Gadis Aneh Kesayangan Nathan

Gadis Aneh Kesayangan Nathan
Sukma Yang Random


Hari ini, Sukma diajak Nathan untuk makan di luar. Pria itu tak mengatakan lebih spesifik tempat makan yang akan mereka tuju. Sukma menurut saja, toh dia sudah biasa saja bertemu dengan orang banyak. Meskipun di sampingnya harus ada yang menemani, sih.


"Pakai hoodie aja, sama celana panjang! Nggak perlu dandan berlebihan juga," peringat Nathan tadi saat Sukma mengatakan ingin berganti pakaian.


Sukma menganggukkan kepalanya meskipun terasa aneh. Tidak biasanya sang abang sampai harus repot-repot memikirkan dia dandan atau tidak.


Sepanjang jalan, Nathan terlihat gelisah. Namun pria itu tak mengeluarkan sepatah kata pun, hingga membuat Sukma semakin heran.


Sampai akhirnya mereka berhenti di satu tempat. Sukma yang baru memperhatikan sekitarnya langsung mematung. Gadis itu menatap Nathan, seolah meminta penjelasan. Namun, Nathan tetap memilih bungkam.


"Bang!" Akhirnya, Sukma bersuara saat Nathan hendak turun.


"Maaf, Abang nggak bilang-bilang buat bawa kamu ke sini." Nathan akhirnya berbicara setelah lama bungkam.


"Apa alasan Abang? Abang mau buang Sukma? Abang berencana ninggalin Suk--"


"Hei, bukan gitu, Dek!" Nathan buru-buru memotong ucapan Sukma. Gadis itu sudah gelisah di tempatnya. Nathan menangkup kedua belah pipi sang adik, membawa Sukma untuk menatap ke matanya langsung.


"Abang nggak ada niat sama sekali lakuin itu. Dengar, nggak ada yang bakal buang permata berharga seperti kamu. Jangan berburuk sangka, ya, Dek! Percaya sama Abang." Nathan berujar menenangkan.


"Sukma perlahan mulai tenang. Gadis itu memegang kedua tangan Nathan yang ada di pipinya. Nathan bisa merasakan, kalau Sukma mungkin kembali merasakan tekanan. Kulit gadis itu terasa dingin.


"Dengar, Dek. Semua sudah berakhir. Sedikit lagi, kamu akan benar-benar terlepas dari masa kelam itu. Percaya sama Abang. Abang akan selalu ada untuk kamu." Sukma tidak terlalu paham ucapan ambigu Nathan. Namun, gadis itu perlahan mulai tenang.


"Kalau ketakutan kamu masih ada, kita balik aja. Cari tempat lain aja untuk makan."


Sukma menghembuskan napas kasar. "Aku cuma takut, mereka lihat aku, Bang."


Nathan mengangguk paham. Tanpa sadar, Sukma sudah mulai mengungkap sedikit demi sedikit masa lalunya.


"Kalau aku bilang, saat ini nggak akan ada yang bisa mengganggu kamu, gimana?"


"Abang nggak paham. Mereka ada di sekitar sini, Bang! Mereka nyiksa aku. Aku hampir mati gara-gara mereka. Mereka jahat!" Suara Sukma sedikit meninggi, membuat Nathan terkejut. Sukma pun sama, gadis itu langsung terdiam. Tak lama kemudian, dia menangis.


"Maaf, aku nggak maksud bentak Abang."


Nathan tersenyum. Menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Keluarin semuanya. Abang ingin dengar semua hal yang kamu pendam."


"Mereka jahat ke aku, Bang! Aku sudah lama.diam, biar nggak dapat masalah. Tapi ternyata nggak cukup.


"Aku diam dikatain gadis aneh. Aku diam dihina anak orang miskin. Aku diam saat mereka menjauhiku. Tapi kenapa mereka malah makin menyakiti aku, Bang? Aku nggak tahu salahku apa. Aku selalu disiksa sama mereka. Aku juga dilecehkan, Bang!


"Abang pasti jijik ke aku. Iya, kan? Aku udah disentuh orang lain. Aku nyaris kehilangan hal paling berhargaku. Mereka jahat, Abang. Apa salah aku?" Tangis Sukma pecah saat mencurahkan segala uneg-unegnya.


"Orang itu juga, dia selalu nyuruh aku menjauh dari temanku. Dia selalu ngancam aku. Apa salahnya aku ingin berteman. Kenapa dia jahat? Mentang-mentang dia punya kuasa dan aku miskin? Apa orang miskin tidak bisa berteman dengan orang kaya, Bang?" Pikiran Nathan sejak tadi tengah berusaha mencerna kata-kata Sukma. Selalu disiksa? Jadi, pembullyan itu bukan cuma terjadi satu kali? Lalu diancam. Apa Hans Arganta yang dimaksud Sukma?


"Kamu berteman dengan Anak Pak Han" Nathan tak bisa membendung rasa penasarannya.


Nathan menghembuskan napas kasar. "Maaf sebelumnya, nggak jujur ke kamu. Abang sama Papa, terus dibantu juga sama yang lain, kita diam-diam mencari tahu tentang kamu. Penyebab segala trauma kamu."


Sukma menatap ke arah Nathan tak percaya. "Kenapa bisa? Bukannya Ibu Panti sudah menjelaskan kalau itu trauma aku sejak kecil?"


Nathan mengangguk. "Tapi rasanya ada yang janggal. Kamu terlihat ketakutan saat mendengar kata teman dan sekolah. Dari sana kecurigaan itu muncul. Mungkin di sekolah, kamu pernah mengalami hal yang buruk."


Sukma tertunduk. "Maaf nggak jujur sedari awal."


Nathan mengelus rambut gadis itu. "Bukan salah kamu. Di awal, kan, kamu masih ketakutan. Bahkan bahas belajar pun, kamu langsung kambuh gitu. Jadi, mana mungkin bisa kamu cerita. Iya, kan?"


Sukma menghembuskan napas kuat. Ternyata sebanyak itu pengorbanan keluarga Hisyam terhadapnya.


"Maaf, kalau selama ini aku selalu ngerepotin kalian."


"Nggak ada yang ngerepotin. Udah, jangan ngomong gitu lagi. Yang jelas, sekarang kamu sudah aman. Semua yang nyakitin kamu, tengah menjalani masa hukuman."


Sukma terkejut. Matanya membulat tak percaya. "Maksud Abang?"


"Kita sudah tahu semuanya, dan berusaha membuat mereka bertanggung jawab atas semua kejahatan yang mereka lakukan."


Sukma menggelengkan kepalanya pelan. "Gimana bisa? Itu, kan, udah lama? Nggak ada buktinya juga."


Nathan tertawa kecil. "Siapa bilang nggak ada bukti? Bahkan orang yang sering ngancam kamu itu, juga nggak bisa melakukan apa-apa. Dia akan dihukum seberat-beratnya."


Keduanya kemudian terdiam. Sampai satu pertanyaan terlintas di kepala Sukma. "Abang tahu alasan apa mereka nggak suka Sukma?" tanya gadis itu dengan nada lemah. Rasa tidak percaya diri seketika muncul di pikirannya. Apa dia seburuk itu, sampai orang-orang membencinya.


"Jangan berpikiran buruk. Mereka nggak suka kamu karena kamu terlalu baik."


Sukma mendengus. "Apaan kalimatnya. Udah kaya kalimat penolakan untuk orang yang nggak disukai."


Nathan tertawa mendengar ucapan Sukma. Apalagi melihat mulut manyun gadis itu.


"Menurut kamu, kenapa?"


Sukma menggeleng pelan. "Siska sering bilang aku centil. Nggak tau diri dan segala macam. Seno, aku nggak tau. Aku sebelumnya nggak pernah berurusan dengan dia." Nathan melihat tangan Sukma yang mengepal. Pria itu paham, Sukma berat mengungkapkan semuanya.


"sementara Pak Hans, mungkin karena aku berteman dengan anaknya. Dia selalu menyuruh aku menjauhi anaknya. Aku lihat dia di melongokkan kepala di pintu kamar mandi sesaat sebelum aku pingsan. Aku jadi menyimpulkan, dia tahu pembullyan aku tapi dia memilih diam."


"Kamu berteman dengan anak Pak Hans?"


Sukma mengangguk. "Kami berteman cukup dekat. Aku, Apin, dan Riana."


Nathan mengangguk paham. "Aku haus, Bang." Sukma tiba-tiba berujar. Nathan jadi tertawa dibuatnya. Gadis itu sekarang malah jadi gadis random. Bahas ini itu, dari satu langsung loncat ke hal satu. Moodnya juga sering berubah. Lihat saja tadi. Dia ketakutan, menangis, dan sekarang malah ngomong kehausan saat lagi bicara serius. Kalau seperti ini, Nathan jadi berburuk sangka pada dua temannya dan satu bocah menyebalkan itu. Pasti mereka yang menularkan virus nggak jelas pada Sukma.