Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 78


Masa lalu tak perlu di ungkit lagi, begitupun Ririn yang sudah berkompromi dengan kenangan di masa lalu. Baginya semua sudah terselesaikan, kehamilan dari anak semata wayangnya akan memberikannya status baru. 


Indahnya pemandangan di taman bunga yang dia rawat seorang diri, peluh membasahi tubuh menyehatkan badan. 


Dia tersenyum melihat hasil kesabarannya, menuai apa yang telah di tanam.


Ririn mengalihkan perhatiannya, melihat mobil berwarna hitam yang sangat di kenalinya. Seorang pria tampan walau usianya tak muda lagi, datang menghampiri membuatnya menyerngitkan dahi. 


"Anton?" 


"Bagaimana kabarmu? Lama tak berjumpa kau semakin cantik," Anton mengulum senyum saat wanita itu masih memberikan jarak di antara mereka. 


"Aku baik, dan kau?" 


"Seperti yang terlihat." Anton duduk di sebelah Ririn dan menatap taman bunga yang memanjakan mata, dia tersenyum sedih mengingat akan memilih kesehatan mental Clarissa. 


"Tumben kau datang kemari." Singgung Ririn penasaran, menoleh sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. 


"Maaf, karena kedatanganku membuat kehidupanmu dan juga Naura dalam masalah. Tapi aku berjanji, ini yang terakhir kalinya kau melihatku lagi." 


Ririn sedikit terkejut dan menatap pria di sebelahnya. "Kau mau kemana?" 


"Pergi jauh dengan membawa Clarissa." 


Ririn tak menyukai kalimat itu, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Kau ingin pergi meninggalkan putrimu yang lainnya?" ujarnya sedih. 


"Aku harus melakukan itu, dia belum bisa menerimaku seutuhnya dan aku juga telah gagal memenangkan hatimu. Tidak ada yang tersisa di sini, demi kebaikan semua orang." Jelas Anton menyesakkan dada. 


Ririn mengerti tapi juga sedih, apa dia mencintai pria itu tanpa di sadari olehnya? Ataukah Naura yang menjadi jembatan? Dia tidak tahu jawabannya, dan yang pasti perpisahan itu teramat menyesakkan. 


"Aku hanya menyampaikan itu, jaga dirimu baik-baik." Anton beranjak dari duduknya dan melangkah. "Ya Tuhan, ini sangatlah menyakitkan." Batinnya berharap langkahnya di cegat agar mempunyai alasan yang kuat tetap tinggal. 


Ririn berdiri menatap punggung pria itu. "Bisakah kau tetap di sini?" 


Langkah Anton terhenti, sedikit kebahagiaan dan sebuah harapan. Dia menoleh dan melihat wanita yang sangat dia cintai bahkan pernah melakukan hal gila untuk meraihnya. "Aku tidak mempunyai alasan apapun." 


Ririn meneteskan air mata atas perpisahan itu, dia berlari memeluk Anton dan menerima cinta dari pria itu. "Jangan pergi! Maaf, aku terlambat menyadari cintamu. Bisakah kau tetap di sini?" 


Yah, itulah keinginan Anton yang langsung tersenyum haru. Awalnya dia pasrah jika sampai berpisah dari wanita yang sangat di cintainya dan juga buah cinta mereka, tapi pernyataan itu terbantahkan. Keduanya saling berpelukan bagai sepasang kekasih saling merindukan. 


"Kau memintaku tetap di sini, sekarang aku memiliki alasan kuat." 


"Terima kasih." 


Anton berniat menikahi Ririn, permasalahannya dengan Clarissa akan di atasi olehnya lebih dulu. 


*


*


Sudah beberapa kali Arya memuntahkan isi perutnya, setiap makanan yang masuk tak di terima dengan baik. Rasa lemas tergambar jelas di wajahnya yang pucat, merasakan sesuatu teramat menyiksanya bahkan terpaksa menunda jadwalnya di hari ini. 


Naura datang membantu suaminya, menghubungi dokter yang sebentar lagi akan tiba. Sementara itu dia memijat pelan tengkuk Arya, kecemasan kali pertama melihatnya. 


"Apa kau salah makan?" tanya Naura cemas. 


Arya menggelengkan kepala, menatap istrinya sekilas dan kembali memuntahkan isi perutnya. 


"Apa dia keracunan?" gumam Naura yang tak tahu kalau Arya mengalami mual karena dirinya tengah hamil. 


Beberapa saat dokter masuk ke dalam kamar setelah meminta izin terlebih dulu, memeriksa Arya membuatnya sedikit penasaran mengenai hasil. 


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" 


"Semuanya baik, tidak ada masalah." 


"Tidak ada masalah bagaimana? Apa kau buta? Lihatlah wajahku yang pucat ini, kau sebenarnya dokter hasil suap yaa." Sela Arya menunduh dokter itu lewat jalur uang.


Mulut dokter itu berkedut saat mendengar hinaan dari Arya, ingin sekali dia menyumpal mulut pria itu dengan cabe rawit setan. "Aku berkata benar, Tuan." Balasnya dengan wajah masam. 


"Ck, aku tidak percaya. Katakan siapa orang dalam yang menerima suap darimu?" selidik Arya menatap tajam, menunjuk wajah dokter itu dan merendahkannya. 


"Sayang, mengapa kau malah mengecamnya?" ujar Naura menengahi.


"Aku di terima sebagai dokter berkat kerja keras juga prestasiku." Jawab dokter itu bangga. 


"Sekali lagi kau berbohong, maka mulutmu itu akan pindah ke belakang." Sela Arya yang ingin mengusir pria berjas putih itu, tapi rasa mual kembali menyerangnya hingga terpaksa lari ke kamar mandi. 


Naura menjadi tidak enak atas sikap suaminya yang kurang ajar. "Maaf atas sikap suamiku, Dok. Kau lihat sendiri, sejak tadi padi dia merasakan mual dan ini kali pertamanya dia begitu." 


"Yah, sepertinya aku memahami ini. Maaf sebelumnya, apa Nona tengah hamil?" 


"Ya, aku hamil muda." 


Dokter itu mengangguk dan tersenyum pada pasiennya. "Apa gejala hamil pernah Nona rasakan, seperti mual di waktu tertentu." 


"Aku hanya ngidam rujak mangga muda, selebihnya tidak merasakan apapun." 


"Sepertinya gejala kehamilan di alami oleh suami Nona, fase itu akan berakhir setelah trimester pertama di lewatkan kurang lebih tiga bulan." Terang dokter. 


"Apa? Kau jangan berbohong." Tukas Arya entah sejak kapan berdiri di belakang Naura. 


Sang dokter sangat jengkel setiap berhadapan dengan Arya, perkataan pedas dan tuduhan membuatnya ingin mencekik leher pria itu. "Tidak semua pasangan mengalaminya, hanya orang-orang tertentu seperti anda Tuan. Jadi, Tuan bisa merasakan yang namanya mual. Bukankah membuatnya berdua, setidaknya Tuan mendapatkan bagian dari fase itu." Jelasnya yang puas melihat wajah Arya semakin kecut.


"Dasar sialan! Pergi kau dari sini!" usir Arya. 


"Bayaranku." 


"Tak tahu malu, kau hanya membuatku kesal dan sekarang meminta bayaran?" ketus Arya yang beberapa hari ini memang sensitif, melepas sendalnya hendak melempar dokter yang di anggap dokter gadungan


Naura segera membayar jasa dokter dan memintanya pergi, menahan tubuh suaminya agar tak lepas kendali. 


"Ck, aku tidak akan memakai jasanya lagi." Umpat kesal Arya. 


Naura menatap tajam sambil bertolak pinggang. "Aku tau ini hormon kehamilan, bukan berarti kau bisa berbuat semau mu." 


"Tapi dokter itu sangat menyebalkan, aku akan menuntutnya nanti." 


"Menuntut atas dasar apa? Jadi kau tidak terima dengan kondisimu ini? Apa yang di katakan dokter itu benar, setidaknya kau merasakan bagaimana ibu hamil dan gejala-gejalanya. Itu adil bukan?" 


"Tapi…aku…hanya." 


"Hanya apa?" ketus Naura membuat nyali Arya menciut. 


"Sayang, kau membentakku." Lirih Arya yang mulai meneteskan air matanya, dia tak bisa di bentak sedikit saja berkat hormon kehamilan yang dapat dia rasakan. 


"Cup…cup…cup, jangan menangis lagi, ok." Ucap Naura memeluk suaminya, namun di dalam hatinya sangat bahagia karena Arya merasakan efek kehamilannya.