu Arkha" ucapnya sambil menatap mas Arkha dengan tajam.
"akan di usahakan, Arkha pamit mau kerjain krjaan yang belum selesai" setelah mencium pipi mami Alea mas Arkha pun melenggang pergi entah kemana.
"selalu saja begitu, setiap di mintain cucu pasti di tinggal pergi menghindar, emang apa salah nya sih mami menginginkan cucu dari anak sendiri " gerutu nya.
"oh iya sayang ini ada oleh oleh buat kalian, mami kemarin abis temuin papi di Korea dan mami lihat baju baju ini kayanya sangat cocok untuk kalian pakai saat dinas malam, biar mami segera punya cucu" kak Marisa juga kak Rania mengambil paperbag nya masing masing begitupun denganku ku ambil paperbag berwarna pink yang mami Alea sodorkan.
"dipakai ya sayang jangan lupa, itu ada lingerie sama parfum smoga suka dengan wanginya soalnya mami gak tau parfum apa yang biasa kamu pakai, kalau punya Marisa sama Rania mami sudah tau selera mereka"
"Terima kasih ya mam," ucapku sambil tersenyum, dan di balas senyuman pula olehnya.
kami pun mengobrol santai di ruang keluarga sambil menunggu waktu makan malam tiba, seperti biasa aku hanya menjadi bagian pendengar saja karena bingung apa yang harus ku bicarakan kak Marisa juga kak Rania mereka begitu antusias mengobrol dengan mami Alea.
"nyonya besar, makan malam sudah siap" bik sum datang memberi tahu kami, mami Alea pun bangkit dan berjalan menuju ruang makan, di susul kami di belakang nya.
"bi, harusnya di masakin nya jangan yang berlemak begini gak sehat, di masakin sayur sayuran terutama toge untuk Arkha"
Setelah kedatangan mas Arkha kami pun mulai acara makan malam dalam keadaan hening seperti biasanya, ternyata kebiasaan mami Alea juga sama seperti mas Arkha gak boleh makan sambil mengobrol.
selesai makan malam bersama, mami Alea juga Erkhan pamit untuk pulang, kami pun mengantar mami Alea sampai ke pintu utama.
"ingat ya sayang sayang nya mami, kalian buat Arkha tergila gila dengan kalian dandan yang cantik agar mami segera punya cucu" ucapnya lagi.
"siap mami" saut kak Marisa juga kak Rania bersama, sementara aku hanya tersipu malu mendengar ucapan mami mertua ku ini.
setelah memeluk kami satu persatu mami Alea memasuki mobilnya dan melambaikan tangan nya ke arah kami, setelah mobilnya tak terlihat lagi kami pun masuk kedalam rumah utama, dan kembali ke rumah kami masing masing.
"nyonya, sudah malam tidur lah " Ella menghampiri ku lalu menaikan selimut sampai ke dada.
"mataku belum ngantuk El, kalau kamu lelah kamu kembali saja aku gak apa di tinggal sebelum tidur, aku sudah dewasa bukan anak kecil lagi" ucapku.
"tidak nyonya, soalnya ini tertulis di dalam buku dan sudah saya tanda tangani " mendengar ucapan pelayan pribadi ku itu, aku menjadi iba akhirnya ku pejamkan mataku meski belum ada tanda tanda mengantuk.
benar saja beberapa saat setelah aku memejamkan mata, Ella mematikan lampu menyisakan lampu tidur saja yang menyala setelah terdengar suara pintu tertutup aku pun membuka kembali mataku, ku bangkit dari tempat tidur dan membuka tirai ku lihat sekelebat bayangan seseorang entah pergi kemana.
setelah satu jam hanya duduk di sofa sambil melihat bintang bintang juga bulan yang bersinar begitu terang malam ini aku belum juga merasa ngantuk, akhirnya ku putuskan untuk berkeliling malam malam untuk mencari udara segar.
ku pakai jaket yang tergantung di dekat pintu, lalu keluar dari dalam rumah aku berjalan dengan mengendap ngendap takut jika ada yang melihat atau mendengar suara langkah ku, mengingat begitu banyak nya penjaga di rumah ini.
aku terus berjalan berkeliling mulai dari taman, melewati rumah kak Rania juga melewati rumah kak Marisa, namun ada yang aneh saat aku melewati rumah kak Marisa terdengar suara suara aneh dari dalam, aku mendekat ke arah rumah kak Marisa untuk memastikan suara itu pun semakin nyaring terdengar, aku yang penasaran pun menempelkan telinga di jendela kamar kak Marisa, terdengar suara ******* dua orang yang sedang memadu kasih di dalam sana, aku memang belum tau seperti apa rasanya bercinta tapi aku tau betul bunyi bunyian seperti ini.
"apa mas Arkha datang dan menjalankan tugasnya sebagai suami pada kak Marisa, kalau iya berarti apa yang di bilang kak Rania itu bohong " batin ku.
tak ingin ketahuan mengintip aku pun segera pergi meninggalkan rumah kak Marisa dan kembali ke rumah ku, saat sedang berjalan mengendap ngendap tiba tiba seseorang menarik tangan ku.
"Aaaaaa"
"nyonya jangan teriak ini saya Ella, nyonya sedang apa di sini?" tubuh ku lemas seketika, ku kira siapa yang menarik tangan ku tadi.
"El, kamu mengagetkan ku saja,"
"tak baik berjalan sendirian malam malam di sini nyonya, seharusnya anda tidur di dalam kamar"
"maafkan aku El, aku tadi tidak mengantuk jadi aku putuskan untuk berjalan jalan sebentar, ini aku mau balik ke rumah "
"ya sudah ayok saya antar"
kami pun berjalan menuju rumah, sampai di rumah aku langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci tangan juga kaki.
"El kenapa kamu bisa tau kalau aku gak ada di kamar ?"
"tadi ada barang yang ketinggalan jadi saya balik lagi ke sini, karena sudah di sini akhirnya saya lihat kamar nyonya ternyata kosong , setelah itu saya keluar mencoba mencari keberadaan anda, dan akhirnya ketemu deh"
"maaf ya El, sepertinya kamu cape sekali segera lah istirahat, kamu tidur di sini aja El temani aku"
"ya sudah saya tidur di kamar sebelah, nyonya segera istirahat ini sudah jam 12 malam lebih"
ku pejamkan mata meski rasa kantuk masih belum juga ada, tapi kasihan Ella kalau harus menunggu ku tidur, nanti dia tidak bisa istirahat.