
..."Aku emang bukan wanita yang baik. Tapi sebagai seorang istri, aku berhak mendapatkan bimbingan dari dia yang bernama suami."...
***
Dengan perasaan yang begitu hancur, Fira pulang ke rumah Ayah dan Ibunya untuk mencari sumber ketenangan hidupnya. Kemarin-kemarin, mungkin dia bisa bertahan tanpa memberi tahu ibunya. Namun kali ini dia sudah tidak tahan. Fahmi sudah berani menorehkan luka lebih dalam.
Fira jatuh ke dalam pelukan sang Ibu yang sedang duduk di ruang keluarga. Dewi, Ibunya Fira terkejut akan kedatangan Fira yang tiba-tiba itu.
"Aku mau pisah sama Kak Fahmi, Bu!"
Dewi membulatkan matanya tidak percaya. "Loh, kenapa?"
"Fira mohon, Bu, Fira mohon."
"Tapi nggak bisa, Nak," ucap Dewi.
"Kenapa nggak bisa?"
"Dulu, kakek kamu sama kakek Fahmi sudah berjanji akan menikahkan cucu mereka yang keenam. Saat itu kamu masih bayi dan Fahmi sudah berumur empat tahunan."
"Loh, kok, kakek jahat banget sih?"
"Fahmi itu lelaki yang baik, kok, Nak. Bertahanlah."
"Baik dari Hongkong? Tadi aja dia di rumah berduaan sama cewe lain. Baik apanya, Bu?" Fira mulai emosi.
Tiba-tiba, Ayahnya Fira datang dan menyambung pembicaraan di antara mereka. "Ayahpun lihat sendiri, Bu. Kemarin-kemarin, ada seorang gadis yang memberi Fahmi rantang, mungkin berisi makanan. Mereka tampak saling menampilkan senyum. Bukan maksud Ayah membuka aibnya, tapi tidak pahamkah dia, bahwa di rumah ada istrinya?"
"Ini perlu dibicarakan lagi. Ibu takut, keadaan Ayahnya Fahmi semakin memburuk," ucap Dewi.
"Ibu, sebelum keadaan Ayahnya Fahmi memburuk saja hidup Fira sudah hancur dan lebih buruk. Fira nggak bisa ngelanjutin ini semua, titik!"
Lantas Fira pergi ke lantai atas menuju kamarnya. Dia butuh menyendiri dan menenangkan diri sendiri. Di dalam kamar, Fira menangis sejadi-jadinya. Dia baru menyadari, bahwa dia telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Seharusnya dia tidak pernah menerima perjodohan itu.
***
Keesokan harinya, Halwa meminta Fahmi untuk menemuinya di taman kota. Ada hal penting yang hendak dia sampaikan pada Fahmi. Fahmi senang sekaligus berniat untuk meminta maaf atas perilaku Ibunya kemarin.
"Baru kali ini Halwa ketemu dengan orang baik tapi pembohong seperti Kakak!" ucap Halwa penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.
"Maksudnya?"
"Seorang istri mana yang terima dianggap sepupu oleh suaminya sendiri, Kak?"
Fahmi menunduk dalam dan hanya terdiam.
"JAWAB, KAK, JAWAB?" Halwa berteriak dan diakhiri dengan tangisan. Dia sungguh kecewa pada Fahmi.
Fahmi menghadapkan dirinya pada Halwa yang menunduk sambil menangis. "Dengerin, Kakak. Meskipun dia istri Kakak, tapi apa yang pantas Kakak banggakan darinya? Kakak menikah dengan dia aja terpaksa dan tanpa cinta. Kakak pernah berusaha mencintai dan memberi perhatian pada dia, tapi itu percuma. Nggak ada yang menarik untuk disukai dari sosok Fira!"
Dengan sisa tangisnya, Halwa berkata, "Aku nggak mau jadi penghancur rumah tangga orang lain, Kak. Mungkin setelah ini Kakak boleh pergi dan jangan temuin Halwa lagi!"
"Berarti Kakak harus pisah sama Kak Fira, lalu halalkan Halwa! Jangan pernah temuin Halwa lagi, kecuali Kakak sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Kak Fira dan berniat serius ingin menghalalkan Halwa!"
Setelah itu Halwa pergi meninggalkan Fahmi mematung sendirian di taman kota. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras. "Aaargghh!"
Fahmi menendang botol bekas yang menghalangi langkahnya menuju rumah. Sebuah rumah yang di dalamnya tidak ada Fira lagi. Entahlah, selama seharian penuh Fira belum pulang juga. Namun Fahmi tak mempedulikan itu. yang saat ini dia pikirkan adalah, seorang gadis penenang hatinya pergi dan tak ingin bertemu dengannya lagi. Saat itu Fahmi bimbang sendiri. Dia benar-benar serius ingin dengan Halwa, namun bagaimana mungkin juga dia bisa berpisah dengan Fira?
***
Fahmi pulang. Rumahnya saat itu tampak sepi sekali. Masih ingat, saat dulu Fira sering menyanyi tidak jelas. Namun, itu cukup membuat suasana rumah tidak sesepi ini. Saat itu pikiran Fahmi kacau. Dia bingung hendak memutuskan apa.
Hari ini dia ada jadwal dines malam di rumah sakit. Ada seorang pasien yang harus dia tangani malam ini bersama timnya yang lain. Saat sekilas melihat wajah keriput sang pasien, Fahmi tampak terdiam sejenak. Sepertinya dia mengenal pasien tua itu.
Diapun semakin yakin dengan sosok pasien yang tidak asing itu. Pasien itu adalah seorang ustadz yang dulu mengajarinya mengaji. Dulu sekali, saat Fahmi masih duduk di bangku SMP. Masih ingat, dulu dia sering dihukum dan dimarahi karena selalu kabur ketika mengaji. Bukan dendam yang Fahmi rasakan saat ini, namun rindu yang begitu menggebu di dalam hatinya.
Setelah beberapa perawat merapikan tempat pasien itu, Fahmi memberanikan diri untuk masuk ke ruangan. Tidak ada satupun keluarga pasien yang datang. Bahkan kabarnya, pasien ini diantar oleh beberapa warga yang melihatnya tertabrak oleh mobil truk.
Kondisinya saat ini cukup parah. Tubuhnya terbentur sangat keras mengenai bagian depan truk. Hampir saja tubuhnya remuk. Namun, penanganan yang dilakukan Fahmi beserta tim operasi yang lain sangat cepat dan baik, setidaknya itu mengurangi resiko buruk bagi pasien.
Fahmi meratapi wajah pasien tersebut dengan tatapan sendu. Sedih sekali melihat sang guru terbaring lemah di rumah sakit. Wajah sang guru penuh dengan luka yang darahnya sesekali masih mengalir. Dan saat itu, mengalir pulalah air mata Fahmi.
Kiyai, ada banyak sekali ilmu yang Fahmi lupakan. Tapi sedikitpun Fahmi tidak pernah lupa pada Kiyai yang mendidik Fahmi dengan penuh kesabaran, batin Fahmi yang tangisnya semakin menjadi.
Fahmi kemudian tertidur di ruangan tersebut dan melupakan tugasnya di rumah sakit untuk mengurus pasien yang lain. Sampai pukul tiga shubuh tiba, seseorang menepuk pundak Fahmi yang tertidur tepat di samping guru ngajinya itu.
"Bangun! Tahajudlah!" ucapnya.
Karena merasa terganggu, Fahmi akhirnya terbangun sambil menggeliat kecil. Dia masih merasa ngantuk, namun dia paksakan untuk bangun. Fahmi membuka matanya perlahan sebelum akhirnya terbuka sempurna. Yang pertama kali dilihatnya adalah senyuman di bibir sang guru.
"Kiyai? Kiyai sudah bangun?" Fahmi terkesiap, lantas berdiri tegap dan kemudian merundukkan badannya untuk mencium tangan sang guru.
"Alhamdulillah, Nak. Atas kuasa Allah," ucap sang Kiyai sambil menerima Fahmi yang hendak mencium tangannya dengan ramah.
"Kiyai masih inget saya?" Tanya Fahmi dengan mata yang berbinar penuh harap.
Sang Kiyai tampak mengernyitkan dahi dan memicingkan matanya. "Kamu siapa, Nak?"
Seketika Fahmi kecewa. "Ini Fahmi, Kiyai. Murid ngajinya Kiyai dulu. Fahmi yang susah diatur dan selalu dihukum kiyai untuk mengangkut bata dari ujung ke ujung rumah Kiyai."
Sang Kiyai tertawa ringan. "Hehe, tentu saya ingat kamu, Fahmi. Alhamdulillah, senang melihatmu tumbuh menjadi lelaki gagah yang merawat banyak pasien, termasuk merawat gurumu yang lemah ini."
"Ada apa dengan Kiyai ini? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Fahmi khawatir.
"Nanti akan saya ceritakan. Kamu sudah besar, Fahmi. Sudah menikah, Nak?"
Fahmi terdiam.
****
Next, nggak, nih😁