
..."Setidaknya, jika aku gak bisa ngebuat kamu jatuh cinta, aku gak boleh buat kamu marah dan benci." -Elfira Marwah...
...****...
...Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita!...
Tiba-tiba kata-kata Alvin tadi muncul kembali dipikiran Fira. Seolah menguatkan hati yang saat itu tengah menahan tusukan duri yang tajam. Terluka? Tentu terluka. Tapi Fira berusaha menahannya sebisa mungkin.
Fira menghembuskan nafasnya perlahan. Siapa takut? Aku kuat, kok! Aku siap! Ia menyemangati dirinya dalam hati.
"Kak Fira dan Kak Fahmi tinggal berdua di sini?" Pertanyaan polos itu keluar dari mulut Halwa.
Fahmi membulatkan matanya sempurna. Masalahnya, ia belum mempersiapkan segala kebohongan sampai sejauh itu. Berbohong bahwa Fira adalah saudaranya pun ia lakukan secara tidak sengaja.
Haha, rasain! Makan tuh pertanyaan! Batin Fira sambil tersenyum puas.
Fahmi terlihat gugup dan bingung harus menjawab apa. "Eum, yaa. Kan..."
"Hmm, Halwa ngerti kok, Kak. Pasti ada alasannya. Dan sepertinya Halwa pun gak perlu tau," ucap Halwa.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Suara Adzan Maghrib menggema, pertanda bahwa ini sudah waktunya berbuka puasa. Serempak mereka mengucapkan hamdalah sebagai bentuk syukur pada Sang Pemberi Nikmat.
Halwa menyodorkan sebuah toples berisi kurma pada Fahmi. "Nih, Kak. Kurma dulu, dari Umminya Halwa."
Fahmi mengambil tiga butir kurma. Selanjutnya Halwa menawari Fira dan diterima dengan senang hati.
Fira menggigit kurma yang manis itu sambil membatin, manis banget ini kurma. Semanis buka bersama mereka. Fita tersenyum kecut.
Mereka menyelesaikan makan dengan khusyuk. Tak ada sepatah katapun yang terucap selama mereka makan. Hanya dentingan sendok yang mengiringi kebersamaan mereka.
Di sebuah ruangan kecil, mereka melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah setelah selesai berbuka. Fahmi mengimami Fira dan Halwa. Bacaan surat yang Fahmi lantunkan begitu menenangkan hati siapa yang mendengarnya. Fira memang sudah biasa mendengar bacaan Fahmi dan lagi-lagi hatinya tersentuh juga larut dalam bacaan penenang hati itu.
Di sampingnya, Halwa justru sudah meneteskan air mata saat menghayati arti dari ayat yang Fahmi bacakan di rokaat kedua.
"Kullu nafsin dzaiqatul maut. Wa innama tuwaffauna ujurakum yaumal-qiyamati faman zuhziha ani-nari wa udkhilal-jannata faqad faaza. Wa mal hayatuddunya illa mata'ul-ghurur."
Ayat 185 dari surat Ali-Imran itu memiliki arti, "Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Dan sesungguhnya kalian akan dibayar dengan balasan penuh di hari kebangkitan. Maka barangsiapa yang telah dikeluarkan dari api negeraka dan diizinkan untuk masuk surga, sungguh dia sangat beruntung. Dan kehidupan dunia ini tidak lain adalah suatu tipuan." (QS. Ali Imran: 185)
Di akhir sholat, Fira mencium tangan Fahmi tepat di hadapan Halwa. Tentu saja membuat Halwa bingung. Apa yang mereka lakukan ibarat sepasang suami istri, padahal yang Halwa tau mereka bersaudara.
Fira terlihat begitu khidmat mencium tangan Fahmi. Seketika tersadar, Fahmi segera melepas tangannya dari Fira, membuat Fira terkejut. Fahmi kikuk diperhatikan Halwa.
"Hehe, karena aku lebih tua, jadi Fira ini suka cium tangan aku." Fahmi beralasan.
Halwa hanya mengangguk sambil membulatkan mulutnya hingga berbentuk huruf "O".
"Kira-kira, kapan nih, kamu yang salim ke aku?" Tanya Fahmi pada Halwa.
Fira bergidik geli mendengar pertanyaan Fahmi yang menurutnya alay itu.
"Kita gak halal, Kak. Tanpa salim sungguhanpun aku sangat menghargai dan menghormati Kakak. Apalagi Kakak udah nolongin aku," jawab Halwa. "Salim itu akan berlaku jika kita sudah halal, Kak."
Apasih maksud percakapan ini? Tanya Fira bingung di dalam hatinya.
Fahmi terdiam. Melihat sosok Halwa, ia teringat teman SMA yang sering ia bully dulu. Seorang gadis berjilbab yang selalu ia tarik ujung kerudung panjangnya. Tidak lain, karena Fahmi menyukai gadis itu. Walaupun di sisi lain, saat itu Fahmi suka ganti-ganti pacar.
Dua tahun kemudian setelah lulus SMA, Fahmi mendapat kabar bahwa gadis berjilbab itu meninggal, dipanggil Sang Pencipta. Sungguh ngilu hatinha saat mendengar kabar itu. Ia sendiri tak paham, mengapa bisa ia menyukai gadis berjilbab? Sedangkan ia punya pacar yang jauh lebih cantik.
Ternyata, menurutnya pacaran hanya untuk bersenang-senang menghabiskan waktu bersama. Lebih dari itu, ia juga bisa mendapat perhatian lebih, walaupun isi dompet sering ia relakan untuk mentraktir atau membelikan sesuatu untuk sang pacar.
Sungguh, betapa ruginya pacaran!
Fahmi begitu terpukul saat mengetahui kepergian gadis itu. Dan kini, ia menemukan sosok Halwa. Gadis manis yang selalu membuat hatinya terasa lebih tenang.
***
"Kamu harus kuat, Fira. Kamu harus kuat," gumam Fira menyemangati dirinya yang hampir roboh menghadapi Fahmi dan Halwa.
Saat ini ia sedang duduk di atas ranjang. Berusaha menarik nafasnya dalam-dalam dan lantas menghembuskannya perlahan.
Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita!
Kata-kata itu kembali menguatkan hatinya yang rapuh.
Di kamar sebelah, Fahmi memperhatikan Fira yang berada di kamarnya. Pintu yang memisah kedua kamar mereka terbuka, sehingga satu sama lain bisa melihat.
Sangat jelas terlihat jika Fira tengah menguatkan diri. Gerakannya mengelus dada membuat Fahmi terpaku. Fahmi terus memperhatikan Fira. Ada rasa iba saat melihat sang istri yang diyakininya tersakiti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Fahmi benar-benar tak mencintai Fira.
Akhir-akhir ini pikirannya terasa kacau. Walaupun memang selalu kacau jika terus memikirkan bagaimana caranya mencintai Fira.
Akhirnya, Fahmi memasuki kamar Fira. Ia berjalan menghampiri Fira yang tengah memejamkan mata sambil duduk itu dengan perlahan. Ia memutuskan untuk duduk di samping Fira. Dengan sangat hati-hati ia mendudukkan diri.
Fira membuka matanya perlahan lalu menoleh ke arah Fahmi. "Ngapain ke sini?" Tanya Fira.
"Salah ya, nemuin istri sendiri?"
Fira terpaku mendengar pengakuan Fahmi, bahwa ia istrinya. Setidaknya ia masih dianggap istri.
"Kamu gapapa selama pura-pura jadi sepupu aku?"
Pertanyaan bodoh itu membuat Fira ingin mengeluarkan semua sedihnya.
"It's oke! Aku udah kebal kok. Kalo itu bisa buat kamu seneng, silahkan aja!" Ucap Fira sok kuat.
"Kenapa kamu mau-mau aja sih disuruh pura-pura jadi sepupu aku?" Tanya Fahmi.
"Dengerin aku ya, keberadaan aku di sisi kamu sebagai istri aja gak bisa ngebuat kamu jatuh cinta. Kalau aku gak bantu kamu dan menolak jadi sepupu kamu, bisa aja kamu benci dan marah besar. Setidaknya, jika aku gak bisa ngebuat kamu jatuh cinta, aku gak boleh buat kamu marah dan benci."
Fahmi kali ini terdiam. Walaupun ini adalah kesalahan besar? Batin Fahmi.
"Apa yang ngebuat kamu bertahan tanpa cinta aku selama ini?"
"Alvin pernah bilang kemarin-kemarin, menikah itu ibadah paling lama. Taatnya aku sama kamu itu ibadah dan aku gak boleh ngebantah kamu! Selama ini, aku masih menunggu banyak hal sama kamu!"
"Sebelumnya aku mau bilang, aku gak suka kamu nyebut nama Alvin di hadapan aku," ucap Fahmi.
Fira terdiam.
"Oke, kamu nunggu apa?" Lanjut Fahmi.
"Nunggu kamu cinta sama aku, nunggu kamu ngebimbing aku di jalan Allah dan ngajarin aku bagaimana caranya menjadi seseorang yang baik dan dicintai Sang Pencipta. "
Kali ini Fahmi membeku.
***
Mungkin bakal kesel ke Fahmi, yaps begitupun author yang nulisnya😂
Salam,
Saifa Hunafa.