
"aawww, hmp!" Al merintih karna kepalanya tidak sengaja terbentur bagian depan mobil saat menunduk tadi
Tapi karna sadar orang itu sudah mendekat, alhasil Al langsung menutup mulutnya dan menahan suaranya. Fatih yang melihat itu langsung ikut meringis, karna tau rasa sakit yang di alami istrinya.
Tok tok! Wanita itu mengetuk kaca mobil Fatih
"Eh iya ada apa buk Farida?" Tanya Fatih setelah membuka kaca mobil
Ternyata yang datang menghampiri mereka adalah salah satu dosen fakultas kedokteran yang memang kenal dengan Fatih. Dosen yang masih cukup muda, mungkin berumur 30 tahunan.
"Ah tidak Prof Fatih, kebetulan saya melihat anda di mobil ini, jadi saya hanya ingin meminta bantuan jika berkenan." Ucap buk Farida sambil melirik ke arah dalam mobil Fatih
Fatih pun sedikit menggeser tubuhnya untuk menutupi istrinya yang berada di dalam mobil.
"Meminta bantuan apa ya buk?" Fatih berbicara tanpa menatap mata buk Farida yang sedikit menunduk agar mudah berbicara dengan Fatih
"Jadi kebetulan saya mendapatkan telepon dari orang tua saya, katanya ada hal penting yang ingin di bicaraka jadi saya harus segera pulang. Dan mengingat kalau ayah saya memang sedang sakit, jadi saya takut dan ingin cepat segera pulang. Apakah Prof Fatih mau jika saya meminta tolong mengantar kan saya pulang?" Buk Farida berbicara dengan pelan karna sedikit takut dan segan terhadap Fatih yang memang memiliki sifat dingin
"Hm bagaimana ya buk, soalnya saya harus mengajar saat ini juga, dan sekarang sepertinya saya sudah terlambat masuk. Mohon maaf jika saya tidak bisa mengantarkan ibu pulang. Apakah mau saya pesankan taksi online saja?" Ucap Fatih dengan penuh hati-hati
"A-ah begitu ya Prof, yasudah kalau memang tidak bisa, nanti biar saya sendiri yang oesen taksi online nya. Kalau begitu terimakasih Prof, maaf menggangu dan silahkan masuk untuk mengajar." Buk Farida perlahan berjalan dengan langkah gontai menuju gerbang untuk segera memesan taksi
"Aaww!" Al keluar dari tempat persembunyiannya sambil memegang kepalanya yang tadi terjeduk.
"Hmm sakit ya, makanya pelan-pelan dong!" Fatih mengelus-elus dan meniup pelan kepala Al pada bagian yang sakit
"Ya gimana mau pelan, orang panik tiba-tiba ada tuh dosen!" Ucap Al judes
"Ya sudah aku mau masuk dulu lah, udah telat nih." Lanjut Al
"Tunggu, sini dulu deketan!" Ucap Fatih menahan tangan Al
Al pun mendekatkan tubuhnya pada Fatih dan Cup! Cup!
Fatih mencium kepala Al yang sakit tadi, kemudian beralih mencium pipi Al yang tembam.
"Aku juga telat mengajar di kelas kamu, ayo masuk!" Ucap Fatih
"Hm" Hanya itu jawaban Al kemudian langsung keluar dan berlari menuju kelasnya
.
.
"Hah, huh." Nafas Al memburu setelah berlari dari parkiran menuju kelasnya.
"Kemana aja lo Al, baru masuk kelas?" Tanya Syila mewakili Dijah dan Nashwa yang juga penasaran
"Hah gak papa, tadi ada problem aja dikit, hehe."
"Lo ngapain megangin pipi lo terus dari tadi?" Lanjut tanya Dijah, melihat Al yang terus memegang pipinya
"Iya tuh, pipi kamu merah, apa kamu sakit?" Tanya Nashwa juga
"Hah i-ini, engga ah, palingan karna panas, iya panas." Al bingung sendiri harus menjawab apa, karna yang mengakibatkan pipinya merah adalah suaminya yang tadi mencium pipinya itu
"Masa karna panas sih, emang kamu-...."
"Assalamualaikum. Maaf saya terlambat, karna ada sedikit kendala" Tiba-tiba Fatih juga masuk ke dalam kelas sehingga ucapan Nashwa terpotong
"Lah Prof Fatih terlambat juga masuknya, gak lama dari kamu." Heran Nashwa
"Eh iya juga ya, kok lo hampir barengan sih telatnya sama Prof Fatih. Alasannya sama juga karna ada kendala dan problem." Syila memberikan tatapan curiga pada Al
"Ihh udah diem kalian, kebetulan aja kali itu. Mana ada hubungan nya telat Al sama Prof Fatih. Diem lo Syil, dengerin Prof Fatih ngomong tuh."
Dijah membantu temannya itu menjawab, karna dia tau pasti alasannya adalah karna Al dan Fatih berangkat bareng. Setelah Dijah bicara seperti itu, Syila dan Nashwa yang duduk di depan Al dan Dijah langsung kembali menghadap ke depan dan fokus ke arah Fatih.
"Pasti Prof Fatih kan yang buat pipi lo merah gitu." Bisik Dijah pada Al
"Ssstt diem lo!"
Fatih mulai mengajarkan beberapa materi di kelas B. Semua siswa mendengarkan dengan sangat fokus, sambil sesekali menulis hal yang penting. Selama mengajar, Fatih terus saja melirik-lirik ke arah istrinya itu. Dia lebih sering menatap wajah istrinya yang duduk di bangku paling belakang bersama Dijah.
Al menyadari itu, dan menjadi salah tingkah. Tetapi juga kesal karna takut ada orang yang menyadari Fatih yang terus menatapnya.
"Aciee yang ditatap terus sama suami." Dijah mencolek pipi Al untuk menggodanya
"Ihh apaan sih mas Fatih, ntar ketahuan orang lagi. Ngapain juga dia ngeliatin gue kek gitu."
"Dih jadi salting lo."
Sett!! Al langsung menutupi wajahnya dengan buku, agar Fatih tidak bisa melihat wajahnya, dan itu bisa membuat dia salting dengan cara barbar.
Entah sadar atau tidak, Fatih langsung tersenyum melihat istrinya seperti itu, dia sangat gemas dan rasanya ingin mencubit pipi tembam Al. Tapi untuk sekarang harus ditahan. Karna senyuman itu membuat siswa lain yang melihat nya terheran-heran dan banyak dari mereka yang berbisik, karna selama ini belum pernah melihat Fatih tersenyum semanis itu, dan sekarang bisa tersenyum tanpa tau apa penyebabnya.
Saat ini Al sedang berjalan menuju lantai atas, tempat ruangan Fatih berada. Karna tadi Fatih sempat mengirim pesan untuk makan siang bersama di ruangannya. Meski Syila dan Nashwa banyak bertanya karna tumben Al tidak makan siang bersama mereka, tapi setelah di beri beberapa alasan dan juga di bantu oleh Dijah, mereka bisa menerima alasan itu.
cklek! Al langsung membuka ruangan Fatih tanpa mengetuk nya, karna memang sudah di beri tahu Fatih agar langsung masuk saja kedalam. Tanpa ia sadari bahwa ada yang melihatnya dari kejauhan.
"Heh itu ngapain si Al masuk ke ruangan Prof Fatih Sen." Keysa menunjuk Al yang tadi langsung masuk ke dalam ruangan Fatih
"Masih aja berani ya si Al, harus di kasih pelajaran lagi ini." Sena geram melihatnya, apalagi tadi Al langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dulu, membuatnya semakin curiga
"Waalaikumsallam." Ucap Fatih tiba-tiba saat Al sudah duduk di depannya
"Eh iya lupa, Assalamualaikum mas." Al cengengesan memperlihatkan gigi gingsulnya
"Yasudah sini duduk samping aku." suruh Fatih
"ihh disini aja deh mas."
Fatih lantas bangun dan langsung mendorong kursi yang diduduki oleh Al, karna kursi itu memang beroda.
"eeh, mas ih. Pengen banget ya deket sama aku." Goda Al
"Kalo iya emang kenapa, aku selalu ingin di dekat kamu." Ucap Fatih sambil mengelus pipi Al singkat
'Astagfirullah jantungku.' Al memegang dadanya karna jantungnya langsung berdebar hebat setelah mendengar ucapan Fatih. Rencananya dia yang ingin menggoda Fatih, eh malah Al yang jadi salting. Seharian ini Fatih sangat sering membuatnya salting dan mendebarkan jantungnya.
"Kenapa sayang, dada kamu sakit?" Fatih melihat Al memegang dadanya
"Ah tidak-tidak." Al menggelengkan kepalanya
"Yasudah ayo makan!"
Al langsung melihat makanan apa yang sudah di beli oleh Fatih, kemudian membuka dan menyiapkan nya untuk di makan.
"Loh mas, kok ini makanannya cuma satu, dan sendoknya cuma satu."
"Hm iya kita makan berdua ya." Jawab Fatih santai
"Berdua gimana, aku kan makannya banyak, ini cuma satu porsi, terus sendok??"
"Kamu lucu banget sih, iya aku tau kok kalo kamu makannya banyak." Al langsung malu mendengar ucapan Fatih, dia tadi keceplosan mengatakan makan nya banyak, hihi.
"Aku sengaja pengen makan di suapin sama kamu, atau kita suap-suapan gitu. Aku udah pesen untuk dua porsi tapi di jadiin satu wadah gini, mau yaa?!"
"Tapi kan mas." Al terdiam kemudian mengaduk makanan yang di pesan Fatih
"Ayo dong, aku udah laper nih, aaaaaa." Fatih merengek, dan membuka mulutnya. Dan itu sangat terlihat menggemaskan di mata Al
Dengan terpaksa tapi sebenarnya mau, Al mulai menyuapkan makanan ke mulut Fatih, dengan semangat Fatih menerima suapan istrinya. Sekali-kali Fatih juga akan menyuapkan makanan itu ke mulut Al, mereka saling suap-suapan dan menikmati makan siang dengan hati yang senang.
"Nah ini suapan terakhir, ayo mas buka mulutnya." Ucap Al ingin menyuapkan ke mulut Al
tok tok tok!
Tetapi sendok itu terhenti di tengah karna mereka mendengar ada yang mengetuk pintu ruangan Fatih.