
"Aduh gimana mas itu ada yang mau masuk." Al panik
"Kamu tunggu sini ya, biar aku yang buka."
Happ!! Fatih memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya. Karna memang sendok itu masih menggantung di tangan Al.
Al sontak kaget dengan perlakuan suaminya. "Ihh mas-...."
Cklek! Fatih membuka pintu ruangannya dan langsung keluar, tidak di beri selah orang itu akan melihat ke dalam dimana tempat istrinya berada.
"Ada apa?" Tanya Fatih dingin
"Ah tidak Prof, ini saya mau menanyakan beberapa materi, karna ada yang masih belum saya dan teman-teman saya mengerti. Jadi saya mewakili mereka untuk bertanya langsung."
Ya itu adalah Sena, dia datang sendiri ke ruangan Fatih. Tujuan utama nya sudah pasti bukan karna ingin menanyakan materi, tetapi ingin memastikan apa yang sedang di lakukan Al di dalam.
"Kamu ingin menanyakan materi di jam istirahat dan makan siang begini?" Tanya Fatih dengan tatapan tajamnya
"Ah em i-ya Prof, kalo di izinkan saya ingin menanyakan beberapa hal di dalam bersama Prof." Ucap Sena sangat berani, pastinya dia penasaran dengan keadaan di dalam
"Kamu sangat tidak sopan, saya sedang istirahat, pergilah dan nanti tanyakan setelah jam istirahat selesai." Ucap Fatih penuh penekanan
"Baiklah jika begitu Prof." Sena tertunduk lemas, karna tidak bisa masuk ke dalam
Ia berjalan gontai untuk kembali ke kelasnya, sambil pikirannnya mengingat kondisi mulut Fatih yang sedikit ada noda bekas makanan. Sena berpikir apakah di dalam sana, Fatih dan Al sedang makan bersama? Itu tidak mungkin pikirnya. Tapi ia tahu bahwa Al belum keluar sejak tadi, karna Sena selalu memantaunya. Begitu juga dengan Fatih, yang biasanya langsung menyuruh siapapun langsung masuk setelah mendengar ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Siall!!!" Emosi Sena naik
.
.
Brak! Fatih menutup pintu ruangannya setelah Sena pergi tadi, ia langsung duduk kembali disamping istrinya yang masih terlihat cemas.
"Siapa mas?" Tanya Al
"Itu Sena tadi, mau menanyakan materi." Ucap Fatih dengan tatapan kelembutan, berbeda ketika sedang berbicara dengan orang lain
"Hah kak Sena?"
"Astagfirullah, mas ini ada noda bekas makanan di bibir kamu." Lanjut Al setelah sadar melihat ke arah bibir suaminya. Al langsung mengelapnya dengan tisu.
"Gimana kalo kak Sena tadi lihat itu, apa dia tau kalo aku ada di dalam juga. Gimana kalo dia tahu kita makan siang bareng, duh bisa jadi masalah ini." Cerocos Al panik
Cup! Fatih mengecup singkat bibir istrinya yang sangat cerewet itu.
"Ihh main cium aja lagi." Al mencebikkan bibirnya
"Gakpapa sayang, tenang aja, dia gak tau kok." Fatih mengelus puncak kepala Al
"Aku mau minum dong, kan belum minum tadi abis makan." Ucap Fatih manja
"Ya ambil sendiri, itu ada di depan kamu minumnya."
Fatih diam saja, tetap menatap istrinya dengan wajah yang terlihat menggemaskan. Dia ingin istrinya memberikan minum itu.
"Apa mau di suapin juga minumnya?"
Dengan menghela nafas, Al menyodorkan botol mineral yang sudah ia buka tutupnya ke arah mulut Fatih.
"Terimakasih sayang." Fatih memberikan senyumannya.
.
.
.
Tak terasa sekarang pernikahan Fatih dan Al sudah menginjak hampir 2 bulan. Hubungan mereka menjadi lebih baik, sama-sama sudah bisa menerima pernikahan ini, termasuk Al yang sudah mengaku pada dirinya sendiri bahwa dia mencintai Fatih juga. Dengan sikap lembut dan perhatian Fatih, bisa meluluhkan Al yang selama ini belum pernah jatuh cinta. Meski Al belum mengakui perasaanya pada Fatih, karna gengsi yang besar. Tetapi sebenarnya Al, belum memberikan mahkota istimewanya kepada Fatih sampai detik ini. Sungguh malang nasib fatih wkwk.
Begitu juga masalah di kampus, semua berjalan normal ,dan Sena yang masih suka menggangu Al. Angkasa juga yang masih sering mengobrol dengan Al, meski itu rame-rame dengan yang lain. Karna sampai saat ini, belum ada yang mengetahui pernikahan mereka kecuali keluarganya dan Dijah sahabat Al.
"Hai Al." Sapa Angkasa pada Al saat lewat di depan kelas Al
"Eh iya kak hai." Al membalas dengan tatapan biasa
"Besok kan weekend, lo free gak?"
"Free sih kayaknya, emang kenapa kak?"
"Gue mau minta bantuan lo, kita kan mau ada lomba di BEM, jadi mau beli beberapa peralatan dan baha gitu, sekalian beli bener untuk lombanya. Lo besok bisa temenin gue gak beli semuanya, bantuin gitu."
Al tampak berpikir, dia tidak mungkin menerima ajakan Angkasa, karna harus menjaga hati suaminya.
"Lah bukannya udah ada pengurusnya untuk beli itu semua, gue denger dari kak Melysa."
"Oh hm itu, iya sih, cuman mereka banyak yang sibuk kali besok, jadi gue berinisiatif untuk bantu beliin tapi gak bisa kalo cuman gue sendirian."
"Eh Al lo gak jadi pulang? Bukannya weekend ini kata bunda ada acara ya??" Ucap Dijah yang baru keluar dari kelas dan tiba-tiba datang
"Hah?" Al bingung dengan maksud Dijah
Tapi setelah melihat mata Dijah yang sedang merangkulnya, dia langsung sadar akan kode itu.
"Oh iya ya Jah, yaampun maaf banget kak Angkasa gue lupa banget kalo ada acara weekend nanti."
"Ah gitu ya, ya udah kalo gitu gue minta bantuan yang lain aja."
"Iya kak sorry ya."
Angkasa langsung berlalu dari sana dengan kepala tertunduk. Ia masih semangat untuk mengejar cinta Al, tapi sepertinya sulit sekali. Entah apa yang membuatnya jatuh pada wanita yang sama sekali tidak lembut dan barbar itu.
"Eh lo nguping ya dari tadi, ko bisa tau obrolan gue sama kak Angkasa?" Heran Al pada Dijah yang sudah melepas rangkulan pada bahunya
"Yaelah lo berdua ngomong aja kuat banget, siapa yang kagak denger njir!"
"Eh mulut lo, gue aduan bokap lo ya."
"Aelah kepleset doang tadi."
"Btw tumben otak lo encer, bisa ngide gitu tadi." Ucap Al sambil menoyor pelan kepala Dijah
"Lo kalo ngomong suka kaga pake bismillah, gue kan emang smart."
"Najong!" Al langsung melengos dari sana, dan pergi duluan meninggalkan Dijah
Al pulang kerumah di antar oleh Dijah, karna Fatih masih ada kelas sampai sore, dan akan langsung ke pondok untuk mengajar santri.
"Al btw lu udah ituan kan sama Prof Fatih?"
Al yang sibuk memainkan hpnya tidak terlalu fokus dengan Dijah, tapi dia bisa mendengar pertanyaan itu.
"Ituan apa sih?" Jawabnya tanpa melihat Dijah
"Hubungan suami istri nyet." Ucap Dijah kesal karna Al tidak fokus padanya
"Belum." Jawab Al santai
Ckiiittttt!! Dijah memberhentikan mobilnya dengan mengerem mendadak, sehingga Al terkejut dan hampir melepaskan hp yang sedang ia genggam.
"Woi ongek, lo ngapain ngerem mendadak, gue masih muda belum mau mati." Al memukul lengan Dijah
"Ya lagian lo gitu, gue nanya seriusan dari tadi."
"Apaan sih, lo nanya apa?"
"Sekarang serius ya Al, coba madep gue sini." Kemudian Al menuruti Dijah, mereka duduk saling berhadapan di dalam mobil, dengan menaikkan kaki mereka.
"Gue tadi nanya, lo udah berhubungan suami istri kan sama Prof Fatih?
Al langsung tersadar kalau tadi Dijah menanyakan hal ini pada nya.
"Ah ehm itu, be-belum." Al menjawab pelan sambil menunduk
"Astagfirullah Al, lo gimana sih, kalian menikah udah hampir 2 bulan, tapi lo belum ngasih itu buat suami lo?" Dijah sedikit emosi dengan sahabatnya ini
"Ya mau gimana Jah, gue belum siap, g-gue takut."
"Al Prof Fatih itu juga laki-laki normal, tinggal satu atap dan bahkan tidur bareng berdua sama cewe yang halal untuknya, pasti dia udah nahan banget. Kasian Prof Fatih tiap hari harus menahan itu."
"Emang iya gitu ya Jah, terus gue harus gimana?"
"Sekarang gue mau lo ngaku, lo udah cinta kan sama suami lo? Ayok jujur sama gue!"
"I-iya gue udah c-cinta." Al malu untuk mengakuinya
"Nah kalo gitu, coba lo kasih gak Prof Fatih itu, lo takut kenapa? Itukan suami lo sendiri." Dijah menasihati Al agar sahabatnya itu membuka hatinya dan sadar akan kewajiban sebagai istri
"Tapi mas Fatih biasa aja kok Jah, dia bisa nerima kalo gue belum siap." Jawab Al
"Itu kapan? Pas awal nikah kan dia bilang bisa menerima kalau lo belum siap, lah ini udah mau 2 bulan ongek, Prof Fatih pasti ingin tapi gak mau maksa lo, makanya di tahan."
"Perkara gak di kasih ehem-ehem nanti Prof Fatih cari cewe lain. Lo juga yang gelabakan." Lanjut Dijah lagi
"Sembarangan kalo ngomong!" Al mendelik ke arah Dijah
"Udah ah, pokoknya lo pikirin omongan gue tadi. Itu adalah kewajiban lo sebagai istri."
Dijah langsung menghidupkan mobilnya dan melanjutkan perjalan mereka untuk pulang kerumah
Di perjalanan Al fokus memikirkan setiap ucapan Dijah tadi, dia sangat tahu bahwa itu adalah kewajiban nya sebagai istri, dan takut akan memperbanyak dosa untuknya karna belum menunaikan kewajiban itu. Tetapi hatinya masih tahu untuk memberikan kesucian nya pada Fatih, meski dia sudah merasakan cinta di hatinya.