Because I Love You

Because I Love You
Ijin


Redi tertawa saat mendapat pesan dari Nanta, pancingannya berhasil Nanta langsung saja beri komentar.


Apa maksudnya pasang status begitu? *Nanta.


Biar Abang tahu, dia terlihat bahagia jalan sama aku. *Redi


🤔 *Nanta


Hanya itu jawaban dari Nanta yang bikin Redi tertawa senang.


"Kenapa Bang?" tanya Ulan serahkan sate cumi yang sudah dipesannya pada Redi.


"Ada pesan lucu." itu saja jawaban Redi.


"Masih cukup uangnya?" tanya Redi pada Ulan saat menerima bungkusan makanan dari Ulan.


"Masih banyak sisanya." jawab Ulan menepuk tas slempangnya, tadi Redi serahkan seluruh Japanese Yen yang ada didompetnya pada Ulan, dengan alasan tidak mau repot keluarkan dompet tiap sebentar kalau ada yang mau dibeli, jadi Ulan saja yang di repotkan.


"Oke kasih tahu kalau habis." kata Redi tersenyum.


"Ndak habis ini." jawab Ulan tertawa.


"Mesti cari bangku untuk makan sambil tunggu Daniel dan Baen." kata Redi pada Ulan.


"Abang telepon dong, tanyakan posisi mereka, sekalian hubungi Bang Lucky kita mau bertemu di restaurant apa?" pinta Ulan pada Redi.


"Apa kamu sudah tidak mau keliling lagi?" tanya Redi.


"Ndak Abang, Ulan kan sudah sering. Abang masih mau keliling?" tanya Ulan.


"Tidak usah kasihan kamu capek dari tadi jalan kaki terus."


"Ndak apa kok."


"Besok bisa tidak kuliah kamu dek, karena lelah." Redi mengacak anak rambut Ulan yang wajahnya memerah karena perlakuan Redi yang memanggilnya adek seperti Nanta.


"Masanta." Ulan tunjukkan handphonenya yang berdering, tampak video call dari Nanta.


"Apa Masanta selalu hubungi kamu sesering itu?" tanya Redi tertawa.


"Ndak, tapi tiap hari pasti." jawab Ulan lalu menggeser tombol hijau pada layar.


"Ulan lagi di Nishiki Market, Masanta." langsung beritahukan posisinya pada Nanta.


"Lucky dan rombongan belum sampai?" tanya Nanta.


"Belum, tapi sudah dalam perjalanan." jawab Ulan.


"Kamu sama Redi terpencar dengan Baen sama Daniel?" tanya Nanta.


"Ndak tahu mereka ketinggalan di belakang rasanya." jawab Ulan apa adanya.


"Ya sudah, Masanta hubungi Baen dulu." jawab Nanta tersenyum.


"Kok tidak bicara sama aku Masanta?" teriak Redi pada Nanta.


"Kalian ini teroganisir sekali ya." sindir Nanta bikin Redi terbahak, segera mengambil handphone yang diserahkan Ulan padanya.


"Ada gurunya kan." Kata Redi disela tawanya berjalan menjauh dari Ulan.


"Kenapa juga adik-adik Leyi menargetkan adik-adik gue?" Nanta sok judes gitu.


"Yang satu sudah aman toh, tinggal yang satu ini." Redi terkekeh.


"Yah, cowoknya pede lagi bilang dia tampak bahagia." kembali Nanta menyindir dan Redi tertawa puas.


"Jadi dari skala 60 sampai 100 sudah di angka berapa nih peluangku?" tanya Redi langsung.


"Skala 0 sampai 100 dong, yakin betul pilih angka 60." sungut Nanta.


"Aih Masanta ini sukanya menyiksa."


"Apanya yang disiksa." Nanta terbahak.


"Jawabannya apa dong?" Redi bertambah jauh saja dari Ulan.


"Mesti jawab apa, memangnya?" tanya Nanta.


"Masanta setuju tidak kalau aku sama Ulan?" Redi sedikit mendesak.


"Ini penolakan ya?" Redi pasang wajah kecewa.


"Belum ditolak juga sih, harus rapat keluarga dulu. Eh Tapi ya Oma dan Opa dari pihak nyokap agak ribet sih, kalau gue setuju juga bukan berarti jalan cinta kalian mulus." jawab Nanta apa adanya, Ia tidak terlalu dekat dengan Oma dan Opa dari pihak Mamanya, efek dari perceraian Kenan dengan Tari dulu. Nanta yang kena imbasnya. Tidak bisa juga Nanta berikan pendapatnya pada Opa dan Omanya.


Sebenarnya Nanta bukan kena imbas sih, hanya saja Nanta tidak suka Papanya selalu jadi materi pembahasan negatif saat ia sedang berkumpul bersama keluarga Mamanya. Padahal tampak jelas sekarang semua sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing.


"Aku yang penting Masanta, Papa dan Mama Ulan dulu deh, urusan Opa dan Oma belakangan." jawab Redi mantap.


"Kalian baru bertemu sehari loh." desis Nanta, Redi tampak terburu-buru.


"Bertemu dua hari dong, besok hari ketiga. Salah satu cara mengenal karakter seseorang itu kan kalau kamu selama tiga hari menginap bersama. Walaupun kami beda gedung tapi seharian bersama." jawab Redi.


"Ya baru juga dua hari, lagi pula urusan dengan gadis Malaysia itu juga belum beres, jangan harap dapat restu dari gue kalau ada gadis lain." tegas Nanta pada Redi.


"Teman itu Bang, tidak ada kata-kata cinta sih antara kami." Redi menjelaskan.


"Teman tapi Mesra kan? sudah kenalkan sama Mama Amelia juga, jangan berkelit gue hajar lu." ancam Nanta.


"Ish galak." Redi bersungut.


"Pokoknya kalau adikku jadi mainan aku bisa sangat galak loh, jangan rusak hubungan baik aku sama Leyi dan keluarga kamu, Redi." Nanta mengingatkan.


"Pasti Masanta. Adek Ulan nunggu aku tuh bengong." kata Redi tertawa arahkan kamera pada Ulan.


"Eh sudah sama Baen dan Daniel deh." kata Redi saat melihat Daniel dan Balen mendekat.


"Masanta sepertinya meragukan aku ya?" tanya Redi pada Nanta.


"Karena kamu lebih playboy dari Leyi, Ledi Dei." desis Nanta.


"Itu pelarian, mengalihkan rasa sukaku sama Baen dulu." jawab Redi jujur.


"Nah Ulan kamu jadikan pelarian juga kah?"


"Oh tidak dong, yang ini beda dan bikin bingung juga sih, sebenarnya aku naksir Baen karena dia adiknya Masanta kayanya, karena melihat Ulan kok perasaanku seperti melihat Baen dulu." Redi tertawa.


"Lu terobsesi jadi Ipar gue ya." Nanta dan Redi terbahak bersama.


"Jadi Masanta setuju kan?" kembali mendesak Nanta.


"Memang Ulan mau sama kamu?" Nanta tertawakan Redi.


"Kalau mau, Masanta setuju ndak?" ikut bicara dengan gaya Ulan. Nanta kembali terbahak.


"Rapat keluarga dulu ah." Nanta menggoda Redi.


"Tapi Masanta setuju kan aku dekati Ulan, niatku serius loh, perkara nanti Ulan mau apa tidak urusan belakang, yang penting aku ijin dulu nih." kata Redi pasang wajah serius.


"No kissing ya." Nanta mengingatkan.


"Yah sekarang mana mungkin kissing, baru juga kenal." Redi terbahak, tidak tahu nanti, eh Redi otaknya.


"Ya sudah aku ijinkan ya, asal saja adikku bahagia. Kalau kamu bikin dia pusing sih lebih baik tidak usah." kata Nanta lagi.


"Ledi dei, lama betul sih." teriak Balen tidak sabaran.


"Baen mulai ngomel." lapor Redi sambil tertawa.


"Ya sudah tutup deh."


"Oke Aban Nanta, yopiu." Redi langsung monyongkan bibirnya bergaya ingin mengecup Nanta.


"Ish kok merinding." Nanta terbahak dan segera menutup sambungan teleponnya. Redi segera hampiri Ulan, Daniel dan Balen, lalu serahkan handphonenya pada Ulan.


"Kenapa Masanta?" tanya Ulan.


"Biasa urusan pekerjaan." jawab Redi tersenyum.


"Semua sudah menunggu di restaurant loh." kata Balen pada Redi.


"Oh dimana restaurantnya, ayo kesana." jawab Redi segera menggandeng tangan Ulan tanpa sadar. Balen mencebik melihatnya kemudian pandangi suaminya yang cengar-cengir. Ulan juga bingung tapi diam saja tangannya digandeng Redi. Ah Ledi dei mentang-mentang Masanta kasih ijin.


"Dimana sih?" tanya Redi pada Ulan.


"Sana." jawab Ulan