DOSEN DINGIN ITU SUAMIKU

DOSEN DINGIN ITU SUAMIKU
MENGUNJUNGI RUMAH MENANTU


Malam ini Al sedang memasak untuk makan malam dirinya dan juga suaminya. Najwa izin pulang kampung tadi pagi, karna ibunya sakit. Alhasil malam ini Al membuat makanan ala kadarnya, karna memang dia sedikit mager sekarang.


"Lagi masak apa sayang?" Fatih yang baru turun setelah solat isya tadi dia mengerjakan beberapa pekerjaan sebentar


"Aku lagi mager mas sekarang, jadi buat gini doang. It's oke?" Tanya Dijah sambil membawa piring yang berisi omlet telur ke meja makan


"Wah ini omlet sama bening bayem jagung, aku suka. Ayo makan pasti ini enak." Fatih antusias


Saat Fatih akan mengambil nasi untuk dimasukkan ke pirirngnya, Al langsung menahan tangannya.


"Biar aku yang ambilin." Al merebut piringnya, dan langsung memasukkan nasi plus sayur


"Segini cukup?" Tanya Al menyodorkan piring yang sudah terisi lengkap


"Iya sayang, syukron." Ucap Fatih senang


"Hah apaan mas, sukro? Pilus sukro ga ada disini." Al bingung


"Hahaha, syukron sayang, artinya terimakasih dalam bahasa arab." Fatih tertawa mendengar istrinya salah bicara


'yaAllah dia ketawa gitu ko tambah manis ya, suami gue nih.' Batin Al


"Owh gitu, lagian pake bahasa arab. Aku ga suka dari dulu sama bahasa arab, susah, kalo bahasa inggris iya aku jago." Ucap Al menepuk-nepuk dadanya sombong


"Kamu juga harus tau sedikit-sedikit sayang." Balas Fatih lembut


Mereka berdua langsung melanjutkan makan itu tanpa berbicara lagi. Hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, sampai mereka menghabiskan nasi dan juga sayur hingga tandas tanpa sisa. Sepertinya makanan sederhana buatan Al sangat nikmat.


"Yey habis, Alhamdulillah." Ucap Al senang


"Alhamdulillah." Ucap Fatih juga


"Udah bisa masuk master chef belum nih mas?" Tanya Al dengan wajah yang cekikikan


"Boleh juga sayang." Jawab Fatih yang juga merasa lucu dengan jokes istrinya


"Mas, kamu bisa kasih panggilan lain gak sih buat aku?" Tanya Al, ketika mereka masih duduk di meja makan sembari menurunkan nasi di perut masing-masing


"Emangnya kamu gak suka aku panggil sayang?" Fatih heran


"Bukan gak suka, tapi kasih yang lain, kayak aku manggil kamu, mas."


"Sayang aja emang kenapa?"


"Ya kalo panggilan itu pasti lah. Tapi kalo di depan orang tua atau yang lain kan, malu gitu kalo panggil sayang."


"Pasti, tapi gak pernah panggil suaminya sayang!" Ucap Fatih menyindir


"Ah ehm itu, kapan aja lah." Al mengerucutkan bibirnya


Hahaha, Fatih merasa gemas dengan wajah istrinya yang langsung memerah.


"Iya baiklah, jadi kamu mau di panggil apa?"


"Ya mas yang mikir coba"


"Bagaimana kalo adek aja, karna kan kamu seperti adek aku kalo ngeliat dari umur?"


"Hah adek ya, boleh juga deh." Ucap sambil berpikir dan tersenyum


"Yasudah, kalau gitu aku mau cuci piring bekas kita makan dulu ya dek." Fatih beranjak dari duduknya dan hendak membawa piring-piring itu


"Eh gausah mas biar aku aja." Al menahan Fatih


"Dekk, tadi kan kamu sudah masak ini, jadi sekarang giliran mas yang cuci. Kamu duluan ke atas sana, ini perintah!" Ucap Fatih mengelus puncak kepala Al yang tidak di tutupi dengan hijab


Huhuu Al berlari kembali ke atas, dan masuk ke dalam kamar sambil tangannya masih memegang dadanya yang jedag jedug jeger, akibat ulang Fatih.


"Woi kenapa dia manis banget si, lembut gitu ke gue. Arrghhh mana sifat dinginnya dulu. Dan tadi apa, dia manggil gue adek dan manggil dirinya sendiri mas? Omgg baper maakkk." Teriak Al setelah menutup pintu dengan rapat agar Fatih tidak mendengar suaranya


Saat ini Al dan Fatih sudah manaiki ranjang tidur, setelah tadi mereka bersih-bersih untuk persiapan tidur.


"Sayang, aku mau kasih tau kalo besok ayah, bunda, umi dan abah mau datang ke rumah kita!" Ucap Fatih setelah mereka tiduran terlentang menghadap langit-langit kamar


"Hah besok? terus aku harus apa. Kita gak ada apa-apa dirumah, mau masak juga belum belanja, isi kulkas tinggal dikit. Kok kamu baru bilang sih!" Kesal Al karna tiba-tiba


"Maaf ya, aku lupa. Tadi ayah yang kasih tau aku waktu siang. Udah gak papa, gak usah buat apa-apa juga, ayah bilang besok bakal bawa makanan kesini hm."


"Hm yaudah deh kalo gitu, aku cuma ga enak kalo mertua mau dateng tapi gak persiapin apa-apa."


"Ciee romantis banget sih ke mertuanya, kalo ke aku gak hm?" Fatih menggoda Al


"Apaan sih." Al memukul pelan lengan Fatih


Fatih langsung membawa Al ke dalam dekapannya. Ia peluk istrinya itu dengan erat, dan Al langsung membalas pelukan Fatih yang selama ini membuatnya merasa nyaman.


Tapi karna Al yang banyak bergerak, apalagi kakinya yang bergerak kesana kesini, sehingga tak sengaja sesekali menyenggol salah satu aset Fatih, sehingga sang empu harus menahan diri.


"Sayang, jangan gerak-gerak dong, kamu mancing aku ya?" 


Tidak ada jawaban dari Al, ternyata dia sudah tidur, tapi kakinya itu suka sekali bergerak, entah apakah sedang mimpi sesuatu.


"YaAllah dia tidur tapi membangunkan adikku."


Fatih berusa memejamkan matanya dengan perasaan yang tidak karuan karna haru menahan gejolak dari tubuhnya. Entah kapan istrinya akan memberikan mahkotanya itu, tapi Fatih juga tidak akan meminta sampai memaksa Al. Dia sangat tahu bahwa istrinya ini masih sangat muda, dan menikah semuda ini bukan karna keinginannya.


.


.


.


"Ayah, ayo kita berangkat, bantuin bunda bawa ini." Ucap bunda Alya


Ayah langsung membantu bunda membawa beberapa belanjaan untuk dimasak di rumah Al dan Fatih rencananya.


"Ayo bun, ayah udah kangen banget sama anak kita itu."


"Baru juga 2 mingguan gak ketemu." Balas bunda


Ya memang 2 Minggu lalu, Al dan Fatih sempat main ke rumah bunda karna Al rindu. Sekarang Ayahnya yang sangat merindukan putri semata wayangnya itu.


Ayah memasukkan belanjaan ke dalam bagasi, dan langsung masuk ke dalam mobil untuk menyetir, yang langsung di susul bunda duduk di samping nya.


"Titip rumah ya pak." Ucap bunda pada satpam yang menjaga gerbang rumahnya


"Baik buk." Jawab satpam sambil membungkukkan tubuhnya sedikit


Sementara di kediaman umi dan abah. Mereka juga sudah bersiap akan berangkat.


"Shabila ayo bantu umi membawa kue-kue ini ke mobil." Ucap umi pada ponakannya


"Owh baik umi, banyak sekali kue kering ini umi."


"Iya, Al itu suka sekali sama kue buatan umi waktu dia masih tinggal disini kemarin."


"Wah sepertinya umi sangat menyayangi mantu umi."


"Iya Shabila, umi menganggapnya seperti anak kandung umi, dan sudah lama sekali sejak mereka pindah, umi belum bertemu dengan Almaira." Ucap umi dengan tulus


"Aku jadi ingin bertemu Al juga, waktu itu hanya bertemu saat mereka menikah."


"Oh iya kamu mau ikut gak kesana, sekalian bawa Rafiq juga." Umi menoleh ke arah anak kecil berusia 3 tahunan yang sedang bermain mobil-mobilan di teras rumah


"Ah aku juga ingin umi, tapi maaf sekali, karna nanti siang, bang Rasya ada ngajak aku ke rumah orang tuanya juga."


"Owh begitu, yasudah umi sama abah mau pamit dulu ya, titip salam umi buat mertua kamu ya."


Kemudian umi langsung masuk mobil, yang di dalamnya sudah ada abah yang duduk di kursi tengah. Mereka membawa supir untuk menyetir mobil, karna perjalanan lumayan memakan waktu, dan abah yangs udah tua, sehingga mereka memiliki supir pribadi.


Fyi, Shabila itu sepupunya Fatih, karna abinya Shabila dan abah Ali kakak beradik kandung. Dan Shabila sudah menikah dengan Rasya, seorang ustadz yang sebenarnya juga memiliki pesantren. Tetapi Shabila dan Rasya lebih memilih tinggal di sebuah komplek perumahan. Mereka sedang berkunjung ke rumah orang tua Shabila yang tidak jauh dari rumah umi dan Abah. Kemudian mereka akan berkunjung juga ke rumah orang tua Rasya, sehingga tidak bisa ikut umi dan abah untuk datang  ke rumah Fatih.