
Niat hati ingin menghabiskan waktu berdua dengan tenang, ide Cakra berakhir malapetaka. Selang beberapa saat setelah Azkara marah, dia benar-benar dipanggil ke hadapan papanya. Tidak sendiri, melainkan bersama Ameera yang juga telah membuat Azkara marah akibat kebohongannya.
Tindakannya jelas dianggap salah, Papa Mikhail menyayangkan tingkah konyol Cakra. Bukan tanpa alasan, pria itu hanya khawatir saja yang menemukannya bukanlah orang dewasa, melainkan yang lain. Terlebih lagi, hari ini rumahnya tidak sepi, semua cucunya turut berkumpul di akhir pekan.
Azkara cukup merasa tenang lantaran namanya tidak tercemar begitu lama. Sementara Cakra cukup banyak makan omelan, bahkan mungkin saja kenyang mengingat Papa Mikhail menegaskannya sampai berulang-ulang.
Namun, separah-parahnya omelan Papa Mikhail pada Cakra, lebih parah lagi pada Ameera. Wanita itu sampai menunduk dalam dan berharap papanya segera berhenti bicara. Kebohongannya demi menyelamatkan Cakra dari serangan Azkara membuat sang papa murka.
Entah akan berapa lama lagi Papa Mikhail mengomel, yang jelas pinggang Ameera sudah pegal dibuatnya. Bahkan, jika boleh dia ingin sambil tiduran saja karena pinggangnya seolah hendak akan patah.
"Kamu pikir lucu, Ameera!"
Bentakan Papa Mikhail kesekian kali berhasil membuat Ameera terperanjat. Cakra tak bisa berbuat apa-apa, walau biasanya mereka saling melindungi, kali ini jelas tidak demikian.
Bukan berarti Cakra tak sayang, karena jika sampai dia bersuara, besar kemungkinan dia juga kena getahnya dan masalah akan semakin meluas saja. Persetan sekalipun Ameera akan marah nantinya, tapi untuk kali ini Cakra memilih ambil aman saja sebagaimana yang kerap Evan katakan setiap kali menasihatinya.
"Mentang-mentang artis, akting sesukamu ... Kalau sampai terjadi apa-apa dan orang tidak percaya kamu lagi bagaimana? Jangan dibiasakan, papa tidak pernah mengajarimu berbohong, Ameera."
Kurang lebih sama seperti yang Azkara katakan, intinya dia salah dan hal itu sudah berkali-kali ditekankan. Ameera masih menunduk seraya meremmas jemarinya, sementara Azkara bersedekap dada memandangi dua insan yang telah membodohinya beberapa saat lalu.
"Iya, Pa, tapi aku melak_"
"Diam!! Papa tidak memintamu bicara!!" Agaknya kemarahan papanya kali ini tidak bercanda, sama seperti Azkara yang juga sejak tadi melayangkan tatapan tajam tanpa sedikitpun tanda jika mereka bersahabat di sana.
Sekian lama dimanja dan begitu diutamakan, kali ini Ameera tidak lagi mendapat perlakuan spesial. Tidak ada kata-kata dimaklumi karena sedang hamil atau semacamnya, tindakannya tetap dianggap salah.
Berbeda dengan sang mama, cara marah papanya terlalu realistis untuk disebut marah. Sama sekali tidak ada lembut-lembutnya, demi apapun rasanya Ameera tengah menghadapi sidang akhir.
Hari masih siang, matahari di luar sana terik luar biasa. Anehnya, tubuh Ameera dingin hingga menusuk persendian. Baru kali ini dia sampai takut menatap mata papanya.
"Semua itu ada batasnya, Ra, ada beberapa hal yang tidak pantas kamu jadikan candaan ... salah-satunya rasa sakit dan bencana."
"Papa tidak marah selagi kamu senang, tapi candaanmu kali ini keterlaluan."
"Boleh melindungi Cakra, sangat boleh malah, tapi tidak ada saat dan juga caranya. Jika Azka saja sampai sepanik itu, andai papa yang tahu bagaimana? Bisa-bisa papa masuk rumah sakit lebih dulu dibandingkan kamu, tahu?"
Panjang lebar Papa Mikhail bicara, dengan nada yang begitu menenangkan, tapi tetap saja Ameera takut untuk menatap wajahnya. Bahkan, untuk menjawab pertanyaan tersebut Ameera tak lagi kuasa.
"Setelah ini, papa tidak mau kamu berbohong dan menjadikan cucu papa itu sebagai senjata untuk melindungi diri, paham?"
Bibirnya tetap saja diam hingga Papa Mikhail memejamkan mata, ubun-ubunnya seakan mendidih hingga meninggikan suaranya.
"Ameera!! Kamu bisu?"
"Tidak, Pa."
"Lalu kenapa diam dari tadi?"
"Kata papa diam, aku diam salah juga," jawabnya masih menunduk dalam, sungguh benar-benar menguji kesabaran.
Trauma lantaran dibentak dan diminta untuk diam beberapa saat lalu membuat Ameera takut untuk bersuara. Padahal, kali ini dia sudah diminta untuk bicara, tidak seperti tadi. "Astaga anak ini, papa sudah bertanya artinya kamu jawab!!"
Semua serba salah, Ameera benar-benar merasa di posisi tidak ada benarnya sama sekali. Menjawab salah, menjelaskan salah, terlalu fokus mendengarkan salah, sampai mungkin di titik akhir dia berpikir bahwa bernapas saja sudah salah.
"Iya, Pa, iya."
"Iyaiya, apanya yang iya?"
Salah lagi, Ameera mencebik seraya mengusap perutnya lantaran khawatir sang buah hati yang justru tertekan batin. Setelah tadi ditanya dan sengaja tidak menjawab dianggap salah, kali ini ketika dia menjawab juga tetap salah.
"Jangan bercanda begitu lagi." Ameera mengulangi semua perkataan Mikhail tanpa satu pun terlewati.
Walau mungkin terlihat tidak mendengar dengan baik, tapi tidak ada satupun pesan papanya yang Ameera lewatkan. Semua dia dengar dengan sangat-sangat seksama, bahkan sampai hapal susunan kalimatnya.
"Bagus ... ini kali terakhir, kalau sampai diulangi, kamu makan spaghetti lewat hidung!! Mau?"
Perjanjian keramat yang kerap kali Lengkara jadikan sebagai ancaman kini keluar dan membuat Ameera seketika bergidik ngeri. "Papa apasih? Ikut-ikut Kara, mana bisa lewat hidung!!"
"Kalau begitu ganti," timpal Papa Mikhail sejenak membuat Ameera sedikit lega. "Lewat telinga," lanjutnya kemudian yang membuat Cakra tak kuasa menahan tawa. "Oh, Tuhan ... kenapa mereka berdua lucu sekali!!"
.
.
- To Be Continued -