
"Dek, kalian sudah kembali?" Fazila mengibaskan tangannya memberikan isyarat agar ketiga adik lelakinya mendekat dan duduk di dekatnya.
"Kalian dari mana? Ayo duduk disini!" Kali ini Refal yang angkat bicara sembari menepuk kursi kosong yang ada di dekatnya.
Dengan langkah malas dan senyum yang di paksakan, Fatih, Umang dan Regan berjalan mendekati Kakak perempuannya. Seandainya Fazila tidak ada disana, sudah di pastikan mereka akan menghindari Refal. Rasanya malas saja harus duduk di dekat tiga wanita yang membuatnya hampir saja terluka.
"Kalian dari mana saja? Apa kalian tidak merindukanku?" Fazila menyebikkan bibirnya, Ia menatap tajam ketiga adik lelakinya.
"Bagaimana kami bisa tidak merindukan Kakak? Bagi kami Kakak yang terbaik." Balas Fatih dengan suara lembutnya. Ia tidak berbohong, ketiga pria itu memang sangat dekat dengan Fazila. Saudara memang harusnya seperti itu, saling menyayangi dalam naungan Ilahi dan bukannya saling berseteru gara-gara hal sepele.
"Dek, kemari! Duduk dekat Kakak." Ucap Fazila lagi, tanpa melepas senyuman dari wajah cantiknya. Tanpa bantahan, Fatih, Regan dan Umang langsung duduk di sisi kiri Fazila.
"Kita keluarga, tapi kalian tidak saling mengenal. Namanya Melani, Kau bisa memanggilnya Melan. Adik perempuan dari Kakak Ipar mu. Dia memang manja dan sedikit nakal, tapi dia sangat baik. Kalian akan menjadi teman yang kompak." Ucap Fazila memperkenalkan Melani, adik iparnya.
Melan terlihat salah tingkah. Kepercayaan dirinya terlihat menguap begitu saja. Maklum saja, sejam yang lalu dia bertingkah seperti perempuan liar yang mendatangkan masalah bagi Fatih.
Melan... Lihat apa yang Kau lakukan? Sikap nakalmu akhirnya mendatangkan masalah untuk dirimu sendiri. Kak Fazila akan mengutukmu jika dia tahu apa yang Kau lakukan pada ketiga adiknya... Batin Melan sambil menundukkan kepala, sementara kedua rekannya yang tadi mempropokasinya untuk melakukan tindakan konyol hanya bisa mengusap dada tak percaya dengan apa yang terjadi di depannya.
"Kami saling mengenal, Kak. Dia gadis yang baik. Bahkan karena ulahnya Fatih dan..."
"Iya, Kak. Ka-kami sudah saling mengenal." Celoteh Melan menyela ucapan Fatih, Ia tidak ingin tiada secepat ini karena itu lah Ia lebih memilih berbohong untuk menyelamatkan diri. Bahkan jika Refal sampai mengetahui kelakuannya, sudah jelas Melan akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah di kerjakannya.
Mendengar Melan yang berbohong dengan sangat mudah, Umang dan Regan saling menatap tak percaya. Dalam hati Ia menggerutu sembari mendoakan agar wanita yang duduk di dekat Kakak perempuannya itu menjomblo seumur hidupnya.
Iya, hanya satu kata itu yang cocok untuk menggambarkan kondisi ini. Bukankah itu kekonyolan saat keempat adiknya berusaha mengelabuhinya? Walau bagaimana pun, akhirnya Fazila lebih memilih mengikuti arus yang sudah tercipta, maksudnya ikut bersendiwara dan berusaha mendekatkan mereka sehingga tidak ada lagi permusuhan.
"Oo iya, Kakak lupa memberitahukan kalian bertiga. Mulai besok Kakak akan kembali mengajar di Kampus, masa cuti telah berakhir jadi kalian harus menyiapkan diri untuk setiap kejutan-kejutan yang akan Kakak berikan di dalam kelas."
"Apa, kejutan?" Ucap Umang dan Regan bersamaan, Melani tersentak sampai minuman dingin yang ada di tangannya tumpah mengenai rok selututnya.
"Kakak, Aku tahu Kakak sangat bersemangat saat memberikan kami tugas. Apa kali ini kami tidak bisa terbebas? Tolong, untuk sepekan saja..." Fatih memelas membuat Refal tertawa lepas. Baru kali ini ia tahu Istri lemah lembutnya ternyata sosok Dosen yang cukup di takuti.
"Baiklah, akan Kakak lakukan asalkan kalian bertiga..." Ucapan Fazila tertahan di tenggorokannya, Ia menatap ketiga adik lelakinya bergantiaan.
"Iya, baiklah. Apa pun yang Kakak minta akan kami lakukan." Balas Regan sambil merangkul Fatih dan Umang.
"Syaratnya kalian harus bersikap baik pada Melan. Dan satu lagi, kita adalah keluarga. Tidak boleh ada perpecahan di antara kita. Kalian mengerti?"
Untuk sesaat Fatih, Umang dan Regan menatap wajah penuh penyesalan Melan dan kedua rekannya.
Sedetik kemudian.
"Iya, kami mengerti." Jawab Fatih, Umang dan Regan bersamaan. Tidak ada balasan dari Fazila selain senyuman tipis yang masih mengembang di wajah cantiknya.
...***...