DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
287. Tidak berubah


Akhirnya pertemuan itu berakhir, sudah diputuskan jika Jimmie akan naik ke kursi pemimpin dengan mantan Letjend Prass.


Panglima pun pergi ke Bascamp untuk memberitahu pada Zero perihal itu.


" Panglima...."


" Zero, Nisa...oh Grey sudah besar..." Panglima menggendong Grey yang sudah berumur 2 tahun itu.


" Grey, kau harus main ke kota kau harus bertemu bermain dengan saudaramu Gala dan dan Bara..."


" Panglima, apa ada yang ingin anda bicarakan dengan saya??"


" oh ya....di mana Pras??"


" Paman Prass ada biar saya panggilkan..." Nisa segera memanggil Pras untuk menghadap Panglima.


" Hormat pada Panglima!"


" Ayolah, jangan terlalu formal...."


" Baik, Panglima sebenarnya anda ada perlu apa memanggil saya datang ke mari??"


tanya Prass penasaran


" Baik, Grey dengan ibumu dulu nak..


paman akan berbicara dengan ayah dan paman prass mu!"


Nisa langsung membawa Grey untuk bermain di kamarnya.


" Jadi Jimmie akan menjadi pemimpin???"


" Ya, dia meminta kau untuk menjadi wakilnya tapi aku tidak bisa..."


" aku juga tidak mau Panglima..."


" Nah, aku sangat ingat kesetiaan dan kecerdasan Prass...aku menyarankan Prass untuk menjadi wakil Jimmie!"


" Maaf Panglima saya tidak pantas!"


" apa kau meremehkan pendapatku???"


" tidak saya tidak berani panglima..."


" kalau begitu, kau tidak ada pilihan lain selain setuju..."


" Baik Panglima!" terpaksa Pras mengikuti kemauan panglima.


" Prass, Jimmie ini mencoba untuk membalasku, kau akan setia pada siapa aku tidak akan memaksa..."


" Saya mengerti, saya akan melaporkan apapun yang saya tahu pada Panglima tentang rencana Tuan Jimmy!"


". Panglima, anda dan Jimmy tidak ada habisnya saling membalas..." Zero benar -benar capek sebenarnya melihat kedua sahabatnya itu saling membalas, memang mereka tidak akan menyakiti satu sama lain tapi orang yang melihat mereka selalu berantem itu yang sangat capek.


" Dia memang genius, tapi kadang-kadang emosinya menutupi kegeniusannya!"


" hah...aku tidak ikut campur panglima..."


Zero sudah lelah melihat perseteruan Panglima dengan Jimmy.


" Tapi bagaimana dengan Rakyat, apa akan setuju??"


" Itu adalah tugas kalian!"


" pfffffffffffttttttttt..." Zero tak tahan untuk menahan tawa.


" apa yang kau tertawakan Zero??"


" sepertinya Jimmie sudah mempersulit dirinya sendiri...paman Pras anda harus kuat mental, Rakyat sudah sangat pintar..."


" Ya Prass...kuatkan mentalmu!"


" Baik Panglima..."


" Kalau begitu Zero , Prass aku akan segera kembali, Prasss Minggu depan kau harus sudah berada di kota!"


" siap Panglima!"


" Ehmmm aku pergi..." Panglima pun segera meninggalkan Basecamp.


----------------


" Apa??, kau mau menjadi presiden??" terkejut dengan keputusan suaminya


" Maafkan aku Ria, tidak membicarakan ini denganmu lebih dulu..."


" bagaimana bisa??"


" ayolah aku tidak menemukan kandidat terbaik, kau akan menjadi ibu negara, aku bisa membawamu keliling dunia bersamaku..."


" Tidak begitu juga konsepnya Suamiku!" Ria menepuk jidatnya.


" Aku tidak suka menjadi sorotan!"


" ayolah, ayolah...semua demi perdamaian negara kita!"


" Hah, kau pikir aku tidak tahu niatmu, kau ingin membalas kakak ku bukan??, meskipun aku istrimu aku tetap ada di prahu kak Leon...!"


" Sayang kau terlalu berpikir banyak!, aku tidak berniat seperti itu!"


" Suamiku, aku tahu kau dan kakaku sejak di bangku smp, kalian sahabat tapi tidak akur, aku sampai heran!"


" inikan baru pertemanan yang seru, jika hanya baik-baik saja itu kurang greget!"


" sudahlah, kalian sudah tua tetap tidak berubah!"