
"Dan karena dia pula aku jadi harus turun tangan untuk menghabisi putra mahkota dan menggulingkan tahta adikku saat ini padahal semuanya belum siap seutuhnya, tapi tidak masalah karena sekarang kau telah membantuku membawa Putra Mahkota A-Fai keluar dari Kediaman keluarga Meo."
"Keponakanku Putra Mahkota A-Fai, kau pasti tidak mengenalku, karena saat itu kau masih sangat bayi untuk mengetahui siapa aku."
"Kau tau, kau sangat beruntung karena sejak kau masih bayi kau selalu ada dalam perlindungan keluarga Moe, terutama Cloud bocah sialan itu."
Deg...
Putra Mahkota terkaget.
"Usianya saat itu sekitar 11 atau 12 tahun tapi dia sudah sangat pandai dalam bermain pedang dan menggunakan senjata api, apalagi di usianya yang masih kecil dia sudah memiliki pengaruh besar di dalam keluarga Moe."
"Tapi hal itu di rasa wajar karena dia adalah cucu pertama dalam keluarga Meo."
"Saat itu aku hanya melakukan satu kesalahan kecil, meminta para tentara Jepang untuk membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi dalam usaha rencana menghabisi adik iparku (Ratu) yang saat itu sedang mengandungmu."
"Karena keberadaanmu adalah masalah terbesar bagiku, dan kau satu-satunya orang yang menghalangiku untuk kembali naik tahta setelah aku menggulingkan ayahmu."
"Dan tanpa sengaja para tentara Jepang itu telah menembak mati nyonya Besar Moe, tepat di hadapan anak sialan itu (Cloud)."
"Aku pikir dia tidak akan mencari tahu sumber kematian neneknya dan dalang dari penjajahan para tentara jepang, tapi ternyata aku salah dia adalah anak kecil yang sangat cerdas dan aku telah salah meremehkannya saat itu"
"Karena bukti yang dia kumpulkan atas Penghianatan yang aku lakukan pada Raja, aku pun di jatuh hukuman mati saat itu."
"Dendamku begitu sangat besar padanya, namun dia (Cloud) adalah anak yang tidak bisa di remehkan, di usia yang masih kecil dia benar-benar sudah sangat hebat dan dia juga dalam lingkungan yang sangat aman di bawah perlindungan Tuan besar Moe kakeknya."
"Kepala Pelayan Tuan Jiha dan Tuan Shiobai yang tak lain adalah pengasuh mu putra mahkota, mereka berdua adalah orang-orang kepercayaan Cloud dan Tuan besar Moe, mereka berdua mendapat tugas langsung dari Cloud dan tuan Besar Moe untuk menjagamu di dalam Istana sedari kau bayi."
"Dan Kau tau Guru besar Natagawa, di dalam istana masih banyak orang-orang yang setia padaku, dan masih mematuhi perintah dariku, dan Salah satunya adalah menantu kesayangan mu taun Can Jee haha..."
"Tapi kemarin dia menghianatiku, karena menolak membunuh putra mahkota, dengan alasan agar putrinya bisa menjadi ratu di negri ini, sungguh sangat picik hahaha..." Ujar pangeran Hisoka menjelaskan panjang lebar.
"Dan satu lagi kejahatan yang sedang di lakukan Tuan Can Jee saat ini, kau ingin tau guru?, dia sedang berusaha membunuh cucumu Hiyuka agar cucumu tidak bisa menjadi Putri Mahkota, dan hanya putrinyalah satu-satunya yang akan menjadi putri Mahkota, lucu sekali hahahaha....." Ujar Pangeran Hisoka dengan gelak tawa membahana.
Mendengar itu membuat Tuan Natagawa semakin marah, hal itu di buktikan dengan mengepalnya kedua tangan milik Tuan Natagawa.
"Tapi sama sepertiku dia juga selalu gagal karena lagi-lagi Cloud bocah sialan itu selalu melindungi cucumu nona muda Hiyuka." Sambung Pangeran Hisoka seraya mentap tajam pada Hiyuka.
"Hey.. Nona, Sepertinya hubunganmu dengan Cloud sudah sangat dekat bukan, aku bisa menggunakanmu untuk menyingkirkan Cloud sialan itu." Ucap Pangeran Hisoka dengan serengai menakutkan dari bibirnya.
"Ya... Aku menemukan kelemahanmu bocah sialan hahah...." Ucap pangeran Hisoka yang di tujukan untuk Cloud, sementara Cloud tidak ada di sana.
Putra Mahkota nampak termenung dia baru mengetahui bahwa pengorbanan Cloud begitu besar untuknya, bahkan hingga detik tadi Cloud pun masih melindunginya dengan memintanya untuk tidak keluar atau pun pergi dari rumah keluarga Moe.
"Selemah itukah diriku ini, sampai-sampai aku tidak tau tentang semua ini." Ucap putra mahkota dalam hati.
Sementara Hiyuka dia sedang mati-matian berusaha untuk terlihat berani dan tangguh, walau sebenarnya dia sangat ketakutan saat ini.
"Tunggu apalagi bawa putra mahkota dan nona Hiyuka ke markas kita." Perintah Pangeran Hisoka.
Seluruh pasukan pun bersiap melindungi putra mahkota dan nona muda Hiyuka, begitu pun para penjahat itu mereka juga sudah siap menyerang dan mematuhi perintah dari Pangeran Hisoka selaku pemimpin mereka.
Pertempuran pun tak terelakkan lagi, banyak korban berjatuhan dari kubu Tuan Natagawa, hingga dalam serangan kedua para penjahat itu pun berhasil membawa putra mahkota dan Nona Hiyuka pergi untuk di jadikan Sandra.