
...Aku bisa melupakan kejahatanmu padaku, ...
...tapi aku tak mampu menghilangkan kecewa yang begitu menancap dalam hati....
...Aku bisa bertahan tanpa sedikitpun cinta darimu, tapi aku tak mampu jika kamu mencintai orang lain......
...Aku butuh bimbinganmu,...
...Dengan ketulusan hati, juga cinta....
...Aku ingin baik bersamamu....
...~Elfira Marwah...
...****...
"Pokoknya gak mau pulang!"
"Lah, terus lo mau kemana? Ke rumah Ibu lo, mau?" Kevin pagi ini cukup dibuat bingung oleh sahabat lamanya.
"Jangan lah! Nanti dia tau kalo gue lagi ada masalah!"
Akhirnya, sebuah ide pun melintas di pikiran Kevin. Dia berniat untuk mengajak Fira ke kedai es krim kesukaannya dulu. Segera Kevin menturuh Fira untuk naik ke motornya, tanpa memberi tahu kemana arah tujuannya pada Fira. Mereka menikmati perjalanan yang sejuk dingin, pagi itu. Jalanan masih belum terlalu ramai, matahari pun masih malu-malu untuk menampakan dirinya. Fira kini bisa tersenyum, setelah sekitar setengah jam yang lalu syok berat atas apa yang telah ia lakukan untuk membantu gadis itu. Yang lebih miris, suaminya meninggalkannya sendiri di pinggir jalan. Sungguh saat itu hatinya benar-benar terluka.
Namun siapa yang menyangka, seorang sahabat justru mendatanginya, tepat ketika jiwanya terasa menyakitkan. Ibaratkan sahabat itu mengobati luka batinnya.
Tangan Fira memegang erat jaket Kevin saat itu, kemudian tangannya terasa sedikit sakit. Saat dilihat, tangannya cukup terluka karena ia menonjok aspal tadi. Fira baru merasa sakit saat itu. "Sakit banget!"
Terdengar lirih oleh Kevin yang saat itu tengah fokus mengendarai motor. "Mau ke rumah sakit, Fir?"
"Hah? Rumah sakit? Lo mau gue ketemu sama suami gue? Nggak! Jangan sampe itu terjadi!"
Akhirnya Kevin memilih untuk diam dan memberi Fira kesempatan untuk memutuskan apapun yang ia mau sendiri. Sudah dari dulu memang Kevin selalu mengalah. Karena dia pikir, jika dengan tidak mengalah, maka hanya akan menimbulkan konflik. Padahal semulanya baik-baik saja.
Sampailah mereka di depan Kedai Es krim yang ternyata tutup. Hari ini toko-toko banyak yang tutup, mungkin hanya toko kelontongan saja yang buka. Kevin dibuat bingung oleh hal itu, padahal hari ini bukan hari libur.
"Lo mau ajak ke kedai es krim? Please deh, Vin, ini bulan puasa. Orang yang jualan pada menghormati bulan luar biasa ini! Lo masih gak puasa sampe sekarang?"
Kevin menyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Niatnya cuma mau ngehibur lo, Fit. Abis, gue tau lo suka banget sama es krim, apalagi rasa coklat."
Fira terkekeh pelan. "Gue ngerti, Kevin. Tapi asal lo tau, lo dateng ke gue pun udah cukup ngehibur. Setidaknya hati gue gak sesakit tadi. Makasih banyak ya, Kevin. Lo emang sahabat terbaik gue!"
Kevin tersenyum miris mendengar perkataan Fira. Yang ia mau lebih dari sahabat, tapi apa boleh buat? Dengan menjadi sahabat Fira pun sudah cukup membuatnya nyaman, walau batin tersiksa menahan sesak menyadari kenyataan, bahwa Fira tak mungkin menjadi miliknya. Sampai kapanpun.
Akhirnya, Kevinpun mengajak Fira untuk jalan-jalan saja mengelilingi kota hingga magrib tiba. Fira menikmati perjalanan itu. Walaupun sempat mogok karena kehabisan bensin, tapi ia masih bisa tertawa karena lawakan Kevin selama mendorong motor menuju pom bensin.
Merekapun mengakhiri sore di kedai es krim yang tadi pagi tutup. Melihat Fira berbuka puasa, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Kevin. Ia menatap Fira sambil tersenyum dan bergumam, "Selamat berbuka, Fira!"
"Anter gue pulang ya, Vin!" Pinta Fira setelah menghabiskan es krim coklatnya.
"Beneran, mau pulang?" Kevin meyakinkan Fira.
"Iya. Gue gak terlalu ambil hati kok, karena gue emang udah tau, kalo dia gak cinta. Makasih udah bantu gue bangkit dari kesedihan ini."
Kevin hanya tersenyum dan segera bangkit untuk memenuhi keinginan sahabatnya yang ingin pulang itu.
Sebenarnya, Kevin tak suka dengan cara Fahmi memperlakukan Fira. Sangat tak berperasaan, pikirnya. Bisa saja Kevin menghajar Fahmi karena perlakuan tak seharusnya itu, tapi di sisi lain dia pun tak ada hak untuk mencampuri urusan mereka.
Tanpa sepatah kata pun yang tercipta selama di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di rumah Fira. Fira tentu sangat berterima kasih pada Kevin. Hingga Kevinpun pulang dan tak terlihat lagi wujudnya.
Huft...
Fira menghembuskan nafasnya kasar. Ternyata pintu rumah masih terkunci rapat. Dia lupa, kunci rumah dipegang oleh Fahmi. Mungkin tak lama lagi ia akan pulang.
Setelah menunggu cukup lama, mobil Fahmi pun muncul dan menyalakan klakson dengan keras. Fira mengerti, itu tandanya ia harus membuka pagar rumah.
"Cepetan dong bukanya!" Teriak Fahmi yang sempat membuat Fira kesal bukan main.
***
Fira segera masuk ke dalam rumah dan lantas membersihkan dirinya. Dia tak ingin mengingat-ngingat kejadian tadi.
Tersengar suara ketukan pintu dari kamar sebelah. Di rumah ini hanya berdua, siapa lagi yang mengetuk pintu kamar Fira jika bukan Fahmi? Walau awalnya tak percaya, tapi Fira putuskan untuk membukanya.
"Ada apa?" Tanya Fira dengan nada seperti biasanya. Tak ada nada dan ekspresi yang memperlihatkan rasa marah dan sedih yang ia rasakan tadi.
"Kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Fahmi dingin.
Fira tersenyum pahit mendengar pertanyaan Fahmi. "Gak usah basa basi, ada apaan?"
"Udah Isya, ayo ke masjid buat Sholat berjamaah dan tarawih," ajak Fahmi.
"Aku cape!"
"Ooh, ya udah. Aku ke masjid dulu. Asal jangan lupa Isya aja!"
Fahmi pun segera pergi menuju masjid. Entahlah, mangapa saat itu Fira merasa sakit hati kembali. Fahmi tak ada perhatian-perhatiannya. Walaupun berusaha untuk melupakan kejadian menyedihkan tadi, tetap saja masih teringat dan terasa sakitnya. Kalimat terakhir Fahmi tadi menambah kesedihan. Ternyata ia merindukan hari-hari sebelumnya, saat Fahmi selalu mengingatkannya Sholat.
***
"Nama aku Fahmi, nama kamu siapa?" TanyaFahmi setelah mengobati luka di tangan gadis itu.
"Nama aku Halwatunnisa. Tapi panggil Halwa aja. Makasih banyak ya, Kak, udah bantu aku," ucap gadis bernama Halwa itu.
Fahmi seketika ingat kembali nama manis semanis orangnya itu. Dulu, ketika SD. Sepertinya ia memiliki adik bernama Halwa.
"Kak, tadi itu siapanya Kakak? Tadi Kakak meninggalkan seorang perempuan," ucap Halwa.
"Ooh, itu... Dia itu... Sodara aku."
Entah dari kapan Fahmi mulai berbohong kembali, matanya sudah terjebak oleh Halwa. Hingga hatinyapun mulai terpikat.
"Ooh. Sodara Kakak cantik dan hebat, ya!"
"Halwa Kakak antar pulang ya?" Tawar Fahmi yang merasa masih terlihat khawatir.
Halwa hanya mengangguk setuju. Ia pun diantar pulang oleh Fahmi. Selama di perjalanan mereka membicarakan cukup banyak hal, sampai tak terasa, bahwa mereka sudah sampai di depan rumah Halwa.
"Makasih banyak ya, Kak. Kak Fahmi baik banget sama Halwa. Kapanpun Kakak boleh ke rumah, sekalian kenalan juga sama orang tua Halwa. Pasti mereka seneng, bisa ketemu sama orang baik kaya Kakak."
"Sama-sama. InsyaaAllah, ya, Halwa. Semoga kita masih bisa ketemu."
Halwapun turun dari mobilnya. Terlihat senyuman manis terlukis di bibir Halwa, membuat Fahmi sulit untuk mengatur degupan jantungnya yang cepat dan tak teratur.
Selama perjalanan, tak henti Fahmi memikirkan Halwa. Senyum manisnya, ekspresi lucunya, juga ucapannya yang tak sedikit kembali mengingatkan Fahmi.
"Halwa selalu berharap mendapatkan seseorang yang baik. Yang bisa ajarin dan bimbing Halwa untuk terus berada di dalam koridor kebaikan."
Jika saat itu juga Fahmi harus jatuh cinta pada Halwa, maka apakah cinta Fira yang belum usai, rela ia telantarkan?
Semudah itukah mencintai orang lain? Sedangkan orang yang sudah halal tak mampu ia cintai!
...Aku bisa melupakan kejahatanmu padaku, ...
...tapi aku tak mampu menghilangkan kecewa yang begitu menancap dalam hati....
...Aku bisa bertahan tanpa sedikitpun cinta darimu, tapi aku tak mampu jika kamu mencintai orang lain......
...Aku butuh bimbinganmu,...
...Dengan ketulusan hati, juga cinta....
...Aku ingin baik bersamamu....
...~Elfira Marwah...
***
Cerita ini masih peoses pengumpulan pembaca sepertinya, hehe. Tapi aku udah kenal sama yang aktif vote dan comment. Terima kasih banyak:)
TBC.