Gadis Pemuas Nafsu

Gadis Pemuas Nafsu
GPN 23


"Apa perlu aku menjawab pertanyaan mu ini,? " tanya nya sambil terus menatapku sampai membuatku menjadi salah tingkah.


"Ha-harus,! " jawabku gugup.


"Kurasa tak perlu" Aku mengangkat kepalaku lalu menoleh melihat ke arah mas Arkha dengan tatapan kecewa, namun tak lama kudengar gelak tawa mas Arkha yang membuatku kembali menatapnya heran.


"Kenapa malah tertawa begitu,?" tanyaku tak mengerti memang nya apa yang lucu.


"Gak apa,! mau tau sejak kapan mas jatuh cinta padamu?" tanya nya. membuatku menganggukan kepala dengan cepat.


Kulihat mas Arkha seperti orang tengah berpikir dengan meletakan jari telunjuk nya di dagu sementara matanya menatap ke atas.


"Mas, ayo dong aku nunggu " mas Arkha menatapku. lalu tersenyum.


"Saat pertama kali melihatmu, mas sudah mulai jatuh cinta " ucapnya membuatku tersenyum senang.


"Saat di rumah yang di manado?" tanyaku.


"Bukan.!


" Terus kapan, emang kita pernah bertemu sebelumnya,?"


"Tentu saja pernah, dan mungkin kamu gak akan menyadarinya " ucapnya. membuatku semakin penasaran.


"Kau ingat saat acara kelulusan di sekolahmu, aku pernah naik di atas panggung dan memberikan sedikit pidato waktu itu, dari atas panggung sana aku melihat bidadari cantik yang duduk sendirian di dekat tiang tenda " ucapnya, aku mulai mengingat ngingat masa masa itu, belum terlalu lama tapi karena tidak ada yang spesial aku tak mau mengingatnya tak ada momen bahagia saat hari kelulusanku, Papa waktu itu lebih memilih menghadiri kenaikan kelas Maura dari pada menemaniku.


Aku masih terus menyusun puzzle yang belum tersusun sempurna, aku tersenyum senang saat sudah berhasil mengingatnya.


"Jadi itu kamu mas? tapi kenapa dulu kamu terlihat tua" ucapku.


"Memang aku sudah tua."


Aku terkekeh geli, aku baru ingat hari kelulusan dulu saat aku tengah menyendiri duduk di bangku dekat tiang tenda tak ada yang menemani, terdengar suara riuh orang orang sambil tepuk tangan melihat ke arah panggung, tapi tidak denganku tak ada minat untuk aku ikut seperti mereka dalam diamku aku teringat mama andaikan mama masih ada aku tak akan sendirian waktu itu.


" Apa kamu masih banyak pekerjaan mas,?" tanyaku.


"Emm, lumayan. kenapa?"


"Gak apa mas, kalau kamu masih sibuk aku biar pergi dulu biar kamu pokus lagi kerjanya " mas Arkha mengangguk, tak ingin terlalu lama menganggu mas Arkha yang tengah bekerja akupun segera keluar dari dalam ruang kerja mas Arkha dan berjalan ke rumah utama untuk beristirahat.


______


Ponsel milik Arkha berbunyi beberapa kali, Arkha yang tengah pokus memeriksa email yang di kirimkan Heru pun mendengus kesal saat mendengar suara ponselnya yang terus saja berdering.


"Hallo, ada apa lagi? aku sedang sibuk.! ucapnya kesal.


" Aku tidak bisa, bisakah kau jangan mengangguku lagi aku sudah menemui mu kemarin " ucapnya lagi. Arkha mendengus kesal kemudian mematikan ponselnya. diapun kembali pokus dengan kerjaan nya sampai tak terasa waktu sudah berubah hampir malam.


Arkha segera keluar dari dalam ruang kerjanya berjalan menuju lift untuk naik ke ruang pribadinya. sampai di kamar Arkha mengedarkan pandangan nya mencari istrinya yang tak terlihat ada di kamarnya.


"Ir, apa kamu di dalam? Arkha mengetuk pintu kamar mandi, namun tak ada sahutan dari dalam.


" Apa dia kembali ke rumah nya? tapi kenapa dia kembali kesana? gumamnya.


"Tuan" Ella menunduk takut saat tak sengaja melihat tatapan tajam majikan nya.


"Apa nyonya ada di dalam?" tanya nya.


"Ada tuan, nyonya sedang mandi " Arkha langsung masuk kedalam rumah dan duduk di sofa menunggu istrinya selesai mandi sementara Ella dia segera pergi dari rumah itu tak ingin menganggu kedua majikan nya dan memberikan privasi untuk keduanya.


"Ella, El,? terdengar suara Irni memanggil dari dalam kamar. Arkha segera bangkit dan berjalan menuju pintu kamar saat Arkha ingin membuka pintu, Irni pun keluar dari dalam kamar hanya dengan memakai handuk berwarna pink yang mengekspos bagian atas juga bawahnya yang tak tertutup handuk.


"Mas, sedang apa di sini?" tanya nya polos.


"Mencarimu, pakailah baju cepat mas tunggu di sofa" Arkah mendorong pelan Irni untuk masuk kembali kedalam kamar, sementara Arkha duduk di sofa sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan. degub jantung nya sepeti habis lari maraton, tubuhnya juga menegang andai saja Irni tidak sedang dalam masa nifas setelah keguguran sudah pasti akan segera Arkha terkam saat ini juga.


"Akh sial" ucapnya saat sesuatu yang ada di dalam celana memberontak meminta untuk di tenangkan. tak tahan tinggal di rumah Irni Arkha segera keluar dan pergi ke rumah utama untuk mandi yang kedua kalinya.


_____


"Kenapa dengan mas Arkha?" gumam ku bingung, aku segera memakai pakaian ku yang sudah ku ambil dari dalam lemari, setelahnya aku segera keluar berniat ingin menemui mas Arkha. namun saat aku keluar tak kulihat mas Arkha tak ada di luar.


" Kemana mas Arkha katanya mau nunggu di sofa tapi gak ada " aku mendudukan bokongku di sofa sambil menunggu mas Arkha kembali namun sampai waktu jam makan malam hampir tiba mas Arkha tak juga kembali aku yang bosen menunggu pun memutuskan untuk menyusul mas Arkha ke rumah utama sekalian untuk makan malam.


"Ir, ko di rumah sendiri? apa mas Arkha sudah beri izin untuk tinggal lagi di sini?" tanya kak Rania.


" Belum tau sih kak, aku belum tanya mas Arkha di bolehin enggaknya tinggal disini lagi, tapi aku udah merasa sehat ko kak, aku juga rindu rumahku" ucapku.


"Kalau sekiranya belum sehat dirumah utama saja dulu Ir jangan maksain tinggal sendiri" ucapnya membuatku tersenyum samar.


"Iya kak. "


Kami berjalan beriringan masuk kedalam rumah utama, namun mas Arkha belum terlihat ada di meja makan aku juga kak Rania pun duduk sambil sesekali bercengkrama membicarakan hal yang terkadang gak masuk di akal tapi mampu membuatku tersenyum lebar.


"Seneng banget lagi ngobrol apa?" kami reflek menoleh ke arah mas Arkha yang tengah berjalan menghampiri kami di meja makan.


"Gak ada, biasa hanya obrolan sesama wanita," ujar kak Rania sambil tersenyum sambil menatapku.


"Ya sudah ayo makan, Rania nanti setelah makan jangan dulu pergi ke rumah ada yang ingin aku tanyakan." aku menatap kak Rania lalu menatap mas Arkha, penasaran dengan apa yang akan mas Arkha bicarakan nanti setelah makan.


Aku segera mengambilkan makanan untuk mas Arkha lalu untuk ku setelah nya kamipun makan seperti biasanya, makan dalam keheningan. Selesai makan mas Arkha langsung bangkit dan berjalan ke arah ruang keluarga.


Aku menatap kak Rania dia pun sama menatap ku, setelah selesai makan kak Rania menarik tangan ku untuk ikut dengan nya menemui mas Arkha.


"Kak, kakak saja aku gak ikut yah takut ini masalah pribadi kalian" ucapku membuat kak Rania menghentikan langkahnya.


" Aku gak mau menemuinya sendirian, temani aku yah kamu istri kesayangan nya gak mungkin mas Arkha akan marah" ucapnya. tak mau membuat mas Arkha menunggu lama kami segera melangkah mendekati mas Arkha yang tengah memainkan ponsel nya. kak Rania menarikku untuk duduk di dekat nya.


" Emm, mas apa boleh aku disini ?" tanyaku, takut jika mas Arkha merasa terganggu dan ingin menjaga privasi.


"Boleh, kenapa tidak ini bukan suatu rahasia " ucapnya membuatku tenang.


Kulihat mas Arkha menatap kak Rania dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Rania, apa kau tersiksa tinggal di rumah ini.?"