
Lusa?
Lusa yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak keluarga sebagai hari bersejarah bagi Refal dan Fazila akhirnya sudah di depan mata. Dan sebentar lagi akan terjadi proses Ijab Kabul yang menggetarkan jiwa, dua jiwa akan di satukan menjadi satu.
Pernikahan bukan sekedar janji di depan penghulu, bukan juga sekedar janji di depan saksi atau hadirin yang menyaksikan hari sakral itu. Tapi pernikahan itu adalah janji seorang pria untuk wanitanya, janji di depan Allah untuk selalu menjaga wanitanya, membuat wanitanya bahagia dan menjaga perasaannya agar tidak pernah merasakan luka.
Pernikahan itu terikat bukan lantaran kalimat 'Aku sayang kamu dan aku cinta kamu' tapi di dalam pernikahan itu terdapat banyak tanggung jawab yang harus di penuhi, banyak kebahagiaan yang menanti, dan dalam setiap tarikan nafas ataupun genggaman tangan terdapat banyak sekali pahala kebaikan. Jika ada jalan menuju bahagia tanpa harus berbuat dosa, lalu untuk apa memilih jalan Zina?
"Sayang... Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Penghulu juga sudah datang. Ayo kita turun, Mama tidak ingin berlama-lama." Ucap Nyonya Asa sambil memegang jemari Refal.
"Kedua adik mu juga sudah datang, mereka tiba pagi ini. Mereka bahkan tidak pulang kerumah, dari bandara mereka berdua langsung kemari." Ucap Nyonya Asa lagi.
Dua jam yang lalu keluarga Shekar tiba di kediaman Tuan Alan, mereka datang bersama semua anggota keluarganya untuk menghadiri Ijab Kabul yang akan di adakan sepuluh menit lagi.
Seperti biasa, Refal terlihat sangat tampan. Ia layaknya lukisan mahal yang terpajang dengan indah di Galeri dengan harga tak terhingga, siapa pun yang melihatnya pasti akan mudah jatuh cinta. Tidak hanya tampan dia juga di karunia kecerdasan. Jika ada satu kata yang bisa menggambarkan sosoknya, maka tidak ada kata lain selain Sempurna.
Untuk sesaat Refal menatap pantulan wajahnya di cermin, sudut bibirnya sedikit terangkat. Dia sendiri mengagumi betapa tampan wajahnya saat ini, layaknya mentari yang menghangatkan, Refal pun menyadari auranya yang selama ini terpendam keluar begitu saja.
Sempurna! Batin Refal sabil menatap dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Benarkah kedua anak itu datang? Bukankah Papa bilang mereka tidak bisa datang karena sedang ujian?"
"Iya, kemarin mereka memang sibuk ujian. Tapi sekarang tidak lagi. Lagi pula adik mana yang tidak ingin menghadiri pernikahan kakaknya? Jika mereka sampai kelakukan itu, Mama pasti akan memarahinya." Celoteh Nyonya Asa sambil merapikan Jas yang Refal kenakan.
"Ayo, sayang. Sudah waktunya."
Tidak ada balasan dari Refal selain anggukan kepala. Ia menatap wajah bahagia Mamanya tanpa melepas senyuman dari bibirnya.
Dua menit kemudian Refal sudah duduk manis di depan penghulu dan saksi nikahnya. Sungguh, dadanya berdebar sangat kencang, seolah jantungnya akan loncat keluar. Sekujur tubuhnya merasakan tegang. Apa semua pengantin merasakan hal yang sama saat mereka akan melakukan janji suci? Entahlah Refal sediri tidak tahu itu, yang ia tahu saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Netra Refal menerawang kesegala arah, ia mendapati kedua adiknya duduk di samping Mama dan Papanya. Dari jauh Refal menyapa kedua adiknya yang baru datang hanya dengan senyuman. Tampak jelas dari senyuman mereka, kalau mereka saling merindukan satu sama lain.
Refal kembali tegang, saat ini tangannya di genggam erat oleh pria paruh baya yang berstatus sebagai Penghulu.
Saya terima nikah dan kawinnya Meyda Noviana Fazila dengan Mas kawin seperangkat alat Shalat dan perhiasan berlian di bayar tunai. Ucap Refal dengan suara lantang. Ada perasaan takut yang mengganjal di hatinya, ia takut salah, jangan sampai semua orang menertawakannya.
"Bagaimana para hadirin?" Tanya Pak Penghulu sambil menatap beberapa orang yang dekat dengan tempat duduknya.
"Sah!" Jawab wali singkat.
"Alhamdulillah, sah." Ucap penghulu dan para hadirin bersamaan.
Suara ijab kabul itu terdengar sangat jelas di indra pendengaran Fazila yang saat ini masih berada di kamarnya, Fazila di jemput oleh kedua Tante cantiknya, Sabina dan Morgiana. Tampak jelas kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua wanita paruh baya itu. mereka memeluk Fazila secara bergantiaan
"Selamat, sayang. Sekarang kau sudah resmi menjadi istri seorang Gubernur. Apa sekarang kami harus mulai membuat janji untuk bisa bertemu denganmu? Tante yakin kau akan semakin sibuk." Ucap Tante Sabina sambil memeluk Fazila.
"Tante Gi, lihat Tante Sabina. Dia meledekku." Ucap Fazila dengan suara manja, dia memang sangat dekat dengan kedua wanita itu.
"Sabina, jangan meledeknya. Aku sangat mencintainya!" Ucap Tante Morgiana yang sedang membela Fazila.
"Morgiana, aku juga Tantenya. Aku juga sangat mencintainya!" Balas Tante Sabina sambil menatap wajah memelas Fazila.
Sedetik kemudian.
Hahaha!
Kamar Fazila di penuhi oleh tawa ketiga wanita cantik itu. Mereka saling Rangkul dalam bahagia.
"Ayo, sekarang kita harus keluar. Pak Refal pasti menunggumu. Dan semua orang pasti ingin melihat bintang hari ini, kau sangat cantik. Bahkan Rembulan akan malu melihat pesona indah mu. Terima kasih sudah masuk dan menjadi bagian dalam hidup kami." Ucap Tante Sabina lagi.
Kini kedua wanita kesayangan Fazila itu berdiri mengapit Fazila. Lengan kanan di pegang oleh Tante Sabina dan lengan kiri di pegang oleh Tante Morgiana, mereka berjalan pelan meninggalkan kamar Fazila yang terletak di lantai dua menuju ruang utama.
"Waw... Kakak ipar sangat cantik." Ucap adik perempuan Refal di telinga saudara laki-lakinya.
"Hus... Jangan berisik." Ujar adik laki-laki Refal sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.
Fazila terlihat sangat cantik menggunakan pakaian pengantin berwarna kuning keemasan. Dia terlihat elegant. Dengan balutan hijab dan mahkota kecil yang bertengger di puncak kepalanya. Ia bagaikan ratu, dan lihatlah semua orang. Semua mata menatapnya dengan tatapan takjub. Jika ada Bidadari di dunia ini maka Meyda Noviana Fazila lah orangnya.
Apa dia benar-benar istriku? Luar biasa, aku bahkan tidak ingin mengedipkan mata. Pesona indahnya menyihir jiwa dan ragaku. Batin Refal tanpa melepas pandangannya dari wajah cantik Fazila.
"Nak Fazila, sekarang kau sudah sah menjadi istri Pak Gubernur. Kau boleh menjabat tangannya." Ucap Pak Penghulu memecah lamunan Refal.
Fazila mengulurkan tangan lembutnya, yang kemudian disambut oleh tangan Refal. Untuk pertama kalinya Fazila memegang tangan seorang pria. Pria yang sudah sah menjadi belahan jiwanya. Perlahan Fazila merunduk, menyalami tangan suaminya dan mencium punggung tangannya. Ada perasaan aneh yang saat ini memenuhi rongga dadanya.
"Pak Gubernur, sekarang Nona Fazila sudah menjadi istri sah anda. Anda boleh menciumnya." Ucap Pak penghulu dengan perasaan lega, ia lega karena bisa menjadi bagian dari pernikahan luar biasa ini.
Refal kembali menatap wajah cantik istrinya, tanpa berpikir panjang ia langsung mendaratkan kecupan hangatnya di puncak kepala Fazila.
Sah!
Satu kata itu masih bergema di indra pendengaran Refal, dan berkat satu kata itu pula ia mendapatkan hak untuk mencium puncak kepala gadis tercantik di dunia. Meyda Noviana Fazila.
...***...