Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 25


Tibalah di hari perayaan acara tahunan di kantor, Naura sudah siap dengan gaun pilihannya sendiri dan tak ingin mengenakan gaun yang sudah di pilih oleh Arya, hanya dia yang bisa mengatur kehidupannya dan bukan orang lain.


Terdengar suara pintu yang terbuka membuatnya langsung menoleh dan kembali fokus merias wajahnya dengan polesan make up tipis. 


"Kenapa kau tidak mengenakan gaun pemberianku?" 


"Memangnya kenapa? Aku tidak menyukai style dari gaunmu, aku tampak seperti wanita jal*ng."


"Tidak ada yang berpikiran seperti itu." 


"Aku tidak ingin berdebat, sebaiknya kau ambil gaun itu karena aku tidak akan memakainya." 


"Kau harus memakainya." 


"Jangan mengaturku!" ucap Naura tegas seraya berbalik menatap sang suami. 


"Kau keras kepala." 


"Dan kau si Tuan pemaksa." 


Arya menghela nafas, padahal dia hanya ingin menghidupkan keberadaan Bella di dalam diri Naura. Harapannya semula sirna setelah penolakan dari wanita itu. 


Naura yang sudah selesai berdandan menghampiri Arya dan mengarahkan tatapan tajam penuh penyelidik. "Kau menyembunyikan sesuatu Tuan pemaksa." 


Arya menelan saliva yang seakan tersangkut dj tenggorokan, berusaha memulihkan ekspresinya agar tidak mudah di baca. "Menyembunyikan apa?"


"Sebuah rahasia." 


"Melantur, cepat turun aku menunggumu di bawah!" Arya pergi dari tempat itu untuk menghindari pertanyaan yang akan menjebaknya. Sedangkan Naura melihat kepergian pria itu yang menghilang di balik pintu, dia semakin yakin mengenai firasatnya yang tidak salah. 


Naura menepis perasaan itu dan menggerakkan kedua tungkai kaki keluar dari kamar, berjalan keluar dengan tatapan yang mengarah pada gudang. "Hampir aku melupakan itu, aku akan memeriksanya secepat mungkin." Ucapnya di dalam hati. 


Di bawah sudah ada Amar dan Lili yang tampak serasi dengan jas berwarna hitam dan gaun yang berwarna senada, dengan sengaja memperlihatkan keromantisan mereka. Sedangkan Arya terlihat tampan dengan jas berwarna hitam pekat menyatu dengan penampilannya yang sempurna. 


"Kau selalu cocok memakai apapun." Puji Arya menyambut kedatangan istrinya, senyum di wajah juga mengiringi. 


Di pesta semua orang telah hadir dan berharap dengan acara tahunan berjalan dengan lancar, begitu pula mengenai rencana licik dari Lili. 


Lili datang membawa dua minuman di tangannya, senyuman licik mulai beraksi untuk menghancurkan. Dia menghampiri Naura yang tengah menikmati pesta dan menariknya agar keluar dari orang-orang yang di cap sebagai pengganggu. 


"Ck, ada apa?" 


"Aku melihat jelas bagaimana kau bosan dengan mereka, aku hanya membantumu terlepas dari mereka." Balas Lili enteng. 


"Kau tahu apa? Bahkan berhadapan denganmu jauh membosankan." Ujar Naura membalas. 


Lili tersenyum dan berusaha berbicara sebaik mungkin pada targetnya, dia memberikan segelas minuman dna menawarkannya. "Minumlah, kita harus melupakan sejenak permusuhan ini." 


Naura tampak ragu dan tak ingin mengambilnya minuman itu, perasaan curiga mulai menyelimuti pikirannya. Seketika senyum di wajahnya terlukis dan mengangguk, mengambil minuman itu. 


Lili tersenyum karena sebentar lagi sang target akan terkena jerat, tapi yang tidak dia ketahui saat Naura mengangkat gelas dan mencium sesuatu selain minuman yaitu obat perangsang. 


"Oho, jadi dia mencoba untuk menjebakku? Memutar balikkan keadaan dengan sangat mudah." Ucap Naura di dalam hati sambil tersenyum. "Kau benar, mari kita lupakan permusuhan ini sejenak saja." 


"Hem, bagaimana dengan hubunganmu? Apa kau merasa menyesal aku merebut Amar?" Lili meletakkan minumannya bersebelah di minuman Naura, tanpa sadar hal itu malah memberikan celah. 


Naura melirik gelas itu dan diam-diam menukarnya. "Tidak sama sekali, Arya lebih hebat dari apapun dan yang penting dia suamiku yang kaya raya. Dia mencintaiku dan tidak akan mudah tergoda oleh kucing betina." 


Lili menahan rasa kesalnya demi melancarkan aksi. "Kau begitu yakin dengan suamimu, seharusnya kau belajar setelah aku merebutnya dengan mudah dari mu." 


"Anggap itu sebagai hadiah, tapi kali ini kau tidak akan mendapatkan apapun." Naura tersenyum seraya mengangkat gelas yang berisi minuman, menyunggingkan senyuman. "Bersulang." 


"Bersulang." Balas Lili, keduanya minum dengan niat terselubung. 


Pernah mendengar senjata makan tuan? Ya, hal itu akan terjadi pada Lili. Rencana semula lancar namun siapa sangka Naura dapat mendeteksi sedini mungkin mengurangi kecerobohan. 


"Sangat menakjubkan." Batin Naura tersenyum tipis.