Berondong Bayaran

Berondong Bayaran
BAB 107 - Ahli Waris


Untuk beberapa waktu, Cakra bersedia tetap berada di kediaman omanya. Sudah tentu diperlakukan bak anak raja, Cakra sampai risih lantaran hendak membeli buah saja harus dijaga. Dia tidak terbiasa, dan diiringi dengan pengawal semacam ini bukan gayanya sama sekali.


Terlebih lagi, harus pakai payung persis orang yang tidak bisa tekena sinar matahari begini. "Bisakah kalian agak sedikit jauh dariku? Berlebihan sekali." Cakra berdecak lantaran sejak tadi pedagang buah langgananya tampak bingung begitu Cakra datang diiringi beberapa orang dengan pakaian serba hitam itu.


Begitu mendapat perintah memang mereka menjauh, tapi ya tetap saja dapat dilihat oleh orang-orang yang berada di sana dan Cakra tetap kesal melihatnya. Pria itu menghela napas panjang, satu minggu hidup di rumah omanya hanya membuat Cakra sakit kepala.


"Tumben baru dateng, Bang? Sibuk ya?" tanya seorang wanita cantik yang tak lain anak pedagang buah tersebut kala Cakra tak lagi dalam pengawasan pengawalnya.


"Lumayan ... ini mangganya yang asem, 'kan?"


"Nyari kok yang asem, aneh."


Cakra tersenyum tipis, dia juga bingung kenapa maunya begitu. Mendadak saja dia ingin, hanya karena mengingat pohon mangga di rumah mertuanya, Cakra seolah tidak bisa menahan diri pagi ini. Padahal, tukang buahnya baru saja buka toko.


"Istriku ngidam, jadi maunya yang asem gimana?" Tega sekali dia menjual nama Ameera, padahal sudah jelas-jelas dia yang mau.


"Wuih biasanya kalau sukanya yang asem-asem anaknya cewek, Bang."


Cakra mengerutkan dahi, tebakan wanita ini sedikit menarik perhatiannya. "Masa sih? Tahu dari mana?"


"Asal nebak aja, biasanya begitu." Menyesal sekali Cakra menunggu jawabannya terlalu serius, agaknya setelah menikah dengan Ameera orang-orang seperti ini sangat banyak sekali bertebaran dalam hidup Cakra.


Usai dengan kepentingannya, Cakra segera pulang. Sudah tentu kembali diperlakukan bak pangeran, pria itu hanya menghela napas panjang kala dipersilakan masuk ke dalam mobil.


Cakra bingung, apa mungkin orang-orang kaya hidupnya begini? Jika iya, rasanya berlebihan sekali. Bukan tanpa alasan dia menganggap semua ini berlebihan, tapi mengingat bagaimana kehidupan keluarga istrinya yang tampak biasa aja walau kaya, jelas dia menganggap hal semacam ini tidak seharusnya dilakukan.


Sepanjang perjalanan Cakra tak terlalu peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Cakra mulai mengeluarkan mangga yang baru saja dia beli tersebut untuk dia cium aromanya, sangat menenangkan padahal beberapa pria yang ditugaskan untuk melindunginya itu sudah memejamkan mata lantaran tahu betapa asamnya mangga muda semacam itu.


Cakra terus saja seperti itu, hingga tiba di rumah omanya sudah menyambut Cakra senyuman hangat. Sedari kecil tidak bertemu, begitu bersama cucunya sebentar lagi akan menjadi ayah, sungguh hal yang paling tak terduga dalam hidup wanita itu.


"Jangan dicium begitu, kena getahnya nanti."


Cakra terkejut, begitu sadar dia sudah berada di ruang tamu dengan beberapa orang penting yang tampak asing di matanya. Tidak hanya itu, di sana juga ada Prasetya dan juga sang istri yang memang tengah menunggunya.


Tak ingin terlalu lama menjadi pusat perhatian, Cakra segera bergabung dan duduk di samping istrinya. Entah ada tujuan apa mereka bertemu di sini, agaknya Cakra ketinggalan info lantaran keluar hanya demi mangga muda yang dia impi-impikan sejak semalam.


"Sayang, manusia-manusia ini siapa?" tanya Cakra berbisik, tapi masih terdengar jelas oleh omanya hingga Ameera sengaja mencubit paha Cakra.


Dia meringis, mengaduh sakit dan memperbaiki posisi duduknya. Agaknya pembicaraan ini akan sangat serius, mengingat tatapan Pras dan omanya yang memberikan kode untuk dia diam sebentar saja.


"Ehem, Cakra ini pak Bondan ... kuasa hukum opamu," tutur omanya mulai angkat bicara, dan Cakra mengangguk pelan, tidak begitu peduli sebenarnya.


"Jadi dia cucu Anda, Nyonya? Wajahnya benar-benar mirip suami Anda, wajar Prof. Madani sangat menyayanginya," puji pria itu dan terdengar sedikit menyebalkan di telinga Cakra.


"Benar, pak, lebih tepatnya mirip putri kami ... hatinya pun sama, lembut sekali," tambah omanya sedikit berbalik dari kenyataan, karena faktanya di beberapa keadaan Cakra tidak bisa selembut ibunya.


"Hahah bisa saja, baiklah karena di sini para ahli waris sudah lengkap langsung saja saya bacakan wasiat dari mendiang Prof. Madani yang sempat beliau amanahkan kepada saya semasa hidup."


Cakra menatap pria itu tanpa minat, berbeda dengan Prasetya yang tampak menunggu dengan seksama apa isi dari wasiat yang dimaksud. "Pertama-tama_"


"Ck, langsung saja, Pak jangan kebanyakan kata pengantar ... saya mau ngerujak nih," protes Cakra yang seketika membuat kuasa hukum Prof. Madani mengerjap pelan, menatap Cakra dan omanya bergantian. "Rujak apa?"


Di luar dugaan pria itu justru bertanya yang membuat Ameera menutup wajahnya. Tak berhenti di sana, Cakra kembali memamerkan mangga muda yang baru saja dia beli ke atas meja. "Mangga saja, Bapak mau?"


"Wah sudah lam_"


"Pak Bondan!! Bisa serius dikit tidak?!!"


.


.


- To Be Continued -