
"...Apa enak, hidup di dalam sebuah rumah tangga tanpa cinta sedikitpun? Masa sampe tua nanti kita hidup tanpa cinta?"
Malam terasa begitu panjang bagi 2 insan yang sudah satu bulan lebih hidup bersama di dalam bahtera rumah tangga tanpa cinta itu. Sepanjang malam mereka habiskan untuk saling diam. Tak ada kata diantara keduanya. Mereka hanya diam di dalam keheningan malam. Walau sesekali suara jangkrik dari luar dan cicak memecah keheningan.
Posisi mereka masih sama seperti posisi awal, yaitu saling membelakangi. Keduanya mengutamakan ego masing-masing. Yang satu masih dalam isakan tangisnya, yang satu berfikir keras agar bisa mengobati luka yang sempat ia toreh di hati istrinya.
Fahmi bingung harus melakukan apa saat itu. Fahmi yang dulu jago merayu wanita, justru kali ini bingung saat berduaan dengan istri sendiri. Entahlah, semenjak ia taubat dari bermain wanita, rasanya saat itu pula ingin istirahat.
Fahmi berdeham. "Emm, Fira...," panggilnya lirih saat itu.
Tak ada sahutan dari Fira.
"Fir... Udah tidur, ya?"
Fahmi membalikkan badan, dan mendapati istrinya tertidur nyenyak. Meski ia menolak untuk peduli, tapi tetap saja hatinya merasa tak enak pada Fira. Fahmi merasa telah mengecewakan orang tuanya karena belum bisa menerima Fira. Apa saat ini adalah saatnya? Untuk mulai mencintai Fira?
Waktu telah menunjukan pukul 3 dini hari. Fahmi masih terjaga, belum bisa tidur sama sekali. Fira tidur sekitar tengah malam, tepat pukul 12 malam. Satu hal yang Fahmi ketahui bahwa Fira memang takut jika tengah malam tiba. Lucunya, Fira takut hantu.
Dulu saja, Fira sampai memaksa Fahmi untuk membuka pintu yang memisah antara ruang tidurnya dengan ruang tidur Fahmi.
"Pintunya jangan ditutup dulu sampai aku tidur, ya." Masih ingat sekali saat Fira mengatakan itu. Terkadang sesekali membuat Fahmi tertawa dalam diam.
"Fir, Fira!" Fahmi menepuk pelan pundak Fira yang sedang tertidur pulas. Ia tau, Fira yang hobi tidur itu akan sulit untuk bangun. Dan dia yakin bahwa Fira tak akan bangun.
Fira menggeliat kecil sehingga membuat Fahmi terkejut. Terdengar isakan pelan dari Fira.
"Jam berapa?" Tanya Fira yang lantas bangkit dari tidurnya. Matanya terasa sedikit berat untuk dibuka. Efek semalaman menangis, membuat matanya bengak dan merah.
"Jam 3. Mau tahajud?" Tanya Fahmi lembut, tidak seperti biasanya. Maklumlah, Fahmi sedang berusaha menenangkan hati Fira yang sempat sakit olehnya.
Fira menoleh ke arah Fahmi, menatapnya dengan tatapan sendu. "Mau imamin aku, gak?" Tanyanya.
Fahmi tersenyum manis. Lebih manis dari biasanya, membuat hati Fira seketika meleleh. "Tentu saja. Aku kan, emang imam buat kamu."
Fira terpaku mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Fahmi. Seakan-akan ia tak pernah merasa bahagia selain hari ini. Fira tersenyum.
"Ayo wudu! Aku tau kok, aku ganteng. Biasa aja dong liatinnya."
Seketika Fira langsung membuang muka dan cemberut. Baru saja hatinya dibuat terbang, tiba-tiba dibuat jatuh seketika. Melihat wajah lucu istrinya, Fahmi terbahak dan segera meraih wajah Sang Istri agar kembali menatapnya. Ini pertama kali Fahmi melakukannya. Terakhir ia menyentuh wajah Fira ketika acara pernikahan.
"Aku bercanda. Nih, silahkan sepuasnya kamu tatap wajah ganteng aku."
Sontak saja Fira terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Tangan Fahmi masih memaksa wajah Fira untuk tetap menatapnya.
"Ganteng, kan, ya?" Fahmi menaik turunkan kedua alisnya.
Fira memalingkan wajahnya dan berekspresi seolah ingin muntah.
"Alah so-so'an pengen muntah. Bilang aja aku ganteng, gengsi amat, sih! Huh, dasar jelek!" Ledek Fahmi saat memperhatikan wajah Fira yang masih kusut bekas tangisan semalam.
"Makannya, jadi suami itu urusin istrinya. Saangin, istrinya, biar cantik. Jangan dibikin nangis makannya!"
Seolah itu adalah tamparan bagi Fahmi. Tapi, Fahmi berusaha menenangkan diri dan tetap bersikap biasa saja. Jujur saja, Fahmi gengsi jika harus mengakui kesalahannya malam itu. Ia juga berusaha sebisa mungkin membuat Fira lupa bahwa ia telah menyakiti hatinya.
"Yang ada itu istri yang ngurusin suami!" Balas Fahmi.
Fira yang tampak kesal saat itu melempar bantal ke wajah Fahmi. Dengan gemas, Fahmi mencoba untuk membalas. Belum sempat Fahmi melempar bantal yang tadi Fira lempar padanya, Fira sudah lebih dulu mundur dan akhirnya terjatuh dari ranjang. Dengan puas hati, Fahmi menertawakannya.
"Ahahaha, makannya, jangan durhaka sama suami!" Tawa Fahmi semakin pecah.
"Aduh, sakit tau!" Kali ini nada suara Fira terdengar lirih.
Fahmi segera menghampiri Fira di bawah dan berusaha memberdirikan badan Fira. "Ayo, bangun!" Dengan cekatan Fahmi mendudukan Fira di atas ranjang dan lantas duduk di sampingnya.
"Gapapa, kan?" Tanya Fahmi.
Fira menggelengkan kepala. "Gapapa. Kenapa kamu bantuin aku berdiri?"
"Ya tanggung jawab lah. Kamu itu tanggung jawab aku. Apalagi aku yang bikin kamu jatoh. Dan kalo ada orang yang berani jahatin kamu, dia berhak berlawanan sama aku. Ketika ijab kabul, ayah kamu udah nyerahin tanggung jawabnya pada aku."
Lagi, Fira dibuat meleleh oleh perkataan Fahmi. Sepertinya, perkataan tadi dari hati Fahmi yang paling dalam. Fira menatap Fahmi yang saat itu menatapnya juga. Ibarat ada aliran cinta yang terhubung dari tatapan mereka. Membuat aliran itu merambat ke dalam hati keduanya. Kali ini Fahmi tidak menolak. Ia berusaha membiarkan cinta itu bersinar di hatinya.
Fira tersenyum, membuat Fahmi juga ikut tersenyum. "Nah, kan, kalo kamu senyum kita jadi cocok."
"Cocok gimana?"
"Kamunya jadi cantik dan akunya emang udah ganteng dari dulu!"
Fira mendelikkan matanya malas, saat mendengar kepedean suaminya itu.
Fahmi mendekatkan diri dan merangkul pundak Fira. Dengan pelan Fahmi berbisik, "Diizinin kan, aku rangkul kamu?"
Fira membeku dan mengangguk kaku. Hatinya dibuat marathon, terlebih saat Fahmi menidurkan kepala Fira di pundaknya.
"Aku emang gak pernah cinta sama kamu. Tapi mulai sekarang aku bakal belajar mencintai kamu. Rumah tangga tanpa cinta itu ternyata gak enak. Maafin aku, ya?"
Fira mengangguk.
"Yu, sholat Dhuha!" Ajak Fahmi yang lantas melepas rangkulannya.
Plak!
Tamparan kecil mendarat di pipi Fira. Lebih tepatnya, Fira sendiri yang menampar pipinya. Sambil mengusap-ngusap matanya, Fira berkata, "Ini mimpi bukan? Bangun Fira, bangun!" Ucap Fira.
"Mimpi apaan, sih?" Fahmi meraih tangan Fira sambil mengelusnya. Fira kembali membeku. Telapak tangan dan telapak kakinya tiba-tiba berkeringat dingin.
"Enggak mimpi, kok. Ayo wudu!" Fahmi menarik tangan Fira agar bangkit dan mengikutinya untuk berwudu.
"Kok tadi kamu ngajak sholat dhuha sih? Shubuh aja belum, masa ngajak sholat dhuha? Pasti ini mimpi!"
Tentu saja, karena Fira tak percaya jika suaminya secepat ini bersikap baik dan manis. Lagi-lagi Fira menampar pipinya dengan tangan yang satunya. Aksinya terhenti saat Fahmi menahan tangannya agar tidak menampar lagi. "Kamu ini apa-apaan, sih? Ini bukan mimpi! Ayo wudu, nanti waktu tahajudnya kelewat, loh!"
"Tapi tadi ngajak sholat dhuha."
Fahmi tertawa. "Ahaha, aku lupa."
Merekapun berwudu secara bergantian dan segera melaksanakan tahajud berjamaah. Dengan khusyuk, Fahmi mengimami makmumnya. Biasanya, mereka sholat tahajud masing-masing dan di ruangan masing-masing. Bahkan tak jarang, tahajud Fahmi terlewat hanya gara-gara membangunkan Fira yang susah.
Di akhir shalat, mereka berdoa dan larut di dalam doanya masing-masing, walaupun doa dan harapan mereka adalah sama. Yaitu berharap tumbuhnya cinta di dalam rumah tangga mereka.
"Yang..."
Seketika menjadi hening. Fira agak ragu jika menyatakan bahwa Fahmi memanggilnya dengan kata sayang.
"Yang tadi aku doain itu buat kita, Fir."
Eh, ternyata Fira salah. Ternyata Fahmi bukan memanggilnya dengan kata sayang tapi itu adalah kata hubung yang Fahmi gunakan di awal kalimat. Ah, kecewa!
"Boleh aku bilang sesuatu?" Tanya Fahmi tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, ke arah Fira.
"..." Tak ada jawaban apapun dari Fira.
"Kamu cantik."
Plak!
Kebiasaan baru Fira kali ini ternyata memastikan apakah itu mimpi atau bukan dengan cara menampar dirinya sendiri. Fahmi sontak saja langsung menoleh.
"Eh, eh, bukan mimpi kok!"
***
Entahlah, tiba-tiba mau ngetik cerita nih, hehe. Gimana tuh Fahmi dan Fira nya? Udah dapet belum hehe.
TBC.
Salam,
Saifa Hunafa ❤