
Ananta tidak menyangka bahwa dia satu kelas dengan sang antagonis, awalnya dia tidak tahu namun ketika guru mengabsen satu persatu. Betapa terkejutnya Ananta bahwa dia dan sang antagonis satu kelas.
Padahal di dalam novel Ananta dan Keyra tidak satu kelas. Tapi kenapa sekarang dia menjadi satu kelas. Isi novel dan kehidupan asli ternyata berbeda.
Dia ketika di kelas selalu mengamati Keyra dari kejauhan. Keyra gadis itu sangat cantik dan ramping. Kulit putih dan wajah yang sedikit jutek. Ananta bahkan tidak percaya bahwa Arga tidak menyukai Keyra yang jelas-jelas sangat cantik.
Keyra juga tidak seperti di antagonis novel lainnya, ketika antagonis yang biasanya memakai pakaian ketat dan menor tapi Keyra beda bahkan gadis itu tidak memakai pakaian yang ketat dan memamerkan lekuk tubuh.
Gadis itu memakai pakaian yang pas body. Bahkan gadis itu juga tidak memakai make-up menor terlihat seperti natural.
Bel berdering dari 5 menit yang lalu, namun Ananta masih duduk manis di bangkunya. Ananta memperhatikan pergerakan dari Keyra. Kemudian Keyra pergi meninggalkan kelas seorang diri. Sepertinya sekarang Ananta berubah menjadi pengamat Keyra.
Ananta melangkah kakinya menuju kantin sembari tangan sebelah memeluk keripik kentang. Hal yang harus Ananta bawa kemanapun dia pergi. Yaitu keripik kentang dan susu pisang. Namun susu pisang sudah dia buang terlebih dahulu kedalam perut nya.
Berjalan sembari mengunyah, dan menatap kanan kiri tiap dia berjalan. Alias ingin tahu ada apa saja di sekolah ini dan seberapa mewah nya sekolah ini. Sekolah yang sangat terkenal akan biaya yang mahal dan juga banyak sekali murid yang berasal dari keluarga terpandang.
Belum sampai di kantin namun suara samar-samar orang marah memasuki indera pendengaran Ananta.
Ananta menyerobot ke kerumunan orang-orang itu. Sehingga dia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi.
Ananta berdiri paling depan yang dilihat ternyata ada satu orang gadis yang sedang menunduk Dan satunya menatap tajam gadis itu yang ternyata Keyra sang antagonis dan mungkin gadis yang menunduk itu Flora sang protagonis.
Apakah drama nya sudah mulai dimulai dan sudah di halaman berapakah novel ini. Itulah yang terus ada di pikiran Ananta.
"Sialan lo Flora gue nggak nyari masalah sama lo tapi lo nya sendiri yang nyari masalah sama gue."
"Tapi a-aku nggak sengaja."
Ananta menatap Keyra dari atas sampai bawah, sepertinya Ananta paham apa yang sedang terjadi.
"Bahkan gue itu nggak minat bully lo kalo lo sendiri yang nggak nyari masalah sama gue."
Keyra perlahan berjalan mendekati Flora, "Lo tau gue itu benci banget sama lo, heran dimana-mana lo tuh nyari ribut mulu ma gue." Dan menumpahkan minuman di kepala Flora.
Keyra berjalan mundur dan menutup bibirnya,"Ups sengaja."
"Ih kok malah nangis." Ujar Keyra ketika melihat bahu Flora bergetar.
Ananta hanya menatap drama itu tanpa melerai, bahkan gadis itu malah terus saja mengunyah dan mengunyah.
"Kalo tau ada drama gini, gue harusnya bawa cola sama popcorn." Gumam Ananta, namun mulutnya tidak berhenti terus saja mengunyah.
Keyra menunduk menyamakan tinggi badan dengan Flora, mengangkat dagu Flora dengan telunjuknya "Jangan nangis dong, padahal gue nggak ngapa-ngapain lho"
"Berhenti gangguin Flora lagi Keyra!" Teriakan dengan nada tegas menggema di seluruh penjuru kantin, semua orang sontak menatap kearah suara teriakan itu. Ananta sendiri juga menoleh dan mendapati Arga beserta yang lainnya. Termasuk ada Ezriel yang berjalan disebelah Arga.
Mereka perlahan sedikit menjauh ketika melihat Arga, beda dengan Ananta yang masih diam tanpa menggeser selangkah pun.
Flora ditarik kesamping tubuh Arga, sehingga jari telunjuk Keyra masih menggantung di udara.
"Ah pangeran berkuda sudah datang rupanya" Gumam Keyra, namun gumaman itu terdengar oleh siapapun.
"Sialan. Gue udah berapa kali bilang, lo jangan sekali lagi ganggu ataupun bully Flora."
"Tapi aku nggak bully Flora Arga, dianya aja yang nyari gara-gara duluan." Keyra membela dirinya sendiri.
"Tapi gue nggak percaya."
"Kamu nggak percaya tanya aja sama seluruh orang disini siapa yang nyari gara-gara duluan."
Arga menatap seluruh orang namun tidak ada yang mengatakan apapun, Keyra diam-diam tersenyum miris. Sebegitu tidak ada yang menyukainya kah sampai tidak ada yang membela satupun.
"See nggak ada yang bela lo berarti lo disini yang salah."
Keyra menatap tajam Flora,"Lo puaskan, lo pasti seneng kan dengan penderitaan gue. Lo pasti puaskan anjing!"
"Harusnya lo ngomong sialan bukan diem aja, bilang yang sebenernya bukan malah diem dan bikin orang-orang salah paham sama gue!"
"Bahkan lo enggak minta maaf sama perlakuan lo barusan. Bukannya malah nangis bangsat!" Semuanya terjadi begitu cepat, Flora di dorong oleh Keyra sehingga jatuh terduduk.
Dengan sesenggukan Flora mengatakan,"A-aku minta maaf a-aku tadi nggak sengaja."
Keyra berdecih melihat pemandangan dimana Arga memeluk Flora didepan matanya. Bahkan dia belum pernah merasakan bagaimana rasanya dipeluk oleh Arga yang notaben tunangan nya.
"Lucu banget ya. Bahkan lo minta maaf ketika Arga udah dateng, kenapa nggak daritadi coba."
Arga menatap tajam Keyra setelah membantu Flora berdiri, "Yang penting sekarang Flora udah minta maaf sama lo bereskan."
Keyra tersenyum, "Apa tadi? Beres? Enak banget ya cuman minta maaf tanpa pertanggungjawaban."
Keyra mendekat kembali kearah Flora, dengan cepat dia menjambak rambut Flora, "Lo tau? dimana-mana gue denger Flora ini lah Flora itulah. Flora, Flora dan Flora gue muak dengernya anjing!"
"Gue heran, kenapa banyak yang suka sama lo." Ujar Keyra datar. "Mereka bilang Flora itu baik, manis, imut, polos, pinter, pemalu, murah senyum dan segala hal baiknya beda sama gue tiap hari gue di bilang jahat, murahan, parasit, lintah, ular, ulat, pembully, bodoh, gila, benalu dan antagonis."
"Padahal yang harusnya dibilang jahat itu lo Flora lo bukan gue! lo dengan enaknya deketin tunangan gue dan jalanin hubungan sama tunangan gue."
"Lo tahu sendiri, Arga itu udah punya tunangan. Dan gue cuman mempertahankan tunangan gue, tapi dengan mulut lemesnya mereka bilang gue yang jahat udah merusak hubungan kalian."
"Salah gue apa?! Salah gue dimana?! Kenapa mereka main nge hakimin gue seenaknya?! Kenapa?!"
"Bahkan yang harusnya bilang cewek murahan dan jahat itu bukan gue tapi lo. Lo yang cewek murahan sialan!" Keyra menambah jambakan kepada Flora.
Ananta sendiri dia masih menikmati pertunjukan bahkan dia tidak sadar ada seseorang yang sedari tadi menatap nya dengan datar.
"Lepasin sialan!" Bentak Arga, melepaskan tangan Keyra yang menjambak gadisnya dengan brutal.
Keyra bernafas dengan memburu melihat Flora kembali di peluk oleh Arga.
Arga melepaskan pelukan dia menatap tajam Keyra,"Cewek gue itu bukan murahan! Yang murahan itu lo Keyra."
"Lo itu parasit, lo itu benalu Keyra! Gue bahkan jijik liat muka lo itu!" Lanjut Arga
Bagaikan tertusuk ribuan jarum, Keyra menatap Arga dengan pandangan kecewa. Dia lebih baik ditampar, di jambak, di pukul, ditendang, daripada mengatainya dengan kata murahan, parasit dan benalu oleh orang yang dicintainya.
"Aku bukan cewek murahan Arga, Flora yang murahan!"
Keyra mengambil gelas yang tergelatak di meja dan melemparkan tepat kearah Flora, namun sayang lemparan gelas itu tidak mengenai Flora. Namun gelas itu tetap saja pecah dan pecahannya kuat sehingga sedikit menggores pipi Flora.
"Keyra!" Arga kembali membentak setelah melihat pipi Flora sedikit tergores oleh pecahan kaca.
Flora langsung menatap Arga dengan mata yang sudah mengeluarkan air matanya. Arga menatap tajam Keyra, dia mengangkat tangan hendak menampar Keyra.
Keyra yang melihat memejamkan matanya namun Keyra tidak merasakan apapun. Ketika membuka mata, Keyra melihat ada tangan yang mencegah tangan Arga yang hendak menampar nya.
Arga yang melihat tangannya dicekal menatap tajam yang sudah berani menghalanginya ternyata seorang gadis. Dan ia Ananta.
"Lepasin." Ujar Arga dengan nada datar
Ananta melepaskan cekalannya, "Ups sorry, tangan gue suka refleks megang kalo ada orang yang suka main angkat tangan." Ananta dengan polosnya mengerjap matanya berkali-kali.
Sontak perlakuan Ananta mendapat tatapan tidak percaya orang-orang, karena Ananta tipe orang yang biasanya tidak suka ikut campur. Namun kenapa hari ini berbeda.
"Nah daripada lo main angkat tangan, mending lo buang ini aja."
Ananta memberikan sampah bekas keripik kentangnya yang memang sudah habis ke tangan Arga yang memang masih menggantung di udara.
"Nah gini kan lebih baik." Ujar Ananta dengan nada bangga ketika melihat tangan Arga yang sudah memegang sampah bekas keripik kentangnya.
Mereka mematung melihat tindakan yang dilakukan Ananta, bahkan Keyra sendiri menatap Ananta dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ayo." Ananta menarik tangan Keyra keluar dari kantin. Dia berjalan melewati para inti geng The Wolves termasuk Ezriel.
Ananta tidak melihat perubahan wajah Ezriel yang tadinya datar semakin datar melihat Ananta memegang tangan Arga dan melewatinya begitu saja tanpa menoleh.
"Bangsat." Umpat Arga melihat kepergian Ananta dan Keyra.
Pria itu menatap bekas sampah yang tadi Ananta berikan, dia meremas dan melemparkannya. Diam-diam dia tersenyum smirk tanpa seorang pun yang melihat.