
“Saya gak nyangka loh kalo Pak Vincent ternyata jago juga bawa motor sport begitu!” ucap Allegra sambil menikmati hembusan angin di pantai.
“Kamu suka?” tanya Vincent membuat Allegra mengerutkan dahinya.
“Hah? Maksud bapak apa ya?”
“Emmh, itu, maksud saya kamu suka gak saya boncengin kayak tadi?”
Entah kenapa pertanyaan Vincent kali ini membuat wajah Allegra memanas. Seketika ingatannya kembali saat memeluk erat tubuh Vincent selama perjalanan menuju ke pantai. Tidak hanya itu, bayangan tubuh kekar anak pimpinannya yang sempat Allegra sentuh tadi juga mulai menari-nari di pelupuk matanya.
Sedangkan Vincent yang melihat Allegra hanya diam pun mengulangi kembali pertanyaannya. “Allegra!” panggil Vincent membuyarkan lamunan Alle.
“Kamu suka gak saya boncengin kayak tadi?” tanya Vincent lagi dan Allegra langsung menggelengkan kepalanya.
“Gak suka, Pak! Saya malah takut jatuh,” balas Allegra.
“Tapi kamu kan bisa pegangan kuat, Alle! Gak mungkin jatuh, dong!”
“Saya jadi gak enak loh, bukannya pegangan tapi malah peluk-peluk bapak. Apalagi kabarnya Pak Vincent udah punya tunangan. Kan jadi berabe kalo tunangan bapak nantinya malah cemburu,” ucap Allegra.
Vincent sedikit terhenyak saat mendengar Allegra ternyata sudah mengetahui jika dirinya sudah bertunangan. Tunangan yang dipaksakan oleh kedua orang tuanya demi perkembangan bisnis mereka. Vincent sama sekali tidak setuju dengan semua ini, tapi malangnya, ia tidak bisa mengelak keinginan orang tuanya.
Akhirnya pertunangan mereka berdua pun hanya dihelat secara tertutup dan mengundang keluarga besar dari kedua belah pihak. Sama sekali tidak dipublikasikan dan bahkan Vincent juga enggan untuk mengenakan cincin tunangannya.
“Jangan ngarang, deh, kamu! Saya mana punya tunangan?” kilah Vincent sambil memperlihatkan jari tangannya yang polos tanpa cincin.
“Ups, saya udah salah terka berarti, ya, Pak?” ucap Allegra sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Seketika ia teringat dengan pesan Chika yang mengharuskannya menjaga rahasia jika pemilik Hotel Berniss, tempat Chika bekerja adalah merupakan tunangan dari putra pimpinan Wijaya Group, Vincent Antonie Wijaya.
“Maafkan saya, Pak Vincent!” Allegra langsung menangkupkan kedua tangannya. “Lain kali tidak akan saya ulangi kesalahan saya ini!”
Kali ini Allegra tampak sangat ketakutan dan tentunya membuat Vincent terkekeh pelan. “Santai aja, Alle. Kamu gak salah, kok!” Vincent menarik nafasnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya perlahan.
“Saya memang udah tunangan, Alle. Tapi sayangnya, saya sama sekali tidak mencintai tunangan saya. Kali ini aku menjadi korban dari perjodohan bisnis orang tuaku,” gumam Vincent pelan sambil menatap lepas ke arah pantai.
“Kok bisa, Pak?”
“Padahal Miss Berniss itu cantik banget loh.”
Lagi-lagi Allegra kelepasan menyebutkan nama tunangan Vincent dan hal ini tentunya membuat Vincent semakin yakin jika Allegra mengenal cukup baik siapa wanita yang dijodohkan dengannya. Vincent pun menatap Allegra secara intens dan Allegra sedikit salah tingkah dibuatnya.
“Karena saya sudah mencintai wanita lain yang terus saja mengusik hati saya sejak pertemuan pertama,” ucap Vincent.
‘Ya Ampun, Pak Vincent tumben banget sih malah curhat kayak gini sama aku. Emangnya dia gak takut ya kalo aku malah sebarin gossip besar ini di kantor?’ gumam Allegra dalam hati sambil mengalihkan pandangannya dari Vincent.
‘By the way, siapa ya kira-kira wanita beruntung yang bikin Pak Vincent jatuh cinta pada pandangan pertama? Wah, cewek itu pasti bakalan diratukan sama Pak Vincent.’
“Setiap orang, pasti punya masalah pelik dalam hidupnya. Kalo saya harus terima saat dijodohkan dengan wanita yang sama sekali tidak saya cintai. Sedangkan kamu, justru ditinggal selingkuh sama tunangan yang sangat kamu cintai,” tutur Vincent.
Allegra membuang nafasnya kasar. Tanpa ia sadari matanya mulai berkaca-kaca mengingat perselingkuhan Bisma yang membuat hatinya terasa begitu sakit.
“Kamu boleh kok ngeluahin sakit hati kamu sama saya, Alle.” Tangan Vincent terulur mengusap air mata Allegra yang mulai jatuh membasahi pipinya. Perlahan Vincent juga memberanikan dirinya merengkuh tubuh Alle dan menjadikan dada bidangnya sebagai tumpuan Alle yang tengah menangis.
“Saya udah sangat bodoh selama sepuluh tahun ini, Pak. Ternyata pria yang saya cintai lebih memilih bercinta dengan perempuan lain yang sudah memiliki suami.” Allegra mulai terisak di pelukan Vincent.
Allegra yang baru saja mendapatkan laporan dari Chika jika ia melihat Bisma keluar dari kamar hotel bersama dengan Bu Ninis pun terus menangis di pelukan Vincent. Sedangkan Vincent sendiri mencoba untuk menenangkan Allegra sambil mengusap lembut punggung wanita yang selama ini mengusik pikirannya.
Setengah jam Allegra berada di pelukan Vincent membuatnya tersadar jika apa yang saat ini ia lakukan bukanlah hal yang wajar. Terlebih status mereka berdua bukanlah siapa-siapa dan hanya sekedar atasan dan juga bawahan di perusahaan.
“Astaga, maafkan saya, Pak! Seharusnya saya tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan.” Allegra sedikit menjauh dari Vincent dan mengusap kemeja Vincent yang basah karena air matanya. Bahkan ada noda lipstick miliknya yang tertinggal di sana.
“Saya akan bertanggung jawab mencucikan kemeja Bapak yang kotor karena saya. Sekali lagi saya minta maaf, Pak Vincent,” ucap Allegra yang merasa sangat tidak enak dengan Vincent.
“Ini sudah bukan waktu bekerja, Allegra!” balas Vincent sambil menggenggam tangan Allegra.
“Anggap saja saat ini kita berteman.” Vincent menjentikkan jari kelingkingnya ke araah Allegra.
“Kamu mau kan berteman dengan saya?” tawar Vincent.
“Pak Vincent serius mau temenan sama saya?” tanya Allegra dengan nada tidak percaya.
“Emangnya saya harus gimana, sih biar kamu percaya?” tanya Vincent dengan nada kesal sambil menarik kembali tangannya dari Allegra.
“Oke, Pak. Di luar jam kerja, kita temenan yaa!” Allegra cepat-cepat menautkan jari kelingkingnya dengan jari Vincent. Senyum Vincent pun langsung merekah sempurna. Satu langkah pendekatannya dengan Allegra sudah berhasil. Kini tinggal menjajaki langkah berikutnya.
“Kalo gitu, di luar kerja kamu juga gak boleh panggil saya, Pak!”
“Haah? Terus, saya harus panggil apa, dong?”
“Fikirkan dengan baik dan harus panggilan yang saya suka! Kita balik ke hotel, yuk!” ajak Vincent sambil melompat turun dari saung.
‘Aduh, panggilan apa ya, kira-kira?’ gumam Allegra dalam hati. Ia berfikir keras untuk memanggil anak bosnya itu dengan sebutan apa saat di luar jam kerja. Tanpa Allegra sadari, dirinya sudah tertinggal jauh oleh Vincent.
“Tunggu, Kak Vin!” teriak Allegra menyusul langkah Vincent.
“Hemm, Kak Vin? Panggilan yang tidak buruk. Setidaknya ini adalah panggilan sebelum Alle memanggilku dengan sebutan yang lebih mesra lagi,” gumam Vincent sambil mengulum senyumannya dan mempercepat langkahnya agar Allegra terus mengejarnya.
“Kak Vin!” teriak Allegra lagi. “Jalannya jangan cepet-cepet dong!”
Allegra terus saja mengejar Vincent sampai akhirnya ia sampai di tempat dimana motor milik Vincent terparkir dan Vincent sudah ada di atas motornya.
“Pakai helmnya dan ingat untuk …”
“Pegangan yang kenceng kan, biar gak jatuh?” lanjut Allegra sambil menerima helm yang disodorkan oleh Vincent.
“Good answer, Alle!” balas Vincent.
Tanpa mengulur waktu, Allegra langsung naik ke atas motor dan melingkarkan tangannya memeluk Vincent. Ia sudah tidak sungkan lagi memeluk Vincent karena pria yang memiliki status sebagai bosnya itu kini sudah menjadi temannya.
“Thanks ya kak, udah mau jadi temen Alle!” ucap Alle sambil menyandarkan kepalanya di punggung Vincent.
“Jangan sedih lagi, ya! Aku janji akan selalu ada buat jadi sandaran kamu!” balas Vincent yang mulai menjalankan motornya.
Sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama terdiam menikmati kedekatan mereka. Bahkan Vincent sendiri sengaja memelankan laju motornya agar pelukan Allegra terasa lama.