Because I Love You

Because I Love You
Setuju


"Kamu sering makan disini, Lan?" tanya Redi saat ia dan Ulan menunggu pesanan jadi.


"Kalau lagi ndak masak makan disini." jawab Ulan kalem.


"Sendiri?" tanya Redi lagi.


"Kadang sendiri, kadang sama teman. Tergantung situasi dan kondisi." Ulan terkekeh.


"Bagaimana rasanya tinggal di negara orang sendiri, tidak ada sanak saudara?" tanya Redi bayangkan Ulan sendirian di Jepang, sementara ia di Ohio bersama Daniel kemudian Balen menyusul, tidak lama Richie pun menyusul. Redi tidak pernah merantau sendiri. Daniel, Abangnya pun sendiri awalnya di Ohio tapi Daniel laki-laki sementara Ulan perempuan. Memang banyak yang seperti Ulan, tapi tetap saja Redi ingin tahu.


"Rasanya lebih sepi sih, tapi kan memang maunya Ulan jadi ya tanggung sendiri susah senangnya." Ulan tersenyum pandangi Redi.


"Kenapa tidak ke Ohio bersama Baen, disana kita ramai jadi kamu tidak kesepian."


"Ulan dapat beasiswa disini, kalau Amerika bayar sendiri." jawabnya tertawa.


"Pintar juga ya kamu." Redi langsung kagum gitu.


"Ndak terlalu sih, ada yang jauh lebih pintar." jawabnya merendah.


"Kalau tidak pintar mana dapat beasiswa."


"Ndak tahu juga karena pintar atau bukan, yang pasti sih doa Ulan dikabulkan Allah. Mama sama Papa kan bilang ndak boleh sekolah di luar negeri kecuali dapat beasiswa, ya sudah selain belajar Ulan doa terus supaya bisa sekolah di Jepang gratis." Redi tertawa mendengar cerita Ulan.


"Masih lama lulusnya?" tanya Redi ingin tahu.


"Paling cepat dua tahun lagi."


"Setelah lulus rencananya apa? pulang ke Indonesia atau mau bekerja disini?"


"Pulang Bang, Papa sama Mama sudah pesan kerjanya di Indonesia saja." jawab Ulan, Redi anggukan kepalanya.


"Kalau dapat jodoh di Jepang, bagaimana?" tanya Redi lagi.


"Ndak apa asal orang Indonesia." Ulan ajukan syarat sambil tertawa.


"Mahasiswa sini ada yang kamu suka?" tanya Redi penasaran.


"Belum sih, ndak berani lihat-lihat juga karena Masanta bisa marah kalau Ulan suka-sukaan."


"Yah kan tidak apa-apa cuma suka kok."


"Bisa ndak konsen belajarnya nanti." jawab Ulan, sama seperti Balen ternyata adik-adik Nanta nih takut sekali sama Abangnya.


"Kata Masanta sih kuliah yang benar, nanti Masanta yang carikan jodoh." Ulan tertawa ingat Nanta.


"Wah Abangmu mau jodohkan kamu sama siapa tuh?" Redi tertawa, bisa tawarkan diri kalau begitu, eh apa iya Redi jadi berpikir lagi. Takutnya hanya terbawa suasana saja. Harus dipikirkan secara matang.


"Ndak tahu Ulan." Ulan ikut tertawa.


Karena kasihan pikirkan Daniel yang belum makan, Ulan dan Redi tidak makan di tempat, mereka ikut pesan dibawa pulang, agar bisa makan bersama dan Daniel tidak menunggu terlalu lama.


"Abang besok ke Tokyo langsung ke Bandara kan?" tanya Ulan pada Redi.


"Ya, sayang tidak bisa lama disini." Redi tersenyum.


"Kalau kesini harusnya saat Ulan libur, jadi bisa lama dan Ulan bisa antar kemanapun, kalau sekarang kan kasihan cuma bisa temani Ulan bikin tugas saja."


"Tidak apa memang niatnya kesini bukan mau jalan-jalan. Ke Amerika bakal transit juga jadi kita mampir saja sekalian bertemu kamu."


"Kok gitu, Baen kangen ya sama Ulan."


"Iya dia sedih kamu tidak datang ke acara pernikahannya." Redi tertawa, padahal bukan begitu juga.


"Kapan-kapan Ulan ke Ohio deh, nanti ijin dulu sama Mama dan Papa."


"Betul ya, kapan mau ke Ohio? nanti aku temani deh disana. Kabari ya, karena kemungkinan aku akan lebih lama di California. Tapi kalau Ulan ke Ohio, aku kesana juga deh." Redi langsung semangat.


"Tanya Mama dan Papa dulu, boleh ndak liburan semester depan Ulan ke Ohio." jawab Ulan.


"Ditunggu loh." Redi berharap gitu.


"Ya, Ulan mau menebus kesalahan karena ndak datang ke pernikahan Baen yang tidak terencana itu." katanya polos.


"Terencana kok." jawab Redi terkekeh.


"Takut kamu iri, nanti minta dinikahkan juga." jawab Redi ingat Tori dan bercandai Ulan. Ulan langsung tertawa dibuatnya.


"Ulan ndak pernah iri sama Baen. Eh pernah deh iri karena dulu Baen tiap hari bertemu Masanta, Ulan cuma dua minggu sekali."


"Hahaha kamu kenapa tidak minta pindah ke Jakarta?"


"Sudah, tapi Papa ndak mau." Ulan terkikik geli.


"Waktu itu Baen pamer punya Aban Leyi yang ajari Baen berenang, nah kalau Ulan pindah ke Jakarta nanti Ulan diajari Abang Daniel." jawabnya lagi sambil menghapus air mata yang keluar efek tertawakan Balen.


"Dasar Baen, Daniel kan di asrama kapan mau ajari kamu berenang, belum lagi setelah keluar asrama langsung ke Ohio." Redi ikut tertawa.


Tidak terasa asik ngobrol keduanya sudah sampai saja di Apartment Ulan.


"Cepat sekali sih." keluh Redi karena rasanya belum puas ngobrol berdua dengan Ulan, walaupun yang dibicarakan tidak jelas, tapi Redi jadi bisa mengenal Ulan lebih dekat. Terlepas nanti jodoh apa tidak, tapi rasanya mereka harus ngobrol banyak untuk mengenal satu sama lain.


"Ulan, nanti jangan sungkan hubungi aku ya." kata Redi saat menekan tombol lift ke lantai delapan dimana apartment Ulan berada. Ulan anggukan kepalanya, matanya seperti boneka, bikin Redi gemas. Kenapa sih adik-adiknya Abang Nanta menggemaskan begini, pikir Redi.


Handphone Ulan berdering saat mereka keluar lift. Ulan langsung tersenyum saat melihat layar handphonenya.


"Masanta..." langsung saja memanggil Abangnya setelah menggeser tombol hijau, tampak wajah Nanta disana, rupanya Nanta terbiasa mengabsen adiknya, bukan hanya Balen saja.


"Lagi apa dek?"


"Habis beli makan siang. Masanta lagi apa?"


"Kerja." Nanta tersenyum.


"Beli makan siang sama Baen?" tanya Nanta.


"Sama aku Bang." Redi langsung saja ikut nimbrung tempelkan kepalanya pada kepala Ulan.


"Eh jangan dekat-dekat." Nanta langsung pasang wajah galak.


"Ih, suka begitu deh. Bagaimana cocok tidak?" malah menggoda Nanta.


"Ulan hati-hati sama Redi." Redi tertawa mendengarnya.


"Abang Redi tadi bantu Ulan bikin tugas, ternyata kita kuliahnya ambil jurusan yang sama." Ulan semangat cerita sama Abangnya.


"Loh memang Redi kuliah ya, Abang baru tahu."


"Terus deh jatuhkan aku di depan Ulan." Redi kembali tertawa.


"Redi, titip Ulan ya, jangan di apa-apain loh." pesan Nanta pada Redi.


"Yah memang mau diapain adik Masanta ini sih?" Redi ikutan panggil Masanta.


"Baen mana?"


"Sama Daniel istirahat, tadi ngantuk abis makan pempek jadi ndak ikut beli makan." jawab Ulan tertawa.


"Modus itu." Nanta ikut tertawa.


"Masanta, Ulan liburan semester depan ke Ohio dong, boleh ndak." langsung ijin sama Nanta.


"Hah, mau bertemu Redi?" tanya Nanta.


"Bukan, Ulan mau menebus kesalahan sama Baen karena ndak datang ke pernikahannya." jawab Ulan apa adanya.


"Ijin dulu sama Mama dan Papa." kata Nanta pada adiknya.


"Tapi Masanta boleh kan?"


"Iya, asal Mama dan Papa setuju." jawab Nanta.


"Kalau begitu Masanta yang bayari tiketnya ya?" ujung-ujungnya sama seperti Balen minta Abangnya yang bayari tiketnya.


"Redi, tanggung jawab lu." Nanta langsung terbahak salahkan Redi.


"Siap Masanta, asal Masanta setuju." langsung saja kode-kode sambil ikut terbahak.