Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 109 - Gambaran Kita Suatu Hari


Usai menerima tanggung jawab yang sebegitu besarnya, Cakra sempat dirundung dilema. Bukan hanya karena bingung dia hendak memulai langkahnya dari mana, tapi Evan yang tiba-tiba memecatnya seakan menjadi pertanda dia tidak punya pilihan lain.


Tidak hanya itu, ketika Cakra meminta masukan mertua dan kakak iparnya, respon mereka juga sama. Semua mendukung, karena di mata mereka Cakra memang terlahir sebagai pemimpin dan mereka menolak mentah-mentah kala Cakra meminta pekerjaan.


Agaknya Evan turut campur tentang ini, mau tidak mau Cakra harus menjadi dirinya sendiri. Beberapa kali Evan tegaskan, sesuatu yang mungkin terlihat buruk, justru baik untuknya. Dia juga tidak dilepas begitu saja, ada Prasetya yang jelas memiliki ilmu lebih dibandingkan Cakra.


Perlahan, tapi pasti dia mulai terbiasa di lingkungan orang-orang hebat yang dulu hanya dia tatap dari kejauhan. Status Cakra sebagai cucu Prof. Madani ternyata membawa pengaruh yang begitu baik dalam hidupnya.


Sama sekali tidak Cakra duga, jika mereka tidak memandang rendah dirinya. Cakra juga banyak belajar, benar kata Pras bahwa dia hanya belum bisa, bukan berarti tak bisa. Cakra hanya kurang percaya diri pada awalnya, tapi ketekunan membawanya untuk mampu menyesuaikan di sana.


Tidak ada lagi Cakra yang dipandang bau amis, dia terlihat berwibawa dengan pakaian rapi yang melekat di tubuhnya. Sejak dulu memang sudah berkharisma, tapi kini berkali lipat hingga membuat calon ayah itu semakin mempesona.


Dunia Cakra saat ini sudah berbeda, sedikit lebih serius dibanding sebelumnya dan lingkupnya bukan lagi sebatas istri dan anak saja. Ada banyak yang menjadi tanggung jawab Cakra, ribuan karyawan bergantung di pundaknya, dan semua itu seakan menjadi alasan Cakra untuk melakukan segalanya dengan penuh keikhlasan.


Tidak setengah-setengah Cakra lakukan, bahkan pria itu sampai mempertimbangkan saran Pras untuk melanjutkan pendidikannya dan mengambil kelas karyawan. Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya pria itu.


Kendati demikian, sesibuk apapun dirinya, Ameera tetap yang paling utama. Memasuki trimester ketiga, Cakra bahkan tidak pernah membiarkan Ameera ke dokter sendiri. Semua kebutuhan Ameera masih dia yang memenuhi, kebetulan selama kehamilan yang justru lebih banyak mau adalah dia sendiri, bukan Ameera.


Terlebih lagi, saat ini kandungan Ameera sudah begitu membesar, jelas istrinya semakin butuh perhatian. Walau memang sejak Cakra memutuskan untuk terjun ke perusahaan beberapa bulan lalu, Ameera memilih untuk tak egois dan tidak ingin membebani sang suami.


Awalnya cukup sulit, dia tidak bisa terlalu manja karena tahu Cakra pasti semakin tertekan. Namun, walau Ameera sudah begitu, tidak ada yang berubah dari Cakra, tetap dimanja walau tanpa diminta.


.


.


"Capek?"


"Lumayan, kita sudah sejauh apa jalannya?"


Seperti biasa, pagi ini Cakra kembali menemani istrinya berjalan kaki di kompleks perumahan. "Istirahat kalau capek, itu ada tempat duduk." Cakra menunjuk sebuah bangku yang tersedia di pinggiran taman tersebut.


"Wah iya? Kok baru bilang!" seru Ameera bak baru saja menemukan surga yang sejak tadi dia rindukan.


"Kita kesan_"


Belum selesai Cakra bicara, dan kini istrinya sudah berjalan lebih dulu hingga pria itu hanya menggeleng pelan. Sigap sekali dirinya, Cakra sampai tak sadar kapan Ameera mulai jalan.


Bukan hanya itu yang membuat perut Cakra sakit, tapi tempat yang Ameera pilih juga demikian. Tempat duduk yang Cakra maksud ada di kiri, tapi dia justru ke kanan dimana terdapat gerobak bubur ayam di sana.


Sudah pasti tujuannya untuk makan, bukan sekadar istirahat dan hal itu tak dapat Cakra cegah. Dia hanya mengekor dan turut duduk di sisi sang istri yang tengah memesan dua porsi bubur ayam untuk mereka.


"Lapar?"


"Iya lah, kamu dari tadi cuma ajak aku jalan-jalan doang ... aku belum sarapan," celotehnya seakan menyudutkan Cakra yang hanya mengajak jalan-jalan tanpa peduli perutnya yang kosong.


Padahal, sebelum pergi sebenarnya sudah sempat makan pisang sebagai pengganjal lapar. Hanya saja, sebagaimana yang Cakra ketahui sejak hamil perut sang istri tak ubahnya bak karet, apa saja masuk.


"Maaf ya, Sayang, aku lupa."


Cakra tidak pernah membela diri jika dianggap salah, semua memang dia anggap salahnya dan hal itu yang membuat rumah tangga mereka baik-baik saja. Sekalipun ada kekesalan Ameera, tapi tidak sampai bertengkar karena Cakra yang selalu mengalah dan Ameera juga bukan tipe wanita yang tidak mau kalah.


Bahkan, permasalahan Cakra yang makan bubur tidak diaduk sama sekali tidak dia jadikan bahan perdebatan seperti Lengkara, mereka menjalani hubungan sesederhana mungkin.


.


.


"Ra Lihat!!" Cakra menepuk pundak sang istri hingga Ameera yang tengah menikmati bubur tersebut terperanjat kaget.


Dia mengerjap pelan, senyumnya seketika terbit kala sadar apa yang Cakra perlihatkan di depan sana. Sepasang suami istri yang tak muda lagi tampak bergandengan sembari berbagi cerita.


Rambut putih dan kulit keriput mereka justru terlihat indah di mata Ameera. "Itu adalah gambaran kita suatu hari nanti," ucap Cakra lembut yang kemudian membuat mata Ameera membasah seketika.


Sejak tadi memang sudah terharu, walau sebenarnya tidak saling mengenal, tapi begitu Cakra berucap demikian dia benar-benar meneteskan air mata pada akhirnya. "Semoga," gumam Ameera pelan, untuk menyahuti kalimat berbalut doa itu saja Ameera seolah tak mampu.


"Kok sedih? Seneng dong harusnya."


"Sedihlah, apa nanti aku bisa menemanimu hingga setua itu? Kalau aku yang pergi lebih dulu gimana?"


"Ikut," jawab Cakra santai, tidak ada kata lain selain itu hingga Ameera menarik napas dalam-dalam. "Janganlah, mana bisa begitu."


"Bisa saj_ aaaaarrgghhh!! Ays manusia ini!! Ganggu saja."


Pembicaraan serius mereka terhenti, Ameera memalingkan wajah begitu Prasetya tiba-tiba bergabung dan duduk di hadapan mereka. "Jangan bicara sembarangan, ucapkan saja yang baik-baik."


"Kau sedang apa di sini?"


"Olahraga, apalagi kalau bukan?"


"Sengaja mengikutiku?"


"Itu juga, sambil menyelam minum air tidak ada salahnya, 'kan?" Pras menjawab seadanya karena memang omanya berpesan untuk mengikuti Cakra yang semalas itu dijaga pengawal sejak pertama.


"Terserah kau saja ... nanti juga lelah sendiri."


"Aku menjaga Kak Ameera, bukan kau saja."


"Kak kak kak, sampai kapan kau memanggil istriku dengan sebutan itu? Kau dengar ya, usiamu lebih tua dua jam dariku, maka yang lebih tua di sini adalah kau jadi berhenti memanggilnya Kakak, istriku tidak punya adik sepertimu."


"Lalu? Panggil apa? Sayang juga?"


"Pras_"


"Eeeih, Sayang jangan!! Mubazir telornya kalau mau dilempar!!" Sebelum telur rebus itu melayang ke wajah Pras, secepat mungkin Ameera menahannya. "Pakai ini saja," tambahnya lagi seraya memberikan gelas kosong yang membuat Prasetya menjauh seketika dari pasangan itu.


.


.


- To Be Continued -