Cafe And Restoran

Cafe And Restoran
Chapter 76:Masa lalu Ryan dan Ryaiden 1


Wajah Karina langsung berubah merah saat setelah mendengar ucapan Ryan barusan. Karena tidak mendapat jawaban sama sekali Ryan langsung menggendong Karina dan memasukkannya di dalam mobil.


"Ryan! Kita mau kemana? Kenapa tiba - tiba saja" tanya Karina yang duduk di kursi belakang.


"Kita mau ke villa dan kita akan cuddle seharian di villa tersebut" jawab Ryan yang langsung tancap gas menuju villa tersebut.


Mobil Ryan melaju menuju villa yang ada di sebelah sana. Saat sampai di villa, Ryan memarkirkan mobilnya asal di parkiran lalu menarik tangan Karina masuk ke villa.


Selesai mengurus kamar, Ryan langsung mengajak Karina masuk ke ka mar. Di dalam kamar Karina duduk di ranjang dan Ryan meletakkan ponselnya sambil menikmati sejenak pemandangan pantai melalui kaca jendela.


"Honey~..." panggil Karina dengan nada bicara manja.


"Kenapa my honey? Tumben nada bicaranya manja gitu" jawab Ryan yang menghampiri Karina.


"Tadi katanya mau cuddle seharian, ayo sini!" Karina merentangkan tangannya seolah - olah memberikan akses untuk Ryan.


Tanpa pikir panjang Ryan langsung memeluk Karina. Ryan duduk sambil memeluk Karina dan dagunya diletakkan di bahu Karina. Rasa nyaman dan kelembutan cinta tersampaikan ke perasaan Karina. Ibu satu anak itu bisa merasakan rasa nyaman melalui pelukan Ryan.


"Honey~...".(yang ini Karina)


"Kenapa my honey?".(yang ini Ryan)


"Kamu jangan manggil aku honey lagi".


"Kenapa?".


"Aku ingin nama panggilan lain selain honey".


"Kau mau dipanggil baby? Sweetie? Sugar? Atau yang lainnya?".


"Aku mau dipanggil sweetie saja karena kamu madunya dan aku manisnya".


"Oh... Jadi begitu... Okey! Tidak apa - apa asalkan my sweetie menjadi senang".


"Hahaha... Makin sayang deh sama honey".


"Teruslah mencintaiku my sweetie".


"Honey juga begitu teruslah mencintaiku sampai honey benar - benar kecanduan".


"Aku sudah kecanduan dan sekarang tinggal sweetie saja kecanduan diriku".


"Hehehe... Iya honeyku! Cup💋" Karina mengecup pipi Ryan.


Yang dikecup hanya tersenyum lebar saja. Mereka berdua melanjutkan cuddle sehariannya. Untuk para pembaca yang bertanya - tanya kenapa Bimo tidak kelihatan? Kemana perginya Bimo?. Jadi Bimo dititipkan di rumah kakek Dito karena Ryan dan Karina mau pergi lihat TK tadi terus ada cucunya kakek Dito yang lain datang makanya Bimo dititipkan di rumah lama.


Selama dua jam pasangan itu masih berpelukan dan salah satu diantara mereka tertidur. Karina mengubah posisi Ryan jadi kepala Ryan ditidurkan di paha Karina. Tangan Karina mengelus rambut hitam Ryan dan menatap wajah tampannya.


"Kenapa Ryan tampan sekali? Apa memang sudah keturunan? Padahal ayah dan ibunya bermasalah, apa mungkin dia punya orang tua lain atau orang terdekatnya?" batin Karina yang membayangkan Ryan.


OKE GUYS DI CHAPTER INI AUTHOR AKAN MEMBAHAS TENTANG MASA LALU RYAN DAN RYAIDEN. OKE GUYS MARI KITA MULAI


Semua ini bermula saat Ryan berusia tujuh tahun dan Ryaiden berusia lima tahun. Keduanya adalah kakak adik yang peduli satu sama lain dan mereka tidak bisa terpisahkan. Orang tua Ryan merupakan orang tua yang sibuk dan kurang perhatian kepada anak.


Walaupun Ryan dan Ryaiden kurang perhatian dari orang tuanya tapi mereka mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sang paman dan bibinya. Paman Ryan adalah adik dari ayah Ryan.


Paman Ryan dan istrinya tidak bisa memiliki anak karena kondisi istrinya yang mengalami kemandulan. Meskipun begitu paman Ryan masih ingin bersama istrinya dalam kondisi apapun. Memahami kondisi paman dan bibinya yang demikian Ryan dan Ryaiden mengajukan diri kepada pamannya agar mereka dianggap sebagai anak kandung. Awalnya paman Ryan dan istrinya sulit menerima dua bocah itu tapi setelah mendengar masalah mereka di rumah akhirnya paman Ryan dan istrinya mau menerima mereka.


Sebenarnya nama Ryan bukanlah Ryan sungguhan tapi nama aslinya adalah Ian. Sesungguhnya dia sangat membenci nama itu karena menurut dia nama itu terlalu pendek sedangkan sang adik memiliki nama yang panjang dan tidak sama huruf awalannya dengan adiknya. Kemudian bibi Rosie mendapat ide untuk mengubah nama Ian menjadi Ryan. Setelah mendapatkan nama barunya si Ryan kecil sangat kecil yang dimana akhirnya dirinya bisa dikira saudara oleh orang - orang.


Pada suatu hari Ryan dan Ryaiden pulang ke rumah bibi Rosie. Disana mereka melihat ayah dan ibunya sedang berbicara dengan paman Niki dan bibi Rosie. Menurut mereka itu merupakan pembicaraan serius. Mereka berdua memutuskan untuk tidak jadi masuk dan menunggu di luar.


Selama di luar Ryan mengayun - ayunkan kakinya dan Ryaiden sibuk bermain dengan rumput. Ryaiden sedikit khawatir dengan bibi Rosie yang dimana takutnya sang ibu akan memarahi bibi Rosie karena telah merubah nama kakaknya.


"Kak" panggil Ryaiden.


"Kenapa Ryaiden?" tanya Ryan yang menoleh ke arah adiknya.


"Apakah bibi Rosie akan baik - baik saja? Aku takut kalau ibu akan memarahi bibi Rosie nanti" jawab Ryaiden yang duduk di sebelah kakaknya.


"Jangan khawatir Ryaiden! Bibi Rosie akan baik - baik saja kakak yakin itu" Ryan mengelus punggung adiknya agar sang adik merasa lebih tenang.


"Apa setelah ini ibu akan memarahi kita karena terlalu sering bermain di rumah bibi Rosie? Atau ibu akan melakukan hal yang melukai bibi Rosie?" Ryaiden semakin gelisah tentang kondisi bibi Rosie.


"Sudah kakak katakan untuk tidak perlu khawatir semua akan baik - baik saja" sebenarnya Ryan juga merasa khawatir dengan kondisi bibinya tapi dia tidak ingin menunjukkannya.


"Ian! Ryiaden! Ayo masuk nak!" panggil sang ibu.


Ryan menggenggam kuat tangan adiknya lalu berjalan bersamaan. Di dalam mereka berdua bisa melihat raut wajah sang ibu yang terlihat sangat marah. Ryan mengajak adiknya untuk duduk di sebelah bibi Rosie.


"Kenapa kalian sering main ke rumah bibi kalian? Apa kalian merasa tidak nyaman di rumah lagi?" tanya ibu Ryan dengan ketusnya.


"Iya kami merasa tidak nyaman di rumah gara - gara kedua orang tua kami terlalu sibuk!" jawab Ryan yang berani melawan ibunya sendiri.


"Berani kau melawan ibumu sendiri?!".


"Iya aku berani! Kenapa memangnya?!".


"Seharusnya kamu bersyukur ibu bisa melahirkan kamu,membesarkan kamu,merawat kamu,menyekolahkan kamu, tapi kamu malah memilih dia?!".


"Memang benar ibu yang melahirkan,membesarkan,merawat, menyekolahkan kami namun ibu tidak pernah memberi kasih sayang ibu kepada kami berdua!".


"Apa yang ibu lakukan selama ini tidak cukup untukmu?!".


"Iya tidak cukup! Ibu kerjaannya cuman jalan - jalan saja sampai melupakan anaknya sendiri! Apa ibu lupa kalau ibu sudah punya dua anak?!".


"Ibu bukan jalan - jalan melainkan ibu sedang ada rapat penting dengan teman - teman ibu!".


"Rapat penting dari pagi sampai malam?! Apa sepenting itu?! Yang Ryan tahu hanya ibu pergi bermain,belanja,dan bersenang - senang dengan teman - teman ibu! Ryan melihatnya dengan mata kepala Ryan sendiri bu! Jangan berbohong lagi!".


"Lebih kau jangan banyak omong! Apa untungnya kau tinggal bersama wanita yang tidak bisa hamil ini?!".


"Ada banyak untungnya! Bibi Rosie membantu kami mengerjakan pr, mengajarkan kami cara mandiri, dan menjadi kepribadian lebih baik ketimbang ibu yang punya dua anak tapi tidak pernah diurus samanl sekali! Ibu macam apa kau?!".


"Jaga bicaramu Ian! Aku ini ibumu!".


"Namaku bukan Ian lagi tapi Ryan! Apa ibu tidak paham?!".


"Ryan! Jaga bicaramu kepada ibumu!" tegur bibi Rosie kepada Ryan.


MAKASI YANG SUDAH MAMPIR DAN BACA


To be continued\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>>>>>