
Pada hari ke dua setelah Bagas menyembuhkan Hani, ia akhirnya di perbolehkan keluar dari rumah sakit dan dinyatakan sembuh total oleh para dokter..
Awalnya mereka terkejut dengan hal itu, namun setelah melakukan berbagai pengecekan lebih lanjut mereka tak dapat menemukan masalah apapun pada Hani..
Jadi akhirnya mereka menyatakan Hani sembuh, walaupun mereka penasaran dengan bagaimana Hani tiba-tiba sembuh.. Mereka menduga ini mungkin ada kaitannya dengan fenomena yang saat ini terjadi..
Banyak orang tiba-tiba menjadi kuat dan memiliki berbagai kemampuan, jadi mereka mengira Hani mungkin sama atau ia mendapatkan obat penyembuhan yang sama dengan yang ada di cerita dan permainan-permainan Video game..
Karena bagaimana pun mereka mengetahui bahwa Hendrik adalah pengguna M.O.P, jadi tak aneh jika ada keajaiban dengan kesembuhan Hani..
Setelah Hani keluar dari rumah sakit Hendrik langsung membawa Hani ke Rumah Bagas yang saat ini sudah menjadi basis operasi mereka..
Mereka naik taksi online dan turun di depan gerbang Rumah Bagas dan Hana.
"Apakah ini tempat tinggal Kakak Bagas dan Hana..?? " Tanya Hani. Melihat sekeliling..
"Benar.. Dan disini juga kita akan tinggal mulai sekarang.. " Ucap Hendrik.
"Tapi kenapa banyak orang di sini..? Dan kenapa di sini lebih seperti perkebunan..? " Tanya Hani yang penasaran melihat banyak orang berlalu lalang di sana..
Mereka seperti berada di rumah mereka sendiri, semuanya terlihat bahagia dan bekerja di ladang dengan senyuman dan tawa di wajah masing-masing orang di sana..
Dan karena banyaknya pepohonan yang tinggi di sana membuat Hani tak bisa melihat dimana bangunan tempat tinggal Bagas dan Hana.
Hal Ini membuat Hani sedikit penasaran..
"Ya seperti yang kau lihat.. Ini semua adalah tanah Bagas dan Hana, atau lebih tepatnya milik almarhum orang tua mereka.. " Ucap Hendrik.
"Mati jalan.. Kakak akan menjelaskan sambil kita berjalan.. "
"Yang kakak tau Bagas membuka seluruh wilayah sekitar menjadi perkebunan yang bisa di pakai semua orang di sini dengan gratis.. Dan jika ada material monster biasanya Para warga inilah yang akan bertugas membongkar nya.. "
"Karena itulah setiap orang yang ada di sini terlihat bahagia, mereka menganggap Bagas seperti dermawan mereka karena telah membantu mereka di saat perekonomian mereka menurun.. "
"Jadi seperti itu.. " Ucap Hani.
Dalam perjalanan mereka, banyak warga yang sedang istirahat di samping jalan menyapa mereka.. Terutama karena mereka sudah kenal dengan Hendrik..
"Yo Nak.. Apakah itu adikmu yang kau ceritakan..?? " Tanya seorang warga di sana.
"Itu benar paman.. Bagaimana cantik bukan..?? " Ucap Hendrik.
"Ya. Dia sangat cantik dan manis, tidak seperti mu.. " Ucap paman itu.
"Hahahaa itu benar..!! " Yang lainnya di sana ikut tertawa mendengar itu.
"Hai paman Ben.. Kata siapa tidak mirip..?? CobaPaman perhatikan lagi, sepertinya paman sudah harus memakai kaca mata.."ucap Hendrik.
"Tak perlu kacamata, lihat dia memiliki mata bulat kau tidak, dia memiliki bibir yang bagus kau tidak.. Dia pendiam kau..?? Iss iss iss. " Ucap paman Benjamin.
Hendrik dan paman Benjamin itu terus saja berdebat sementara Hana hanya terdiam melihat mereka berdua..
Di saat itu salah satu bibi di sana mendekati Hani..
"Gadis manis.. Siapa nama mu..?? " Tanya Bibi itu.
"Hani.. Nama ku Hani Bi.. " Ucap Hani.
"Nama yang manis semanis orangnya.. " Ucap Bibi itu.
"Jangan perduli kan mereka, Walaupun terlihat bertengkar mereka tak benar-benar bertengkar hal ini sudah biasa terjadi jika mereka bertemu.. "
"Emm... " Angguk Hani.
"Jadi apakah kamu juga akan tinggal di sini mulai sekarang..?? " Tanya Bibi itu.
"Ya. Jika kakak Bagas mengijinkan aku akan tinggal di sini dan sedikit membantu mereka sebagai ucapan terimakasih.. " Ucap Hani.
"Itu bagus..
Di sini akan semakin ramai.. " Ucap Bibi itu.
"Rumah Bibi ada di sebelah kanan gerbang yang berwarna merah, jika ada waktu silakan mampir ke sana.. "
"Emm jika tak merepotkan aku akan mampir sesekali.. Terimakasih.. " Ucap Hani.
"Ben..!! Berhenti menggoda Hendrik, dia sudah di tunggu oleh adiknya.. " Ucap Bibi itu.
"Eh..?? Maaf nona kecil.. " Ucap paman Benjamin.
"Haihh.. Nak kau sangat beruntung memiliki adik kecil yang manis sepertinya.. "
"Tentu saja.. Siapa dulu.. " Sebelum Hendrik menyelesaikan kata-katanya ia tiba-tiba sedikit kesal saat mendengar lanjutan perkataan Paman Benjamin.
"Tapi adikmu benar-benar tak beruntung memiliki kakak seperti mu.. " Ucap paman Benjamin.
"Hei.. Apa paman mengajak berkelahi..!! " Ucap Hendrik.
"Hahaha siapa takut.. Apa kau tau..? Tuan muda Bagas mengangkat ku menjadi kepala penjaga di sini dan menghadiahi ku Core Minotaur saat ia tau kalau aku bisa menyerap Origin.. " Ucap paman Benjamin.
"Aku dengar kau memiliki kulit yang keras selain wajah tebal mu itu..
Mari kita coba nanti saat tempat pelatih selesai.. "
"Siapa takut. Jangan mengatakan kalau aku tak sopan pada orang tua nanti jika kalah ok paman.. " Ucap Hendrik.
"Kau limapuluh tahun terlalu dini mengatakan itu.. " Ucap paman Benjamin.
"Sudah berhenti.. Jangan ribut seperti anak kecil.. " Ucap Bibi sebelumnya.
"Nona kecil, bawa saudara mu pergi.. Jika tidak mereka berdua bisa berdebat sampai malam nantinya.. "
"Baik Bi.. Kakak berhenti bersikap seperti anak kecil.. Ayo kita masuk kedalam.. " Ucap Hani. Lalu ia menyeret Hendrik pergi dari sana sementara yang lainnya memegangi paman Benjamin..
Mereka berdua benar-benar seperti anak kecil yang suka berkelahi saat itu.. Setelah beberapa saat berjalan akhirnya mereka sampai di tempat tinggal Bagas.
Jalanya tak terlalu jauh sebenarnya, namun itu di buat sedikit memutari ladang. Karena kebetulan Hendrik dan Hani turun di bagian belakang bangunan tempat tinggal Bagas bukan lewat depan.
"Rumahnya terlihat sederhana tapi rapih.. " Ucap Hani.
"Ya.. Sepertinya Bagas tak terlalu menyukai hal-hal mencolok.. Kalau tidak kenapa juga ia membuat rumah dan bangunan di tengah-tengah pepohonan seperti ini..?? " Ucap Hendrik.
"Bangunan ini adalah bangunan tempat tinggal, di depan sana adalah kantor dan tempat pelatihan..
Lalu di samping ada tempat pembongkaran material monster.. "
"Bagas juga menyimpan Coret dan beberapa material penting dari monster di ruang bawah tanah..
"Emm aku mengerti.. " Jawab Hani.
"Mari masuk. " Ucap Hendrik.
Lalu ke duanya masuk ke dalam dan Hendrik memimpin Hani.
Di dalamnya sangat sederhana, hanya ada ruangan luas tempat tamu dan duduk melihat televisi..
Di belakang terlihat tempat makan dan dapur sepertinya di sana juga. Lalu ada tiga kamar di sama dan terlihat di atas juga sepertinya ada tiga kamar pikir Hani..
"Wahh..!! Pizza..!!" Teriak Hendrik saat melihat Bagas sedang memakan pizza sambil menonton televisi..
Ia langsung duduk di sana dan hendak mengambil sepotong pizza dan memakannya tanpa basa-basi.
Namun Bagas memukul tangannya untuk menghentikan Hendrik mengambil pizza itu.
"Ougghhh..!! "Teriak Hendrik
"Cuci tanganmu dulu sebelum makan..! Kau baru saja kemabli dari luar dan main makan saja.. " Ucap Bagas..
"Tangan ku bersih lihat..! " Ucap Hendrik.
"Sudah sana cuci tanganmu dulu atau apakah kau ingin aku akan memotong tanganmu dan membiarkan tanganmu tumbuh baru kau makan..?? "Ucap Bagas.
"Hei jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu di depan makanan, itu tak baik kau tau.. " Ucap Hendrik.
"Kalau begitu cepat cuci tangan mu. "Ucap Bagas.
" Baiklah.. Baiklah.. "Ucap Hendrik lalu ia berjalan ke belakang untuk mencuci tangannya..
" Hani.. Anggap saja seperti rumah sendiri, tak perlu sungkan.. Aku akan mencuci tangan dulu.. "
Hani hanya diam memelototi Hendrik saat melihat ia sama sekali tak ada sopan santun nya di rumah orang lain.
" Oh.. Hani, kau sudah datang..?? Apa kau sudah baikan sekarang..?? "Tanya Bagas.
" Emm.. Dokter mengatakan kalau aku sudah sembuh sepenuhnya, jadi mereka sudah membiarkan ku keluar rumah sakit.. "Ucap Hani.
" Itu bagus... "Ucap Bagas.
" Apa kau mau pizza..?? Maaf tapi tak ada makanan saat ini, Hana masih latihan sekarang jadi hanya ada pizza saja.. "
"Terima kasih, tapi aku masih kenyang.. " Ucap Hani..
"Tak perlu kaki seperti itu.. Walaupun Hendrik menyebalkan, tapi apa yang ia katakan itu benar.. Anggap saja rumah sendiri tak perlu sungkan.. " Ucap Bagas.
"Emm.. Aku akan mencobanya.. " Jawab Hani.
Bagas tau Hani masih malu dan sedikit belum terbiasa, tak seperti Hendrik yang tak ada basa basi nya, ia langsung bisa beradaptasi seperti di rumah sendiri begitu sampai di sini.
Karena biasanya Hani selalu ceria dan tegas terhadap Bagas dan Hendrik jika keduanya melakukan hal salah atau sesuatu yang aneh.
"Kakak Bagas, ada yang ingin aku tanyakan.. " Ucap Hani.
"Silakan tanya apa saja.. Selama itu bukan hal yang merepotkan, aku akan menjawabnya.. " Ucap Bagas sambil memakan Pizza.
"Oh.. Jangan habiskan. Aku belum makan juga.. !! " Teriak Hendrik yang baru saja selesai cuci tangan.
"Begini.. Bisakah aku juga belajar menyerap Origin sekarang..?? " Tanya Hani.
"Apakah kau punya alasan untuk bertanya seperti itu..?? " Ucap Bagas
Di sana Hani langsung mulai mengucapkan permintaannya agar bisa berlatih juga, dan ia juga mengungkapkan tujuannya yang sebenarnya..
"Itu tak masalah, namun keberhasilannya apakah kau berhasil atau gagal itu tergantung keberuntungan mu sendiri..
Aku tak bisa mengaturnya.. " Ucap Bagas.
Bagas tak pelit dan menyetujui permintaan Hani, ia segera memberikan cara latihan meditasi untuk Hani pelajari..
"Terima kasih.. Aku akan berusaha.. " Ucap Hani.
"Tak perlu buru-buru, santai saja..
Di bawah tanah banyak Core dan material yang mengandung Origin, jadi aku pikir akan lebih mudah bagimu untuk mencoba menyerapnya.. "Ucap Bagas.
" Pilih saja salah satu kamar di rumah ini, selain kamar tengah dan sampingnya di atas dan kamar itu.. Yang lainnya masih kosong, kau bisa menempatinya sesuka mu.. "
"Oh benar, sebelum kau berhasil menyerap origin, jangan pernah berfikir untuk masuk ke ruang bawah tanah..
Bukan aku melarang karena ada benda berharga atau apa.. Namun karena aku tak ingin kau jatuh sakit jika terlalu dekat.. "
Bagas menekankan agar Hani tidak masuk ke ruang bawah tanah sebelum benar-benar bisa menyerap Origin. Karena di sana banyak material yang mengandung origin, jadi jika Hani ke sana kemungkinan ia hanya akan sakit lagi..
Di ruang bawah adalah tempat Bagas menyimpan Core dan beberapa benda lainnya yang masih menyimpan origin yang ia dapatkan dari Dungeon atau pelelangan..
Hal itu Bagas taruh karena Bagas bermaksud membuat rumah ini agar memiliki lebih banyak origin yang akan terus berputar di sana.
"Emm.. Aku mengerti.. " Jawab Hani.
.
.
. __________\=Skip\=_________.
Dalam lima hari selanjutnya semua berjalan normal dan tak ada kejadian apapun untuk Bagas dan yang lainnya..
Hani masih berlatih dengan giat sementara yang lainnya juga sibuk dengan urusan masing-masing..
Hendrik masih berlatih tempur dengan Hana setiap saatnya sementara Bagas selain berlatih ia juga menyiapkan semua dokumen pendukung lainnya untuk syarat pembentukan Guild Gagak hitam miliknya..
Karena hari ini adalah hari yang di janjikan untuk menyelesaikan urusan Guild, jadi Bagas kembali pergi ke gedung Asosiasi Oruscial Forces sendirian..
Ia tak membawa yang lainnya karena itu tak perlu kali ini, cukup ia sendiri yang datang ke sana..
Dan sesampainya di depan gedung, ia melihat seseorang yang ia kenal di kejauhan..
"David..?? " Gumam Bagas.
.
.
. Bersambung.