
Pagi harinya, seperti biasa, keluarga Hisyam tengah menikmati sarapan. Nathan memperhatikan diam-diam saat sang mama memberi perhatian pada Sukma dengan cara menawarkan berbagai macam makanan, meskipun hanya mendapat jawaban anggukan dari gadis yang masih setia menunduk itu. Sementara Hisyam, berusaha mengajak Sukma berbicara dengan nada ceria, bercerita banyak hal, yang sayangnya tetap tak mendapat respon.
Nathan rasanya ingin marah. Namun, seperti semalam, ia hanya mampu terdiam dengan menekan egonya sendiri. Dia sudah dewasa, jika dia marah, maka orang tuanya akan kembali bersedih. Kalimat itu berulang kali ia ingatkan untuk dirinya sendiri.
"Aku berangkat, Ma, Pa." Nathan sudah tak nafsu makan. Namun, suaranya berpamitan berusaha ia buat senormal mungkin agar orang tuanya tak curiga.
Fifi dan Hisyam sontak mengalihkan tatapan dari Sukma ke arah Nathan.
"Loh, makanannya belum habis, itu," ujar Fifi saat melirik piring milik Nathan.
"Udah mau telat, Ma. Soalnya Dosen Nathan hari ini ngabarinnya mau masuk satu jam lebih cepat." Itu jelas hanya sebuah alasan yang Nathan karang asal. Semoga saja orang tuanya percaya.
"Perlu Mama siapin bekal aja?" tawar Fifi dan langsung dijawab gelengan oleh Nathan.
"Nggak usah, Ma. Kan, di sana banyak Kantin. Lagian, Nathan udah bukan anak SD bawa-bawa bekal segala."
"Loh, bekal, kan, bukan cuma untuk anak SD. Papamu aja sering bawa bekal ke kantor," bela Fifi.
"Ya itu karena Papa bucin, sih. Makanya nggak mau makan kalau bukan makanan istri."
"Udah, Ah, aku berangkat dulu." Nathan berjalan ke arah orang tuanya, mencium tangan mereka satu persatu. Kemudian, dia berhenti sejenak di dekat Sukma. Dia perhatikan sekali lagi gadis aneh itu, sebelum melanjutkan langkah keluar dari dapur.
"NATHAN!"
Teriakan itu membuat Nathan berhenti melangkah, dan berbalik ke arah si pemanggil. Dia menatap datar ke arah Laras yang tengah berlari kecil mendekat ke arahnya.
"Kamu..." Laras menggantung ucapannya. Namun, mata gadis menelisik penampilan Nathan.
"Ada apa?" tanya Nathan langsung. Entah lari ke mana semangatnya dulu yang selalu berkobar setiap melihat Laras. Sekarang dia malah bertanya ke dirinya sendiri, benarkah dia sebelum ini segila itu pada Laras? Kalau diperhatikan, wajah Laras malah terlihat membosankan di matanya. Ini, mata Nathan kenapa malah jadi begini, sih? Entahlah, Nathan juga heran sendiri.
"Aku kemarin nanyain kamu ke teman-teman kamu itu. Aku cari kamu, loh, Nathan," ujar Laras dengan sumringah. Seolah kabar.itu akan menjadi kabar menggembirakan juga bagi Nathan. Sayangnya, wajah berseri Nathan yang sering ia lihat setiap bertemu dengannya itu kini malah tak nampak. Wajah Nathan, tetap datar seperti semula. Laras jadi heran, ini Nathan kenapa sebenarnya?
"Nath? Kamu...oke?" tanya Laras pelan, saat menyadari kalau ekspresi Nathan tetap datar-datar saja.
"Dia...dia nyuekin aku? Jutekin aku?" Laras bermonolog.
"HEH! NATHAN! INI AKU, LOH, LARAS!" Laras berteriak karena kesal diabaikan bahkan dijudesi oleh Nathan.
Sayangnya, Nathan malah tetap asik berjalan tanpa menoleh ke arahnya lagi. Benar-benar si4l4n!
"BHAHAHAHAHAHA!"
Mendengar suara tawa yang begitu mengganggu telinga yang berasal dari arah belakangnya, Laras langsung berbalik dengan wajah gahar.
"NGAPAIN KALIAN BERDUA KETAWA?"
"Loh, loh, loh, nggak bahaya, ta? Laras yang sok anggun dan sok imut malah berubah jadi emak-emak suara toa?" ejek Daniel.
"Itu bukan emak-emak lagi Niel," ujar Neo sembari tertawa.
"Terus apa?" tanya Daniel.
"Dia itu titisan Nenek Lampir! Sekarang, sihirnya udah nggak mempan ke Nathan. Makanya dia bakal kembali ke wujud asli."
Tawa Daniel langsung pecah mendengar ucapan Neo. Bahkan, tiga orang itu sudah menjadi perhatian oleh orang-orang. Mereka memang berasal dari kalangan Mahasiswa populer, makanya apapun yang mereka lakukan pasti akan menjadi perbincangan. Dan Laras, karena saking kesalnya, tidak menyadari hal tersebut.
"Kalian berdua..." Laras menunjuk wajah dua manusia itu dengan kesal.
"Kenapa? Ganteng, ya? Kan, emang!" potong Daniel.
Laras yang terlanjur kesal akhirnya pergi dari sana dengan kaki yang dihentak-hentakkan dengan kuat ke lantai. Namun sebelum itu, dia melayangkan tatapan tajam pada dua sahabat Nathan yang kini malah asik menertawakannya itu. Tunggu saja kalau dia jadian dengan Nathan, dia akan mempengaruhi Nathan untuk menjauhi keduanya. Walau bagaimanapun, Nathan itu sangat penurut padanya. Jika dia berpacaran dengan Nathan, dia bisa mengendalikan hidup pria itu sesuka hatinya.
"Wanita nggak waras. Untung aja Nathan sekarang udah sadar," ujar Daniel memandang kepergian Laras dengan pandangan menghina. Sudahlah, Daniel itu sekali tak menyukai seseorang, dia tak akan segan-segan menunjukkannya langsung. Tak ada pura-pura bersikap baik di depan di dalam kamus hidup Daniel.
"Udah, ah. Ayo susul Nathan," ajak Neo.