
Jadwal yang pertama mereka bertiga lakukan adalah piknik bersama. Hari Minggu ini, tak seperti biasanya di mana Nathan, Daniel, dan Neo menghabiskan waktunya dengan bermain game. Hari ini, mereka melaksanakan Jadwal pertama menghabiskan waktu dengan Sukma.
Semua persiapan piknik sudah tersedia, mulai dari tikar, makanan berat, Snack, dan minuman. Keempat orang tersebut memutuskan untuk piknik di pantai. Fifi dan Hisyam juga ikut, namun dua paruh baya itu sengaja membiarkan Sukma berangkat semobil dengan Nathan dan dua temannya. Mereka ingin melihat, sejauh apa Nathan bertanggung jawab sebagai kakak.
Nathan mencuri pandang pada Sukma yang duduk di sampingnya. Gadis itu mengenakan gaun berwarna biru langit, berlengan pendek dan panjangnya semata kaki, dengan motif bunga-bunga kecil menghiasi seluruh gaunnya. Rambut panjangnya terurai rapi, bukan lagi menutupi wajahnya seperti sebelum ini. Cantik! Itu satu kata yang terlintas dan bolak-balik di kepala Nathan sejak tadi.
"Kamu baik-baik aja?" Nathan menanyakan keadaan Sukma. Gadis itu memang belum banyak bicara, namun bersama Daniel dan Neo dia sudah mampu menjawab jika mereka bertanya. Nathan sering dibuat jengkel saat Daniel menggombali Sukma dan gadis itu akan tertuntunduk malu. Nathan berjanji, akan menjaga adiknya itu dari buaya macam Daniel. Nathan tak peduli jika dia dicap sebagai kakak yang posesif. Sukma adalah adiknya, jadi sudah seharusnya dia menjaga Sukma, bukan? Iya, semoga saja memang seperti itu nyatanya.
"Aku baik-baik saja." Sukma menatap Nathan dan memberikan senyuman pada pria itu, untuk membuktikan kalau dia baik-baik saja. Berobat dengan Dokter Sandra memang membuatnya memiliki banyak kemajuan. Dia juga mulai bisa mengendalikan ketakutannya. Itu sebabnya, Sukma sudah mulai terbiasa pada Daniel dan Neo. Dua pria itu semingguan ini sering berkunjung ke kediaman Hisyam tersebut. Bahkan ART di rumah Nathan yang sebelum ini dipulangkan untuk sementara demi kesembuhan Sukma, sudah kembali.
Sukma begitu bersyukur dipertemukan dengan keluarga baik hati ini. Hisyam dan Fifi yang baik dan penyayang, Nathan yang Sukma rasa juga mulai menerima dan menyayanginya, juga teman-teman sang Abang yang dengan baiknya mau ikut terlibat dalam kesembuhannya.
Mata Sukma seketika berkaca-kaca. Ya, kini dia tidak sendiri lagi. Ada Papa, Mama, Abang, dan dua sahabat abangnya. Dia tidak lagi kesepian. Tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan.
"Hei, kok malah mau nangis?" Nathan bertanya khawatir saat melihat Sukma yang sudah akan menangis. Dia menangkup wajah gadis itu, dan menatap kedua matanya.
"Aku...aku bersyukur bertemu kalian. Terima kasih." Hanya itu kalimat yang mampu Sukma ucapkan. Dia langsung memeluk Nathan, membuat pria itu terkejut. Tubuh Nathan seketika mematung, karena mendapat pelukan mendadak dari Sukma.
Daniel dan Neo yang duduk di depan mencuri pandang melalui kaca depan. Mereka ikut terharu melihat Sukma yang seperti itu. Pasti selama ini hidup gadis itu sangat berat, dan mendapatkan keluarga sebaik Hisyam dan Fifi pasti membuatnya sangat bersyukur hingga dia menangis seperti itu. Tapi, mereka berdua juga rasanya ingin tertawa melihat ekspresi Nathan saat Sukma memeluknya. Mungkin karena sebelumnya Nathan tak pernah dipeluk cewek, makanya ekspresinya terasa menggelitik di mata Daniel dan Neo. Untung saja mereka masih nahan, jangan sampai Sukma malah menganggap kalau dia yang ditertawakan.