
Meski sempat ada gangguan, tepatnya godaan mangga muda yang Cakra perlihatkan, Pak Bondan kembali kepada inti permasalahan. Teguran dari Nyonya rumah tidak hanya membuat Pak Bondan terkejut, tapi Cakra juga demikian.
Pria itu memilih duduk mantap di sisi sang istri sembari mendengarkan dengan seksama apa yang kuasa hukum kakeknya sampaikan. Sebuah hal yang sudah Cakra duga, dia duduk di tempat ini dalam rangka pembagian warisan.
Cukup banyak aset yang dimiliki Prof. Madani, dan hampir semua menjadi milik Cakra sepenuhnya. Tersisa sebuah unit rumah dan juga saham dengan nominal lumayan untuk Pras. Sementara Cakra menerima harta dan kekuasaan yang tidak bisa dianggap sepele.
Bahkan, begitu berat Cakra menerimanya, terutama tanggung jawab untuk memimpin perusahaan tersebut. Walau memang didampingi Prasetya, tetap saja Cakra merasa hal itu sebagai lelucon belaka.
Semakin lama, isi dari surat wasiat tersebut semakin aneh dan yang bersinggungan dengan harta hanya di awal saja. Sisanya, Prof. Madani banyak berpesan dan menekankan Cakra untuk tinggal di rumah utama yang juga diberikan untuknya.
Tidak hanya itu, Prof. Madani juga berpesan agar Cakra bisa menerima Pras sebagai saudara. Bukan sekadar saudara angkat, tapi kandung karena begitu banyak kesamaan antara Pras dan Cakra.
Tidak hanya tanggal lahir, tapi golongan darah juga sama hingga mereka mau tidak mau harus saling menganggap saudara. Pras tetap mendengarkan dengan seksama, tapi di sisi lain Cakra sudah malas mendengarnya.
"Poin selanjutnya ... di samping tanggung jawab yang sudah saya sebutkan tadi, masih ada tanggung jawab utama untuk kalian berdua dan ini menyangkut Nyonya."
Sesuai tebakan, untuk yang kali ini dipastikan mendiang kakeknya meminta Cakra dan Pras untuk sama-sama melindungi omanya. Ya, walau tanpa pesan mungkin Cakra akan tetap melindunginya, dari hati kecil Cakra rasa sayang itu jelas ada. "Kemudian yang terakhir," lanjut Pak Bondan yang membuat Cakra menghela napas panjang.
"Masih ada? Kenapa banyak sekali tugasnya?"
"Ini benar-benar terakhir, tuan muda."
"Cepat katakan."
Ahli waris utama agaknya sedikit tidak sabaran, Pak Bondan membenarkan kacamata sebelum kemudian kembali membacakan surat pernyataan tersebut. "Kalian berdua harus saling melengkapi dan mendukung di saat senang maupun susah ... jika Cakra luka, maka Pras yang membalut lukanya, begitu juga sebaliknya."
"Aku sudah punya istri, lagi pula kalau cuma luka bisa balut sendiri," celetuk Cakra begitu mendengar poin terakhir yang agaknya diciptakan sengaja agar mereka lebih dekat.
"Bukan begitu maksudnya, ini hanya istilah saja." Pak Bondan yang sejak tadi semangat menjelaskan pada akhirnya lelah juga.
Cakra tidak menangkap makna kalimatnya, entah memang tidak tahu atau sengaja sebagai bentuk penolakan. Namun yang jelas sebagai seseorang yang dipercayai untuk menyampaikan amanah, Pak Bondan tetap akan menjelaskan untuk kedua kalinya.
Prof. Madani menyampaikan pesan itu lantaran ingin Pras dan Cakra saling melengkapi, melindungi karena memang kedua anak itu bernasib sama. Tidak ada anggota keluarga lain, mereka hanya berdua dan Prof. Madani berharap keduanya saling menjaga suatu saat nanti.
"Jelas semua sampai sini?"
"Jelas, Pak."
"Hm."
Keduanya menjawab bersamaan, jelas yang sedikit lebih bersahabat adalah jawaban Pras. Mungkin karena suasana hati pria itu tidak sekacau Cakra, dan Pak Bondan juga memaklumi hal itu tanpa sedikit pun merasa tersinggung.
Bahkan, Ameera yang hamil saja menolak dan tidak tertarik sama sekali. Giginya ngilu lebih dulu walau sudah dirayu sang suami. "Istri Bapak hamil juga?"
"Saya tidak punya istri," jawab Pak Bondan seketika membuat Cakra tersedak, keningnya seketika berkerut dan mendadak bingung sendiri.
"Lah terus kenapa bisa?"
"Sejak dulu memang suka, kau jangan berpikir macam-macam!! Aku tidak pernah pernah tanam benih sembarangan."
Tidak heran kenapa dia jadi kuasa hukum, memang pintar sekali bahkan pikiran Cakra saja mampu dia terka. Mendapati respon pria itu, Cakra hanya tergelak diikuti Pras yang sejak tadi diam saja melihat di antara mereka.
.
.
Selepas kepergian Pak Bondan, suasana kembali seperti sebelum ini. Baik Cakra maupun Pras belum bisa untuk dekat, maklum saja bertemu ketika dewasa tidak semudah itu didekatkan.
Keduanya sama-sama pendiam dan tidak banyak bicara jika belum saling mengenal, bahkan ketika berpapasan di ruang tamu pun mereka tetap diam. Hingga, kali ini Cakra yang mengalah dan memulai untuk bicara lebih dulu.
Bukan karena basa-basi semata, tapi memang ada hal penting hingga dia meminta waktu untuk berbicara empat mata bersama pria itu.
Tidak lain dan tidak bukan, yang Cakra bahas tetap masalah warisan. Dia menolak, lagi dan lagi hanya itu yang Cakra katakan. Sama seperti yang dia sampaikan pada Pak Bondan dan juga omanya, Cakra merasa tidak pantas, tidak ingin dan itu terlalu berat baginya.
Namun, di sisi lain Pras juga menolak, dia tidak bersedia kala Cakra meminta untuk menggantikan dirinya. "Kau yang berhak ... kau hanya belum bisa, bukan tidak bisa," tegas Pras tidak menerima alasan apapun dari Cakra.
"Bukan masalah haknya, tapi memang_"
"Opa menaruh harapan besar di pundakmu, dia memilihmu karena kau bisa, aku yakin itu."
Cakra memejamkan mata, jika dipikir memang menyenangkan, belum apa-apa sudah berada di posisi tertinggi, tapi tetap saja Cakra resah akan itu. "Apa yang bisa diharapkan dariku? Aku hanya lulusan SMA tahu kau?"
"Untuk menjadi ahli waris tidak butuh kualifikasi pendidikan, kalau memang tidak percaya diri karena itu, kuliah saja ... masih muda, 'kan?"
"Muda kepalamu."
.
.
- To Be Continued -