
Gadis cantik itu sedang tengkurap dan menggoyangkan sebelah kakinya sembari membaca sebuah buku novel barusan dia temukan dijalan ketika pulang bekerja.
Karena jiwa kepo yang selalu berontak ditubuhnya, gadis itu terpaksa mengambil sebuah buku novel yang sedikit kuno itu.
Dia tahu dia salah seharusnya tidak sembarang mengambil barang orang lain, apalagi tergeletak dijalan.
Namun, karena penasaran yang tinggi dia mengambil dan dia berjanji ketika sudah selesai membacanya akan dia kembalikan buku novel itu ditempat semula.
Bagaimana tidak penasaran buku novel itu cukup menarik baginya, dari warna buku, cover dan blurb dari novel itu.
Nama gadis itu adalah Laluna Sky Deandra. Gadis dengan wajah manis itu merupakan murid Sekolah Menengah Atas. Luna sekarang berumur 17 tahun dan dia adalah seorang siswi kelas 12.
Laluna Sky Deandra nama yang bagus bukan? sayang sekali kehidupannya tidak sebagus dan secantik namanya. Dia hanya anak panti asuhan, bahkan dia tidak tahu menahu rupa dan wajah orang tuanya.
Karena memang sedari kecil dia sudah tinggal di panti asuhan. Bahkan nama itu merupakan pemberian dari bunda panti asuhan.
Bunda pernah mengatakan bahwa Laluna Sky Deandra atau akrab disapa dengan panggilan Luna, dia temui di halaman depan panti dan pada akhirnya Bunda merawat dia dari kecil hingga remaja.
Namun sudah 2 tahun yang lalu gadis itu pergi dari panti asuhan dan tinggal di kontrakan kecil yang cukup untuk dia tinggal sendiri.
Karena dia tidak ingin terus tinggal di panti dia ingin mencoba hidup mandiri dan tidak terus bergantung kepada bunda nya itu. Bahkan gadis itu bekerja paruh waktu setiap pulang sekolah. Dari mulai mengajar anak-anak, dan bekerja menjadi pelayan di sebuah cafe.
Luna gadis cantik dengan banyaknya prestasi, gadis pintar, manis, mandiri, pekerja keras dan suka menolong.
Dia merupakan tipe gadis yang baik kepada yang baik, dan jahat kepada yang jahat. Karena menjadi orang tidak harus selalu menjadi baik, apalagi manusia zaman sekarang kadang suka lupa bahwa kita pernah berbuat baik, tapi ketika kita sedang khilap dan berbuat kejahatan yang mereka ingat hanya kejahatan kita dan seolah lupa tentang kebaikan yang pernah kita lakukan.
Gadis itu terlalu larut dalam dunia fantasinya tidak menyadari bahwa sekarang seharusnya sudah waktunya untuk tidur.
Setelah berjam-jam gadis itu menutup buku dan terlentang di kasur miliknya.
"Ck kenapa cerita novel itu menurut gue sedikit menjijikkan ya."
"Bahkan gue jijik liat pemeran utama cewek itu."
"Gue paling nggak suka sama pemeran cowoknya, bajingan sekali."
Gadis itu terus saja bergumam tentang alur novel itu bahkan sesekali mengumpat. Masih tidak menyangka dengan alur novel itu yang menurutnya agak sedikit menjijikan.
"Tapi gue lebih kasihan sama pemeran figuran yang meninggal akibat kecelakaan, mana cuman muncul beberapa kali lagi dan gue juga kasihan sama hidup sang antagonis."
"Taulah gue pusing, ngapain mikirin novel sialan itu mending gue sleeping beauty karena besok gue harus sekolah."
Dengan perlahan gadis itu memejamkan matanya, memasuki alam mimpi.
"Semoga besok ada keajaiban dimana gue bisa merasakan yang namanya keluarga sempurna dan merasakan apa artinya dan rasanya mendapatkan kasih sayang dari orang tua" Batin Luna sebelum dia benar-benar terlelap menuju alam mimpi.
Itu merupakan sebuah harapan yang selalu dia inginkan setiap hari sebelum dia menuju alam mimpinya. Berharap setiap dia bangun akan mendapatkan keajaiban yang namanya kasih sayang dari orang tua.
Seakan jiwanya tertarik dengan terpaksa, dia sedikit tersentak dan ketika membuka mata sekarang dia sedang berdiri dibawah sinar matahari yang cukup terik di pagi hari.
Dengan banyak peluh yang keluar dari keningnya dan mata yang cukup berkunang-kunang gadis itu langsung saja ambruk di hadapan banyak siswa yang sedang melaksanakan upacara.
Ambruknya gadis itu menjadi heboh bagi seluruh murid di sekolah itu.
Bagaimana tidak gadis yang ambruk itu merupakan most wanted di sekolah mereka yang terkenal dengan sifat pendiam nya namun memiliki fitur wajah yang cantik.
Gadis cantik yang barusan pingsan dengan nametag yang terpasang di baju seragam itu adalah Ananta Sky Fernandez.
Sebelum gadis itu diangkat oleh petugas kesehatan, namun lebih dulu digendong ala bridal style oleh seorang pria yang merupakan most wanted sekolah ini.
Sontak perlakuan pria itu membuat para siswi membelalakan mata mereka dan terkejut ketika sang most wanted sekolah mengangkat seorang gadis.
Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di kepala para siswi tentang hubungan apa Ananta dengan pria itu.
Pria yang sedang menggendong itu berjalan terburu-buru menuju ruang UKS.
Meskipun wajah pria itu datar namun ketika mendekat dan melihat dari bola mata pria itu terlihat jelas ke khawatiran.
Detik, menit dan jam telah berlalu bahkan sekolah sudah hampir sepi namun Ananta gadis yang pingsan tadi masih belum membuka sedikitpun matanya.
Pria yang tadi menggendong masih stay menunggu gadis itu terbangun. Bahkan pria itu sesekali melirik kearah brankar tempat gadis itu berbaring. Namun masih tidak kunjung membuka matanya.
"Eungh."
Sontak ketika pria itu sedang bermain game dan mendengar lenguhan seseorang langsung menyimpan ponselnya dan menatap gadis itu.
Gadis yang tengah berbaring itu mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina.
Ananta gadis itu menoleh dari kiri, kedepan dan setelah menoleh ke kanan betapa terkejutnya dia mendapati seorang pria tampan yang menatap nya datar.
Perlahan gadis itu bangkit dan dibantu pria itu dengan menyandar di brankar.
Pria itu kemudian memberikan air minum kepada Ananta.
Ananta menerimanya senang hati dengan perlahan dia meminum air putih itu, rasa segar mengalir di tenggorokannya yang terasa kering.
Dia menoleh kearah pria itu "Makasih" Ujarnya dengan nada tulus.
Pria itu hanya menatap datar namun tidak lama dia mengangguk.
Dengan ragu Ananta bertanya, "Em btw lo siapa ya?"
Namun bukannya menjawab pria itu malah menatap datar Ananta. Seakan merasa bahwa pria itu tidak akan menjawab pertanyaan nya. Ananta mengalihkan pandangannya dan tanpa sengaja dia melihat nama pria itu di nametag .
"Ezriel Samudra Garendra."
Seakan merasa familiar dengan pria itu, dia menepis terlebih dahulu karena dia masih merasakan pusing di kepalanya.
"Masih pusing?" Tanya pria itu
Ananta menggangguk lesu karena memang benar dia masih merasakan pusing.
"Kita pulang."
Ananta hanya diam tidak menjawab, namun tiba-tiba dia sedikit terkejut ketika pria itu membalikan badan sehingga membelakangi Ananta.
"Naik." Ujar pria itu dengan nada datar
Ananta tidak menolak dia langsung saja menaiki punggung pria itu, karena kaki dia juga lemas.
Mereka berdua melangkahkan kakinya dengan Ananta di punggung pria itu.
Ananta menyenderkan kepalanya, sesekali menatap ruangan yang mereka lewati. Gadis itu seakan sadar sesuatu, tiba-tiba jantungnya berdetak tidak normal. Dia ingat bukannya dia tadi sedang tidur kenapa sekarang berada di sekolah.
Bahkan kalaupun ini sekolahnya, sekolahnya tidak se-elit ini dan semewah ini, bahkan ruang UKS nya juga tidak sebesar tadi.
Sekarang juga dia sadar siapa pria ini, kenapa pria ini seakan mengenalinya. Karena masih pusing dan lemas gadis itu memutuskan memejamkan matanya.
Seharusnya gadis itu panik tapi karena merasakan badannya masih lemas dia tidak mempedulikan siapa pria ini. Karena kalaupun berbuat yang aneh-aneh dia akan membalas pria ini lebih kejam.