Fazila Titipan Dari Surga(2)

Fazila Titipan Dari Surga(2)
Kejutan


Hahaha!


Nyonya Asa terkekeh. Di tangannya ada berkas penting menyangkut laporan karyawan butik miliknya. Sayangnya, fokusnya hanya tertuju ke tempat lain. Tuan Anton yang melihat tingkah aneh istrinya langsung meletakakan koran yang di bacanya di atas meja.


"Ma, ada apa? Apa ada yang lucu?" Tuan Anton bertanya tanpa melepas tatapan dari wajah istri cantiknya. Keningnya masih berkerut menandakan Ia benar-benar penasaran. Sangat penasaran.


"Papa perhatikan, Mama terlihat senang, apa Papa boleh mengetahui alasannya?"


"Pa, Mama sangat bahagia. Mama sampai tidak bisa mengatakan apa pun, Papa bisa lihat, kan? Mama sampai tidak bisa berhenti tersenyum." Balas Nyonya Asa antusias.


"Memangnya ada apa? Apa itu hal yang menakjubkan?"


"Tentu saja, Pa. Ini sangat menakjubkan. Lebih dari apa pun. Apa Papa masih ingat acara Radio yang sering Refal bicarakan? Maksud Mama acara Cuap-cuap bareng Meyda."


"Iya, Papa masih ingat. Bukankah acara itu sudah lama di hentikan. Kabarnya, pembawa acara itu memutuskan untuk berhenti. Dan anehnya, pembawa acara itu sangat tertutup. Dia meminta stasiun Radio menyembunyikan identitasnya, sampai-sampai tidak ada yang pernah melihat wajahnya kecuali orang terdekat dan rekan-rekan siarannya. Bukankah itu aneh?" Tuan Anton terlihat menghela nafas kasar. Ia masih ingat usaha putranya agar bisa bertemu dengan penyiar favoritnya. Sayang sekali, usaha Refal sia-sia, hingga acara Cuap-cuap bareng Meyda di hentikan untuk sementara waktu, Refal benar-benar tidak bisa menemui pembawa acara favoritnya itu. Untuk pertama kali dalam hidup Refal menyadari kalau statusnya sebagai seorang Gubernur benar-benar tidak membawa pengaruh apa pun di depan pembawa acara yang Ia kenal dengan nama Meyda.


"Yang membuat Mama tertawa, sejak dulu putra kita ingin bertemu dengan penyiar Radio yang terkenal dengan nama Meyda. Dan lihatlah bagaimana Takdir bermain..."


Lagi-lagi Tuan Anton hanya bisa menatap istrinya dengan tatapan penasaran. Sejak mendengar istrinya bicara Ia belum juga bisa menangkap kemana arah pembicaraan ini akan berlabuh.


"Pa... Penyiar Radio Meyda itu tak lain adalah Menantumu, Fazila kita. Iya, penyiar radio favorit putramu adalah Fazila, istrinya sendiri." Ucap Nyonya Asa mengabarkan beritanya. Wajah cantik itu masih memamerkan senyuman menawan.


Glekkkk!


Tuan Anton menelan saliva, Ia cukup terkejut dengan berita yang di dengarnya.


"Mama yakin?"


"Tentu saja, Pa. Mama sudah memastikannya. Malam ini adalah malam terakhir Fazila melakukan siaran Radio."


"Wah... Ini benar-benar kejutan. Jika Papa saja terkejut, lalu bagaimana dengan Refal?"


Nyonya Asa dan Tuan Anton saling melempar senyuman. Mereka sangat takjub dengan semua yang ada dalam diri menantu barunya.


...***...


Sementara itu, di tempat berbeda dan di jam yang sama, Refal sedang duduk di dalam mobilnya, tepatnya di depan gedung tempat Fazila akan melakukan siaran. Sejak Refal baru tiba hingga tiga puluh menit berlalu, Ia terus saja menatap ke arah pintu berharap Fazila-nya akan keluar dan menatapnya dengan tatapan cinta. Apa itu mungkin? Entahlah, Refal sendiri tidak tahu itu karena sebelumnya, Ia tidak pernah memberikan kabar tentang kedatangannya pada Fazila.


"Apa semua informasi tentangnya bisa di percaya? Aku tidak ingin detektif pilihanmu membuatku menunggu.


Dan satu lagi, apa Kau sudah memutuskan kontak dengan suruhan tidak bergunamu? Maksudku, orang yang Kau minta menyelidiki kasus kematian Hilya." Refal bertanya tanpa menatap wajah Bima, namun tangannya sibuk membuka amplop yang baru saja Ia terima.


"Iya, Pak. Sudah. Saya juga yakin sebentar lagi kita akan mendapatkan bukti tentang pristiwa yang melibatkan kematian Nona Hilya." Timpal Bima tanpa berani menatap wajah Refal. Bibirnya bicara namun matanya menatap ke kaca mobil.


"O iya, Pak. Apa anda sudah menghubungi Nyonya?"


"Belum!"


"Kenapa Bapak tidak menghubungi Nyonya? Saya yakin beliau pasti senang mengetahui kedatangan Bapak!"


"Aku tahu apa yang harus Ku lakukan. Lagi pula, tidak mungkin Aku mengganggunya saat dia sedang bersiap. Dan bodohnya Aku, kenapa Aku mau menjawab pertanyaanmu." Celoteh Refal sambil menatap wajah serius Bima.


"O iya, Pak...."


"Apa lagi Bima? Aku ingin fokus dengan isi amplop ini. Apa Aku harus menunggu sampai dua jam lagi karena Kau tidak membiarkanku untuk membacanya?"


Mendengar ucapan Refal, Bima hanya bisa menghela nafas di dalam hatinya.


"Walau Bapak tidak menyukainya, Aku akan tetap bertanya. Apa Bapak sudah tahu kalau penyiar Radio favorit Bapak adalah Nyonya?"


"A-apa yang Kau katakan?"


Refal terdiam sejenak kemudian Ia beralih menatap Bima dengan tatapan tajam.


"Iya, Pak. Penyiar Radio dengan acara Cuap-cuap dengan Meyda itu tak lain adalah Nyonya sendiri. Penyiar yang ingin Bapak temui sejak dulu." Jawab Bima dengan suara meyakinkan.


Terkejut. Hanya itu yang bisa Refal rasakan saat ini. Bagaimana tidak, selama ini Ia tahu Fazila juga menggunakan waktunya di stasiun siaran Radio tapi Refal tidak pernah menyangka kalau Fazila-nya adalah orang yang sama dengan orang yang selama ini ingin Ia temui.


Bukankah takdir bermain dengan baik dalam kehidupanku? Orang yang selama ini menjadi sandaran ku setelah kepergian Hilya Hanya Meyda. Meyda yang sama dengan sosok yang paling ku cintai, yakni Fazila. Ini benar-benar kejutan. Batin Refal sambil tersenyum penuh kemenagan. Ia turun dari mobil dan berjalan menuju gedung tempat Fazila berada.


Sementara Bima? Ia hanya bisa menggelengkan kepala melihat Tuannya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


...***...