
Rembulan malam ini masih bersinar sangat terang, cahayanya bahkan sanggup memperlihatkan dengan jelas betapa gugupnya kedua anak manusia itu, yakni Refal dan Fazila.
Setelah percakapan tadi, mereka bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Malu, canggung, deg-degan, atau apalah namanya semua perasaan itu kini memenuhi rongga dada mereka berdua. Apa semua pengantin melewati malam pertama mereka dengan perasaan canggung seperti itu? Entahlah, baik Refal maupun Fazila tidak tahu jawabannya.
"Sungguh, hubungan ini terlalu tiba-tiba untukku." Refal mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Untuk sesaat masih belum ada tanggapan dari Fazila.
"Iya... Aku tahu. Akulah yang memulai hubungan ini, di mulai dari meminta waktu enam bulan hingga turun menjadi dua hari." Sambung Refal lagi, walau Refal sudah berkata seperti itu Fazila tetap saja tidak memberikan tanggapan apa pun. Sebenarnya Fazila hanya ingin mendengar ucapan Refal selanjutnya.
"Selama kita tidak menceritakan tentang masa lalu kita, maka kita tidak akan bisa membangun hubungan ini dengan jujur." Untuk kesekian kalinya Refal berucap sambil menatap wajah merunduk Fazila.
Sungguh, Refal mengagumi kecantikan alami istrinya. Namun ia enggan untuk mengakuinya secara langsung.
"Aku kuliah dan meraih gelar Profesor ku dari kampus ternama... Setelah kembali ke Indonesia aku mulai melibatkan diri dengan kegiatan masyarakat.
Dan sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, aku hanya berhubungan dengan satu wanita, kami saling menghormati dan kami saling mencintai. Nama gadis itu Hilya." Setelah membeberkan nama wanita terindah dalam hidupnya Refal kembali terdiam. Untuk sesaat ia menatap wajah merunduk Fazila, berusaha mencari tahu apa gadis cantik itu merasa kesal dengan ucapannya atau tidak, mengetahui Fazila tidak memberikan respon buruk Refal kembali melanjutkan kisah masa lalunya.
Saat ini Refal hanya bisa berpikir, mengurai masa lalunya yang seperti benang kusut jauh lebih penting dari pada menyimpannya sendirian, karena ia tidak ingin terjadi kesalah pahaman di masa depan.
"Hilya gadis yang sangat cantik. Yang membuatku jatuh cinta padanya? Dia gadis yang ramah dan baik hati, demi membuat orang tersayangnya bahagia, dia bahkan rela melakukan apa saja." Ujar Refal pelan. Kali ini Refal menatap kearah langit, mencari bintang yang paling bersinar terang, ia sering mendengar Hilya bicara kalau gadis cantik itu akan menjelma menjadi bintang setelah ia tiada agar tidak dilupakan.
"Aku masuk kedalam dunia politik karena Hilya, dia bilang pria jujur dan baik hati sepertiku dibutuhkan oleh dunia agar keamanan dan keadilan tetap ada. Entah takdir baik apa yang ku punya sehingga Allah mempermudah segalanya, aku menjadi Gubernur yang namanya mulai di sebut-sebut di seluruh seantaro kota. Bukankah aku sangat beruntung?"
Malam semakin larut tapi sayangnya, baik Fazila maupun Refal tidak ada yang mau beranjak dari balkon. Bagi pengantin baru lainnya, mungkin saling bertukar saliva atau larut dalam kenikmatan perpaduan di bawah selimut akan jauh lebih utama. Tapi tidak bagi Refal dan Fazila, saling mengenal jauh lebih utama. Jika tidak saling mengenal lalu dari mana datangnya cinta? Setidaknya itulah yang Refal pikirkan sampai ia berani mengurai tentang masa lalunya.
"Apa Nona Fazila tidak akan bertanya?"
"Tidak." Jawab Fazila singkat, kali ini ia memberanikan diri untuk menatap wajah tampan Refal.
"Tanpa seizin ku, Hilya mendaftarkan diri menjadi seorang Polwan. Dia bilang dia terlihat semakin cantik dengan seragamnya dan aku akan semakin jatuh cinta padanya.
Haha! Iya, aku memang semakin jatuh cinta padanya. Setiap detik berganti menuju menit, setiap menit berganti menjadi jam. Dan setiap bulan berganti menjadi tahun, perasaan cintaku padanya semakin besar. Karena itulah aku memberanikan diri untuk melamarnya, dan beruntungnya Hilya tidak menolak. Kedua orang tuaku pun sangat menyukainya."
Hmmm!
"Sepuluh tahun aku menjalani hubungan asmara dengan Hilya, sekalipun aku tidak pernah bersikap tidak sopan padanya. Kami memang sering bergandengan tangan tapi tidak pernah sekalipun melewati batasan.
Hari itu dalam misi terakhirnya, dengan cincin pertunangan yang sudah terselip di jari manisnya, Hilya berjanji akan kembali dan kami akan menikah.
Iya, hari itu Hilya menepati janjinya untuk kembali. Tapi sayangnya dia kembali dalam keadaan berbeda, tidak ada lagi senyuman seindah purnama dan tidak ada lagi kehangatan seperti Mentari. Dia datang dalam keadaan tak bernyawa dan hal itu menghancurkan jiwa dan ragaku."
"Lalu, apa yang terjadi setelahnya? Apa pak Gubernur mulai menutup diri? Atau sebaliknya, menjadi pribadi pemarah tanpa arah?" Fazila yang sedari tadi berusaha untuk diam kini mulai membuka suara, ia memberanikan diri untuk bertanya walau sebenarnya ia tidak terlalu ingin Refal mengenang rasa sakitnya.
Mendengar pertanyaan Fazila Refal hanya bisa mengelus dada, pertanyaan yang di lontarkan Fazila bagaikan cambuk yang menguliti seluruh bagian dari tubuhnya. Bila menjawab 'Iya' rasanya itu terkesan buruk karena ia hanya akan di ingat sebagai pria cengeng yang tidak bisa lepas dari derita. Bila menjawab 'Tidak' rasanya pun sangat keterlaluan karena ia bukanlah seorang pembohong.
Huhhhh!
Sambil membuang nafas kasar dari bibir, Refal menyiapkan jawaban singkatnya, berharap Fazila tidak akan memandangnya dengan tatapan kecewa.
"Iya, aku masuk kedalam dua kategori itu. Pemarah dan menutup diri. Untuk menyamarkan rasa sakit akibat kehilangan, aku bekerja seperti sapi perah. Siang hari aku bekerja dan malam hari aku akan menangis." Ucap Refal mengakhiri kisah indah juga menyakitkannya.
Tanpa Refal sadari, Fazila berjalan kearahnya. Berdiri di sampingnya kemudian memegang kedua pundak kekarnya. Fazila sendiri tidak tahu kenapa dia ikut larut dalam perasaan sedih yang Refal rasakan, saat ini dia hanya ingin menghiburnya.
"Tatap aku, apa kau masih merasakan sakitnya masa lalu walau kau sudah berdiri disisiku?" Fazila bertanya masih dalam keadaan memegang kedua pundak kekar Refal.
Tidak ada balasan dari Refal selain menggelengkan kepala pelan.
"Maka itu sudah cukup untuk kita berdua. Mulai saat ini, aku akan menjadi kekuatan untuk Pak Gubernur. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu sendiri.
Aku juga tidak akan mengusik masa lalumu, biarkan dia tetap tersimpan di memorimu tapi ingat satu hal, jangan terluka lagi karenanya. Apa yang sudah pergi tidak akan kembali, apa yang masih ada maka jagalah dengan sepenuh hati." Celoteh Fazila dengan suara lembutnya.
Wajah tampan Refal masih merunduk, ia tidak berani menatap wajah Fazila karena ia takut wanita cantik itu akan kecewa padanya. Entah apa yang Fazila pikirkan sampai ia berani menangkup wajah tampan Refal dengan kedua tangannya. Bukan hanya itu, Fazila bahkan berani mencium bibir lembut Refal.
...***...